Cerita · Sumenep
Potre Koneng, putri yang mengandung di dalam mimpinya sendiri
Ia bertapa di Gua Payudan, tertidur, dan bermimpi menikah. Waktu bangun, mimpinya sudah berlanjut tanpa izinnya.
Dari semua cerita rakyat Madura, ini yang paling sulit diceritakan kepada anak kecil tanpa ada yang bertanya balik. Dan pertanyaannya memang wajar.
Putri yang menolak semua lamaran
Raden Ayu Potre Koneng putri tunggal raja Sumenep. Namanya sendiri sudah menerangkan bagaimana orang memandangnya: koneng dalam bahasa Madura artinya kuning, warna yang dipakai untuk kebangsawanan.
Lamaran datang dari beberapa kerajaan dan ia menolak semuanya. Yang ia inginkan seseorang yang tidak mungkin disetujui ayahnya: Adipoday, seorang lelaki yang hidup menyendiri dan bertapa, bukan pangeran dari keraton mana pun.
Bertapa di Gua Payudan
Gua Payudan ada di Guluk-Guluk, dan dalam tradisi Sumenep ia bukan gua biasa. Raja-raja Sumenep bersemedi di situ, dan Potre Koneng ikut ke sana.
Di dalam gua itu ia tertidur, dan dalam tidurnya ia bermimpi menikah dengan Adipoday. Dalam cerita yang dipegang orang Sumenep, apa yang terjadi di mimpi itu terjadi juga di luar mimpi. Sebagian penutur menyebutnya kawin batin, perkawinan yang sah tapi tidak berlangsung di dunia yang bisa dilihat orang lain.
Kami tidak menjelaskan ini lebih jauh, karena penuturnya sendiri tidak menjelaskannya lebih jauh. Yang selalu ditekankan justru sebaliknya: bahwa tidak ada yang bisa dituduhkan kepada perempuan itu.
Yang terjadi sesudahnya
Ia melahirkan seorang bayi laki-laki, dan keraton bukan tempat yang aman untuk bayi itu. Anak tersebut dijauhkan dari istana Banasare, dan di situ jalan hidupnya berpisah dari ibunya.
Bayi itu ditemukan seorang pandai besi, dan sejak titik itu ceritanya jadi cerita lain, yang kami tulis terpisah di Joko Tole. Ia kelak jadi raja Sumenep.
Kenapa cerita ini terasa lebih tua daripada kelihatannya
Perhatikan pola yang sama dengan Raden Segara: perempuan mengandung tanpa laki-laki yang bisa ditunjuk, istana menolaknya, anaknya dibuang, dan anak itu tumbuh jadi tokoh besar.
Dua cerita, dua ujung pulau, satu bentuk. Dalam pembacaan yang paling sederhana, itu cara sebuah keluarga penguasa menjelaskan dari mana wibawanya datang: bukan dari perkawinan politik, melainkan dari sesuatu yang tidak bisa diatur manusia.
Bahwa perempuan dalam kedua cerita itu menanggung tuduhan lebih dulu, dan baru dibenarkan belakangan lewat anaknya, adalah bagian yang jarang dibahas waktu cerita ini diringkas untuk anak sekolah.
Kalau kamu mau ke sana
Gua Payudan ada di Kecamatan Guluk-Guluk, sekitar 30 kilometer barat daya kota Sumenep. Ia masih didatangi peziarah, dan bukan tempat wisata dalam arti ada loket dan papan petunjuk.
Datang sopan, dan jangan keras-keras. Di sana orang sedang mengerjakan hal yang sama dengan yang dikerjakan Potre Koneng.
Lanjut