Tokoh · Sampang
Mohammad Noer, gubernur yang mengusulkan Suramadu tiga puluh tahun sebelum dibangun
Idenya muncul waktu ia masih wakil bupati di Bangkalan pada 1950-an. Jembatannya baru dibuka 2009, setahun sebelum ia wafat.
Tiap kali kamu menyeberang Suramadu, kamu sedang memakai gagasan seorang laki-laki dari Sampang yang mengusulkannya ketika ia masih pejabat kabupaten, dan yang harus menunggu lebih dari lima puluh tahun untuk melihatnya jadi.
Sampang, 1918
Raden Panji Mohammad Noer lahir di Sampang pada 13 Januari 1918. Orang Jawa Timur memanggilnya Cak Noer.
Kariernya naik dari bawah: wakil bupati di Bangkalan, lalu bupati, lalu pejabat provinsi, lalu Gubernur Jawa Timur dari 1967 sampai 1976. Sesudah itu ia jadi Duta Besar Indonesia untuk Prancis, 1976 sampai 1980.
Ide yang datang dari kekeringan
Gagasan menyambung Madura ke Jawa dengan jembatan datang ketika ia masih wakil bupati di Bangkalan pada 1950-an. Alasannya bukan kemegahan.
Madura pulau kering. Tanahnya berkapur, musim hujannya pendek, dan sepanjang sejarahnya orang di sini pergi keluar untuk mencari penghidupan. Jarak ke Surabaya cuma beberapa kilometer air, tapi beberapa kilometer itu cukup untuk membuat segalanya lebih lambat dan lebih mahal: barang, orang, dan kesempatan.
Yang ia usulkan cara memperpendeknya.
Yang ia kerjakan sebagai gubernur
Sembilan tahun ia memimpin Jawa Timur, dan yang paling sering disebut dari masanya urusan pangan. Produksi beras naik tajam, dan Jawa Timur jadi salah satu penopang utama pasokan nasional.
Julukan Bapak Wong Cilik menempel padanya sesudah pidatonya di MPR pada 1973, yang memakai kalimat Jawa agawe wong cilik melu gumuyu, membuat orang kecil ikut tertawa. Julukan semacam itu gampang diberikan dan gampang dilupakan. Yang ini bertahan sampai ia meninggal, tiga puluh empat tahun sesudah ia berhenti menjabat.
Jembatannya
Suramadu baru dibangun jauh sesudah ia pensiun, dan diresmikan pada 2009. Panjangnya 5,4 kilometer, dan sejak dibuka ia disebut jembatan terpanjang di Indonesia.
Ia sempat melihatnya. Ia wafat 16 April 2010 di Surabaya, di usia sembilan puluh dua tahun, kurang dari setahun sesudah jembatan itu dibuka. Ia dimakamkan di Sampang, di tanah asalnya.
Yang berubah karena jembatan itu, dan yang tidak
Yang berubah: menyeberang tidak lagi berarti menunggu kapal di Kamal. Barang masuk lebih cepat, dan orang Madura yang bekerja di Surabaya bisa pulang tiap hari.
Yang tidak berubah: jembatan itu berhenti di Bangkalan. Dari sana ke Sumenep masih seratus enam puluh kilometer, dan yang tinggal di ujung timur pulau ini tetap mengukur jarak dengan jam, bukan dengan kilometer.
Itu sebabnya sebagian besar barang yang kami antar tiap hari tidak pernah menyentuh jembatan itu sama sekali.
Lanjut