Ta' langkong

Madura, ditulis dari ujung timurnya.

Ta' langkong itu permisi dalam bahasa Madura, dan begitu cara kami mulai. Kantor kami di Sumenep, dan sebagian besar yang kami tulis memang dari sana. Sisanya dari Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Tiap tulisan menyebut kabupatennya, supaya kamu tahu sejauh apa dan mana yang bisa kami antar.

Makanan

Yang bikin orang sini bilang nyaman.

Nyaman itu enak dalam bahasa Madura. Ini yang dimasak di Madura, dan di kabupaten mana kamu bisa mencarinya.

Makanan · Sumenep Apen, kue beras yang berlubang karena diragikan Tepung beras didiamkan sehari lalu diragikan sampai berbuih. Lubang-lubang di dalamnya hasil ragi itu, bukan cetakan. Baca Makanan · Sumenep Bebek songkem, dikukus dengan daun pisang, tanpa air Namanya dari sungkem, sikap menunduk hormat. Cara memasaknya tidak berubah, dan itu yang bikin dagingnya empuk sampai ke tulang. Baca Makanan · Sumenep Cake, sup merah yang sama sekali bukan kue Sup merah bertabur keripik kentang yang wajib memakai lidah sapi, disajikan sebelum nasi di hajatan Sumenep. Pembuat pertamanya diketahui namanya. Baca Makanan · Sumenep Campor, dan kenapa orang Sumenep keberatan disebut soto Mirip soto sampai sendok pertama. Kuahnya bersantan, dan di dalamnya ada singkong yang dicacah. Baca Makanan · Sumenep Kaldu Kokot, kuah kacang hijau yang dulu disuguhkan di keraton Kikil sapi direbus bareng kacang hijau berbumbu. Namanya kaldu, tapi kaldunya justru bukan dari daging. Baca Makanan · Sumenep Kripik tette, singkong yang dipukul sampai gepeng Namanya menjelaskan cara membuatnya. Tette artinya dipukul, dan memang itu satu-satunya cara membuatnya jadi setipis ini. Baca Makanan · Sumenep Lorjuk, kerang yang harus ditombak satu-satu Kerang pipih sepanjang jari yang sembunyi di lumpur pesisir Madura. Cara memanennya belum berubah, dan itu sebabnya mahal. Baca Makanan · Sumenep Masak Pae, kue kentang yang menggantikan nasi Sepotong pai kentang panggang ditaruh ke dalam kuah merah, dan itu yang dimakan — bukan nasi. Dulu cuma muncul di hajatan. Baca Makanan · Sumenep Nasi jagung, yang benar-benar dimakan tiap hari Bukan menu turis dan bukan makanan perayaan. Ini yang paling sering ada di piring orang Sumenep. Baca Makanan · Bangkalan Nasi Serpang, sepiring lauk yang habis sebelum jam delapan Nasi campur Bangkalan dengan belasan lauk sekaligus, laut dan darat dalam satu piring. Cuma ada pagi, dan jumlahnya dihitung. Baca Makanan · Sumenep Rujak serut, mangga muda yang disiram petis Bukan rujak buah yang manis. Ini serutan mangga muda dengan kuah petis, dan rasanya menabrak dari empat arah sekaligus. Baca Makanan · Pamekasan Sate lalat, yang tidak ada lalatnya sama sekali Sate Pamekasan dengan potongan daging sekecil lalat, dijual per ikat berisi dua puluh lima tusuk. Baca Makanan · Sumenep Sate Madura, dan kenapa dia ada di mana-mana Satu-satunya makanan daerah yang namanya lebih dikenal daripada daerahnya. Ini asal-usulnya, dan apa yang bikin beda. Baca Makanan · Sumenep Soto Madura, kuah bening yang tidak pernah bening Namanya soto, warnanya cokelat gelap, dan rahasianya cuma satu sendok petis. Baca Makanan · Bangkalan Tajin Sobih, bubur tiga warna yang diantar dengan berjalan kaki Bubur manis dari Desa Sobih, Bangkalan. Disajikan di daun pisang, dan penjualnya menggendongnya keliling kampung sejak subuh. Baca

Tempat

Yang bikin kami berhenti di jalan.

