Kembali ke Jelajah Madura

Cerita · Sumenep

Joko Tole, bayi buangan yang menyambung gerbang Majapahit

Disusui kerbau, dibesarkan pandai besi, lalu menyelesaikan pintu gerbang yang tidak bisa diselesaikan siapa pun dalam setahun.

Mural bergaya wayang beber yang menceritakan Joko Tole dari kiri ke kanan: bayi yang dijaga kerbau putih di hutan, Empu Kelleng dan istrinya mengangkatnya pulang, anak itu tumbuh di antara besi menempa di bengkel Pakandangan, gerbang besi Majapahit yang setahun tidak juga tersambung, ia bersimpuh menyanggupi di depan raja, tubuhnya berselimut api dan cairan putih mengalir menyambung gerbang, gerbang berdiri utuh pagi harinya, ia menangkap kuda liar di alun-alun, dan ia berjalan pulang bersama Dewi Ratnadi yang penglihatannya pulih

Cerita ini sambungan langsung dari Potre Koneng, dan dimulai dari bayi yang ditinggalkan di hutan.

Yang menemukannya bukan manusia lebih dulu

Bayi itu ditemukan di dekat rumah Empu Kelleng, seorang pandai besi di Pakandangan, Kecamatan Bluto. Tapi yang menemukannya lebih dulu, menurut cerita yang paling banyak beredar, kerbau putih milik empu itu. Kerbaunya yang menyusui.

Empu Kelleng dan istrinya membesarkannya. Anak itu dinamai Joko Tole.

Kalau nama Pakandangan terasa familier, memang begitu: kampung yang sama sekarang dikenal sebagai sentra batik tulis Sumenep. Satu kampung, dua kerajinan tangan, dan keduanya soal mengerjakan sesuatu sampai selesai.

Besar di antara besi

Ia tumbuh di bengkel, dan yang ia pelajari sejak kecil mengolah besi jadi pusaka, pisau, dan arit. Di sinilah ceritanya mulai berpindah dari kisah anak buangan jadi kisah orang yang punya keahlian.

Gerbang yang tidak selesai-selesai

Raja Majapahit memerintahkan dibangunnya sebuah pintu gerbang besi. Setahun lewat dan gerbang itu belum juga tersambung. Empu Kelleng ikut di antara para pandai besi yang mengerjakannya, dan ikut gagal.

Joko Tole datang, dan ia menyanggupi menyelesaikannya dalam satu malam. Ia mengajukan taruhan atas dirinya sendiri: kalau gagal, hukum dia.

Permintaannya aneh, dan justru itu inti ceritanya. Ia minta tubuhnya sendiri dibakar. Dari pusarnya keluar cairan putih panas, dan cairan itulah yang dipakai menyambung bagian-bagian gerbang yang tidak mau menyatu.

Pagi harinya gerbang itu berdiri utuh.

Nama yang ia bawa pulang

Raja Majapahit memberinya penghargaan, dan belakangan gelar Kudapanole, yang menurut sebagian penutur datang dari peristiwa lain: ia berhasil menangkap kuda liar yang lepas di alun-alun keraton.

Ia juga dinikahkan dengan Dewi Ratnadi, yang buta. Dalam cerita yang beredar, penglihatan sang istri pulih dalam perjalanan mereka ke Madura, dan tempat-tempat yang mereka lewati mendapat namanya dari kejadian di sepanjang jalan itu: Soca, Banyocellep, Jambu, Banyobanger, Omben, dan Sendang.

Sebagian nama itu masih ada sampai sekarang di peta. Itu ciri cerita rakyat yang sudah lama hidup: ia berhenti jadi hiburan dan mulai jadi cara orang menerangkan nama kampungnya sendiri.

Yang dilebih-lebihkan dan yang tidak

Joko Tole juga tercatat sebagai raja Sumenep dengan gelar Pangeran Saccadiningrat. Jadi ia bukan tokoh yang seluruhnya khayalan; ada lapisan sejarah di bawah ceritanya.

Yang mana lapisan sejarah dan yang mana tambahan, kami tidak bisa memisahkan, dan kami tidak berpura-pura bisa. Kuda terbang bernama Megaremmeng dan pertarungan di udara melawan Dampo Awang jelas bukan catatan administrasi. Bengkel besi di Pakandangan jelas ada.

Bagian tentang pusar yang mengeluarkan patri berada di antara keduanya, dan di situlah cerita rakyat memang paling menarik: ia menjelaskan keahlian seorang pandai besi dengan cara mengatakan bahwa bahannya berasal dari tubuhnya sendiri.

0811-147-797