Kembali ke Jelajah Madura

Cerita · Bangkalan

Aeng Mata Ebhu, mata air yang keluar dari tangis seorang ibu

Ia berdoa untuk tujuh keturunan, dan mengira dirinya sudah meminta terlalu sedikit. Sisanya ia habiskan untuk menangis.

Mural bergaya wayang beber yang menceritakan Aeng Mata Ebhu dari kiri ke kanan: Syarifah Ambami berdiri di serambi, ia bertapa sendirian dengan tangan terangkat, cahaya turun kepadanya dan barisan keturunannya berdiri samar di belakangnya, Cakraningrat I berpaling kecewa, ia menangis di bawah matahari dan bulan dalam satu bidang, air matanya mengalir jadi mata air yang turun ke bawah bukit, dan peziarah menimba air di kaki bukit

Aeng mata ebhu artinya air mata ibu. Nama itu bukan kiasan yang dipilih supaya terdengar indah. Di Arosbaya ia nama sebuah tempat, dan di tempat itu memang ada air.

Perempuan yang doanya terkabul

Syarifah Ambami, yang lebih dikenal sebagai Ratu Ibu, istri Cakraningrat I, penguasa Madura barat. Ia disebut keturunan Sunan Giri.

Ia bertapa, dan dalam pertapaannya ia memohon agar keturunannya memerintah Madura. Yang ia minta tujuh keturunan. Permohonan itu dikabulkan.

Kenapa itu jadi masalah

Suaminya kecewa. Bukan karena doanya tidak dikabulkan, tapi justru sebaliknya: karena yang diminta cuma tujuh, padahal yang mengabulkan sanggup memberi lebih.

Mendengar kekecewaan itu, Ratu Ibu merasa bersalah. Ia kembali ke pertapaannya dan menangis, siang dan malam, tanpa berhenti.

Dari titik itulah nama tempatnya lahir. Air matanya disebut tidak berhenti mengalir sampai keluar sebagai mata air di sekitar tempat ia bertapa.

Yang ada di sana sekarang

Pesarean Aer Mata Ebu ada di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan, di atas bukit. Ratu Ibu dimakamkan di situ, dan makam itu berkembang jadi kompleks pemakaman keluarga penguasa Bangkalan.

Yang membuat orang datang sebenarnya dua hal, dan keduanya bisa kamu lihat sendiri:

  • Ukirannya. Nisan-nisan di kompleks itu dipahat dengan sulur, bunga, dan kaligrafi, dan pengerjaannya jauh lebih halus daripada yang kamu duga dari luar.
  • Mata airnya. Airnya disebut tidak pernah kering sekalipun kemaraunya panjang, dan banyak peziarah yang mengambilnya pulang.

Yang kami tidak katakan

Kami tidak mengatakan air di sana punya khasiat, dan kami juga tidak mengatakan sebaliknya. Yang kami tulis cuma apa yang orang ceritakan dan apa yang bisa dilihat.

Yang menurut kami lebih pantas diperhatikan justru bentuk ceritanya. Di hampir semua cerita rakyat, tangisan datang dari kehilangan. Di cerita ini, ia datang dari merasa sudah meminta terlalu sedikit untuk orang lain.

Itu bukan penyesalan yang biasa muncul di cerita raja-raja, dan mungkin itu sebabnya yang dikenang sampai sekarang namanya sebagai ibu, bukan namanya sebagai permaisuri.

Kalau kamu ke sana

Arosbaya di utara kota Bangkalan, sekitar 160 kilometer dari kota Sumenep. Ini tempat ziarah, bukan tempat berfoto, dan hari Kamis malam Jumat jauh lebih ramai daripada hari biasa.

Datang berpakaian sopan, dan kalau kamu tidak yakin harus bagaimana, ikuti saja orang di depanmu.

0811-147-797