Pantai, keraton, gili, sampai bekas tambang kapur, dari ujung timur pulau sampai ujung baratnya. Gili itu sebutan Madura untuk pulau kecil.

Tempat · Sampang Air Terjun Toroan, air tawar yang jatuh langsung ke laut Satu-satunya air terjun di Madura yang muaranya laut lepas. Tingginya cuma sekitar lima meter, dan justru letaknya yang bikin dia ganjil. Baca Tempat · Pamekasan Api Tak Kunjung Padam, nyala yang keluar dari tanah kosong Di Larangan Tokol, Pamekasan, api menyala di permukaan tanah dan tidak pernah benar-benar habis. Hujan deras cuma memadamkannya sebentar. Baca Tempat · Sumenep Asta Tinggi, makam raja yang tembok kapurnya tanpa semen Kompleks pemakaman raja-raja Sumenep di atas bukit barat kota, dibangun bertahap lewat beberapa pemerintahan. Baca Tempat · Bangkalan Bukit Jaddih, tempat wisata yang masih jadi tambang Bukit kapur di Socah, Bangkalan. Tebing putih dan kolam hijaunya bukan bentuk alami, melainkan sisa puluhan tahun pemotongan batu. Baca Tempat · Sumenep Gili Iyang, dan apa yang sebenarnya bikin udaranya enak Dijuluki Pulau Oksigen sejak penelitian 2006. Angkanya tidak seajaib yang beredar, tapi yang kerasa di sana nyata. Baca Tempat · Sumenep Gili Labak, lima hektare yang dihuni 105 orang Pulau pasir putih di tenggara Sumenep, dikelilingi terumbu karang yang jauh lebih luas daripada pulaunya sendiri. Baca Tempat · Sumenep Kalianget, kota tua yang dibangun karena garam Pelabuhan utama Sumenep, bekas kota industri Belanda, dan gedung-gedungnya masih berdiri meski tidak lagi dipakai. Baca Tempat · Sumenep Keraton Sumenep, dan gerbang yang disebut pintu tersenyum Bekas istana raja Sumenep yang dirancang arsitek Tionghoa, dan sekarang jadi museum di tengah kota. Baca Tempat · Sumenep Masjid Jamik, gapura yang dibangun arsitek Tionghoa Masjid raya Sumenep yang umurnya lebih dari dua abad, dan gapuranya menggabungkan empat budaya sekaligus. Baca Tempat · Bangkalan Mercusuar Sembilangan, menara besi yang sudah menyala sejak 1879 Menara besi setinggi 78 meter di ujung barat Madura, dibangun Belanda untuk memandu kapal masuk ke Surabaya. Sampai sekarang belum digantikan. Baca Tempat · Sumenep Pantai Lombang dan cemara yang tumbuh membungkuk Pasir putih di pesisir timur laut, dengan barisan cemara udang yang bentuknya tidak ada di pantai lain. Baca Tempat · Sumenep Pantai Slopeng dan gundukan pasir yang tidak dibuat orang Pantai utara dengan bukit pasir alami di belakang garis ombaknya. Yang paling luas dan paling sepi di Sumenep. Baca Tempat · Sumenep Pasar Anom Baru, tempat semua rute kami dimulai Pasar utama Sumenep, dan titik nol yang dipakai kurir kami menghitung jarak ke mana pun. Baca Tempat · Sumenep Sapeken, bagian Sumenep yang tidak berbahasa Madura Kecamatan paling timur Sumenep, 53 pulau di antara Laut Jawa dan Laut Bali. Orangnya berbahasa Bajo, Mandar, dan Bugis. Baca Tempat · Pamekasan Vihara Avalokitesvara, satu pagar yang memuat empat rumah ibadah Vihara terbesar kedua di Jawa berdiri di Pamekasan, dan di dalam pagarnya ada mushola, gereja, dan pura. Baca

Budaya

Yang masih dikerjakan orangnya.

Kerajinan dan tradisi yang masih hidup, bukan yang sudah jadi pajangan di lemari kaca.

