Kembali ke Jelajah Madura

Cerita · Sampang

Bangsacara dan Ragapadmi, dua anjing yang membawa kabar dari seberang

Perempuan yang disingkirkan karena sakit, lelaki yang merawatnya sampai sembuh, dan raja yang berubah pikiran setelah itu.

Mural bergaya wayang beber yang menceritakan Bangsacara dan Ragapadmi dari kiri ke kanan: Ragapadmi di istana Raja Bidarba, kulitnya dipenuhi luka dan para tabib menyerah, raja menyerahkannya kepada Bangsacara, ibu Bangsacara memandikannya dengan rebusan daun dan air bunga, keduanya sembuh dan hidup bahagia dengan restu ibunya di pematang sawah, Patih Bangsapati membisiki raja, Bangsacara berlayar ke pulau seberang bersama Si Ceplok dan Si Tanduk, ia dikepung dan ditikam di pantai, kedua anjing menarik kain Ragapadmi, ia mencabut keris dari tubuh suaminya, dan keduanya dimakamkan di Pulau Mandangin di lepas pantai Sampang

Ini cerita rakyat Madura yang paling banyak membuat orang diam di bagian akhirnya. Bukan karena berdarah, tapi karena semua yang terjadi di dalamnya masuk akal.

Permaisuri yang disingkirkan

Raja Bidarba, sebagian penutur menyebutnya Widarba, punya beberapa permaisuri. Yang paling cantik Ragapadmi, dan Ragapadmi jatuh sakit. Kulitnya dipenuhi luka yang tidak sembuh-sembuh.

Segala pengobatan gagal. Akhirnya raja menyerahkan Ragapadmi kepada abdi kepercayaannya, Bangsacara, untuk diperistri. Cara yang sopan untuk membuang orang.

Yang merawatnya justru ibu si abdi

Bangsacara membawanya pulang, dan yang mengurus Ragapadmi sehari-hari ibunya sendiri. Perempuan tua itu memandikannya dengan rebusan dedaunan dan air bunga, berbulan-bulan, tanpa berhenti.

Ragapadmi sembuh, dan bersama sembuhnya kembali pula wajahnya. Bangsacara mencintainya, dan ibunya merestui. Sampai di titik ini ceritanya masih cerita bahagia.

Raja berubah pikiran

Kabar sampai ke keraton, dan raja ingin Ragapadmi kembali. Yang membaca peluang di situ patihnya sendiri, Bangsapati, yang sejak lama iri kepada Bangsacara.

Atas usulnya, raja memberi Bangsacara satu tugas: berburu tiga puluh ekor rusa di pulau seberang, dalam waktu empat hari. Tugas itu terdengar seperti kehormatan. Yang sebenarnya, ia cuma cara memindahkan Bangsacara ke tempat yang jauh dari siapa pun.

Yang terjadi di pulau itu

Bangsapati dan dua orangnya menyeberang mengikutinya. Mereka mengepung Bangsacara dan menikamnya beramai-ramai. Yang sempat ia ucapkan sebelum kehilangan kesadaran nama istrinya.

Dua anjing peliharaannya, Si Ceplok dan Si Tanduk, selamat. Keduanya berlari pulang. Sampai di rumah, keduanya menggigit ujung kain Ragapadmi dan menariknya.

Ragapadmi mengikuti kedua anjing itu menyeberang. Ia menemukan suaminya sudah tidak bernyawa. Ia mencabut keris yang masih menancap di tubuh Bangsacara, dan memakainya untuk dirinya sendiri.

Di mana ceritanya berhenti, dan di mana ia berlanjut

Keduanya ditemukan pedagang yang lewat dan dimakamkan di pulau itu juga. Pulau itu Pulau Mandangin, di lepas pantai Sampang, yang sebagian orang masih menyebutnya Pulau Kambing.

Makamnya jadi tempat orang berziarah, terutama pedagang, dan itu bagian yang menarik: cerita ini tidak berhenti sebagai dongeng. Ia menempel ke satu titik di peta yang bisa kamu datangi dengan perahu dari Sampang.

Kenapa cerita ini bertahan

Tidak ada raksasa di dalamnya, tidak ada pusaka, tidak ada yang terbang. Yang ada cuma kekuasaan yang berubah pikiran, iri hati yang tahu cara menyusun kalimat, dan dua orang yang tidak punya perlindungan apa-apa.

Yang paling diingat orang justru anjingnya. Dalam cerita ini satu-satunya yang setia sampai akhir, selain kedua tokohnya, bukan manusia.

0811-147-797