Budaya · Sumenep Batik tulis Sumenep, warna yang diambil dari daun Sentranya di Pakandangan, sekitar 16 kilometer selatan kota. Motifnya bukan laut, dan pewarnanya bukan dari pabrik. Baca Budaya · Bangkalan Batik gentongan Tanjung Bumi, kain yang direndam sampai setahun Batik tulis Bangkalan yang diwarnai di dalam gentong tanah liat. Prosesnya dihitung bulan, dan harganya mengikuti. Baca Budaya · Sumenep Karapan sapi, yang asalnya justru dari cara membajak sawah Balapan sapi paling terkenal di Indonesia bermula dari alat bajak Madura, bukan dari arena lomba. Baca Budaya · Sumenep Aeng Tong-Tong, desa dengan empu keris terbanyak di dunia Satu desa di Kecamatan Saronggi, ratusan empu, dan keahlian yang diwariskan sejak zaman Kerajaan Sumenep. Baca Budaya · Sumenep Muang Sangkal, tarian yang membuang sial Diciptakan 1972 dari kebiasaan keraton, dengan aturan yang tidak pernah dilonggarkan: penarinya harus ganjil. Baca Budaya · Sumenep Nyadar, syukuran petani garam yang digelar tiga kali setahun Upacara petani garam Pinggir Papas untuk leluhur yang mengajari mereka membuat garam. Bukan festival, dan bukan untuk ditonton. Baca Budaya · Madura Perahu Madura, warna di lambungnya yang sebenarnya alat ukur Pita warna-warni di lambung perahu Madura disebut andangan, dari kata andang — pelangi. Ia hiasan, sekaligus penanda batas muatan. Baca Budaya · Madura Rokat Tase', perahu yang didandani untuk dilepas ke laut Selamatan nelayan pesisir Madura. Sesaji dinaikkan ke perahu, dilarung ke tengah, dan sebelum itu ada tahlil dan khataman. Baca Budaya · Sumenep Sapi sonok, kontes kecantikan yang dinilai dari langkah Kebalikan dari karapan. Di sini sepasang sapi betina dinilai bukan karena cepat, tapi karena serasi. Baca Budaya · Sumenep Saronen, musik yang dulunya cara berdakwah di pasar Terompet kayu yang bunyinya melengking, lahir di sebuah desa di Sumenep, dan sampai sekarang jadi suara tiap perayaan Madura. Baca Budaya · Madura Tanean Lanjang, halaman panjang yang diwariskan lewat anak perempuan Deretan rumah menghadap satu halaman, disusun barat ke timur menurut umur. Yang menempatinya keturunan perempuan, dan rumahnya dibangunkan orang tuanya. Baca Budaya · Sumenep Tari Gambu, tarian keris yang dibawakan laki-laki Empat penari, keris, dan perisai kecil berhias cermin. Umurnya dilacak sampai zaman Arya Wiraraja, dan namanya berarti terulang kembali. Baca Budaya · Sumenep Topeng dalang, teater yang penarinya tidak bersuara sama sekali Semua tokoh dibicarakan satu orang yang duduk di tengah panggung. Penarinya bertopeng, dan topengnya sengaja tidak menutup dagu. Baca Budaya · Sumenep Ukir Karduluk, satu desa yang hampir semua rumahnya memahat Desa di Kecamatan Pragaan yang sudah mengukir sejak zaman Kerajaan Sumenep. Keahliannya masih ada; yang mulai habis penerusnya. Baca Budaya · Sumenep Ul-daul, musik sahur yang tumbuh jadi karnaval Berawal dari anak muda memukul kentongan bambu untuk membangunkan orang sahur. Sekarang keretanya setinggi rumah. Baca

Oleh-Oleh

Yang muat di tas.

Makanan di atas dimakan di tempat. Yang di sini bertahan sampai rumah, dan itu dua daftar yang berbeda.

Oleh-Oleh · Sumenep Bawang Rubaru, bawang merah yang airnya paling sedikit Umbi kecil dari satu kecamatan di utara Sumenep. Aromanya kuat, airnya sedikit, dan karena itu ia jadi bawang goreng yang tidak melempem. Baca Oleh-Oleh · Sumenep Cabe jamu, rempah yang dijemur sampai patah Buah merambat dari kebun kering Bluto yang jadi bahan jamu, kopi, dan bumbu. Sesudah dijemur ia bisa disimpan sampai dua tahun. Baca Oleh-Oleh · Madura Emping jagung, makanan pokok yang dipipihkan jadi camilan Jagung direbus, dipipihkan, dijemur, lalu digoreng. Yang ada di piring orang Madura tiap hari, dibawa pulang dalam bentuk yang muat di tas. Baca Oleh-Oleh · Madura Gula siwalan, nira yang dimasak lima jam di dapur rumah Gula cokelat tua dari pohon lontar, bahan di balik jubada dan tegetteh. Di pasar Sumenep ia dijual dalam cetakan besek tanpa kemasan. Baca Oleh-Oleh · Pamekasan Ikan asin Pamekasan, laut yang dijemur di atas bambu Teri dan ikan laut yang dijemur perempuan pesisir di Pegagan dan Branta. Satu-satunya oleh-oleh di daftar ini yang datang langsung dari perahu. Baca Oleh-Oleh · Sumenep Jubada, gula siwalan yang diikat satu per satu Manisan kenyal dari Karduluk, Sumenep. Tiap potongnya diikat tali sendiri, dan itu bukan hiasan. Baca Oleh-Oleh · Sumenep Kacang lorjuk, kacang goreng yang dicampur kerang Kacang tanah digoreng bersama lorjuk kering. Satu-satunya camilan yang rasanya laut dan darat sekaligus. Baca Oleh-Oleh · Sumenep Kerupuk kepang, kerupuk yang datang dari satu pulau kecil Dibuat di Desa Padike, Pulau Talango, seberang Kalianget. Bentuknya tidak pernah sama karena dibentuk tangan. Baca Oleh-Oleh · Sumenep Kerupuk pattola, ikan tenggiri yang dibentuk seperti mi Dibuat di satu desa di jalan antara kota Sumenep dan Kalianget. Bentuknya gulungan mi kecil, dan bahan utamanya ikan. Baca Oleh-Oleh · Pamekasan Kerupuk pe-tampe, kerupuk yang dijepit sebelum digoreng Camilan Pamekasan yang bentuknya seperti bungkusan kecil. Namanya menjelaskan cara membuatnya. Baca Oleh-Oleh · Bangkalan Kerupuk udang Kwanyar, kerupuk yang digoreng pakai pasir Pasir pantai menggantikan minyak, dan itu bukan penghematan. Kerupuk yang tidak berminyak tidak bisa tengik di dalam tas. Baca Oleh-Oleh · Sumenep Maco, kue yang dibalur beras ketan goreng Kue ketan yang dicelup gula aren panas lalu digulingkan ke beras ketan goreng merah dan putih. Renyah di luar, legit di dalam. Baca Oleh-Oleh · Madura Petis Madura, air rebusan yang dimasak lima jam lagi Sisa merebus pindang tidak dibuang, tapi dikentalkan jadi pasta. Ini satu-satunya oleh-oleh Madura yang pulang dalam toples. Baca Oleh-Oleh · Bangkalan Salak Bangkalan, buah kering yang tumbuh di tanah paling kering Rasanya manis tanpa sepat, dan kulitnya tahan dibawa berhari-hari tanpa perlakuan apa pun. Baca Oleh-Oleh · Madura Tegetteh, batangan manis yang dipotong selagi panas Beras atau kacang disatukan gula mendidih lalu ditekan jadi lempeng. Murah, tahan lama, dan ada di hampir tiap warung. Baca

Tokoh

Yang namanya masih dipakai orang.

Raja, pemberontak, kiai, dan penerbang yang lahir di pulau ini. Sebagian namanya sekarang jadi nama jalan, bandara, dan alun-alun, dan sebagian besar orang lewat di sana tiap hari tanpa tahu siapa mereka.

Tokoh · Sumenep Arya Wiraraja, pejabat yang dibuang ke Sumenep lalu ikut mendirikan Majapahit Dipindahkan jauh dari pusat kekuasaan pada 1269, dan dua puluh empat tahun kemudian dialah yang menyusun jalan berdirinya kerajaan terbesar di Nusantara. Baca Tokoh · Sampang Cakraningrat I, orang pertama yang memegang Madura barat sekaligus Ia kalah perang melawan Mataram, lalu dinikahkan dengan putri rajanya dan dipulangkan sebagai penguasa. Sisa hidupnya lebih banyak di Jawa daripada di Madura. Baca Tokoh · Bangkalan Cakraningrat IV, raja Bangkalan yang dibuang ke ujung selatan Afrika Ia merebut kembali keraton Mataram untuk VOC, lalu menagih upahnya, lalu ditolak. Yang ia dapat akhirnya kapal ke Tanjung Harapan. Baca Tokoh · Bangkalan Cakraningrat XII, bupati yang pernah memimpin Negara Madura Tiga puluh tahun ia jadi Bupati Bangkalan. Lalu selama dua tahun Madura jadi negara bagian buatan Belanda dengan dia di kursi teratasnya, sampai demonstrasi rakyat Madura membubarkannya. Baca Tokoh · Sampang Halim Perdanakusuma, anak Sampang yang namanya jadi bandara Jakarta Ia menerbangi empat puluh empat misi pengeboman di langit Eropa sebelum berumur dua puluh tiga, lalu mati di usia dua puluh lima dalam penerbangan menembus blokade Belanda. Baca Tokoh · Sampang Mohammad Noer, gubernur yang mengusulkan Suramadu tiga puluh tahun sebelum dibangun Idenya muncul waktu ia masih wakil bupati di Bangkalan pada 1950-an. Jembatannya baru dibuka 2009, setahun sebelum ia wafat. Baca Tokoh · Pamekasan Mohammad Tabrani, wartawan Pamekasan yang menamai bahasa Indonesia Pada 1926 ia menolak nama bahasa Melayu untuk bahasa persatuan. Dua tahun kemudian Sumpah Pemuda memakai nama yang ia usulkan, dan ia tidak hadir di sana. Baca Tokoh · Sumenep Panembahan Sumolo, raja yang membangun dua bangunan paling terkenal di Sumenep Keraton dan Masjid Jamik dikerjakan pada masanya, oleh arsitek yang sama, dan keduanya masih berdiri. Baca Tokoh · Sumenep Pangeran Katandur, cucu Sunan Kudus yang berdakwah lewat bajak sawah Namanya datang dari kata menanam, dan alat bajak yang ia ajarkan dituding sebagai asal-usul karapan sapi. Baca Tokoh · Sumenep Ratu Tirtonegoro, satu-satunya perempuan yang memerintah Sumenep Ia naik takhta sesudah pemberontakan Ke' Lesap, memilih seorang penyabit rumput dari Lembung jadi suaminya, lalu menulis wasiat yang menentukan siapa raja Sumenep berikutnya. Baca Tokoh · Pamekasan Panembahan Ronggosukowati, raja yang memberi Pamekasan namanya Sebelum dia kota itu bernama Pamelingan. Tanggal ia naik takhta sampai sekarang dipakai sebagai hari jadi Pamekasan. Baca Tokoh · Sumenep Sultan Abdurrahman, raja Sumenep yang jadi rujukan Raffles Ia membantu membaca prasasti yang tidak bisa dibaca orang Inggris, dan namanya masuk ke dalam History of Java. Baca Tokoh · Bangkalan Syaichona Kholil, kiai Bangkalan yang jadi guru para pendiri NU Ia wafat setahun sebelum Nahdlatul Ulama berdiri, tapi hampir semua yang mendirikannya pernah jadi santrinya. Ditetapkan Pahlawan Nasional pada 2025. Baca Tokoh · Bangkalan Trunojoyo, orang Madura yang sempat merebut keraton Mataram Pemberontakannya membuat raja Jawa lari dari istananya sendiri. Empat tahun kemudian ia dibunuh oleh anak raja itu, dengan keris, di depan orang banyak. Baca Tokoh · Sumenep Tumenggung Kanduruan, putra raja Demak yang memulai garis raja Sumenep Ia cuma memerintah tiga tahun, tapi lima belas keturunan sesudahnya yang memegang Sumenep sampai zaman Belanda. Baca
0811-147-797