Kembali ke Jelajah Madura

Tokoh · Sampang

Cakraningrat I, orang pertama yang memegang Madura barat sekaligus

Ia kalah perang melawan Mataram, lalu dinikahkan dengan putri rajanya dan dipulangkan sebagai penguasa. Sisa hidupnya lebih banyak di Jawa daripada di Madura.

Masjid Madegan di Sampang, berkubah hijau dengan empat menara dan pagar besi hitam di depannya
Masjid Madegan di Polagan, Sampang. Kampung inilah pusat pemerintahannya, dan kompleksnya masih jadi tempat ziarah. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.
Masjid Madegan dilihat dari jalan kampung, dengan kubah dan menara hijau muncul di balik pagar
Jalan masuk ke kompleks Madegan dari kampung di sekitarnya. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.

Di Kampung Madegan, Desa Polagan, Sampang, ada masjid tua dan kompleks makam di sebelahnya. Tempat itu dulu pusat pemerintahan Madura barat, dan yang memerintah dari sana bergelar Cakraningrat.

Namanya Raden Prasena

Gelar itu bukan nama lahir. Nama lahirnya Raden Prasena, dan gelar Cakraningrat diberikan kepadanya oleh Sultan Agung dari Mataram, sekitar 1624.

Yang terjadi sebelum pemberian gelar itu bukan hal yang menyenangkan. Mataram menaklukkan Madura, dan Prasena termasuk yang menyerah. Yang ia terima sesudahnya perlakuan yang khas Sultan Agung: bukan hukuman, melainkan pernikahan dengan seorang putri istana dan kekuasaan atas tanah asalnya sendiri, sebagai bawahan.

Ia memerintah Madura barat sampai 1647. Itu pertama kalinya wilayah itu dipegang satu orang, dan harganya wilayah itu berhenti berdiri sendiri.

Raja yang jarang pulang

Prasena menghabiskan lebih banyak waktu di keraton Mataram daripada di Madura, dan ia disebut setia kepada Sultan Agung sampai akhir. Bagi Mataram itu tanda keberhasilan. Bagi Madura itu berarti pemerintahan dijalankan dari jarak jauh, oleh orang yang kesetiaannya ada di seberang laut.

Ia mati pada 1647 bersama putra sulungnya, Raden Demang Malayakusuma, saat menumpas pemberontakan Pangeran Alit di alun-alun Plered. Jadi ia gugur untuk Mataram, bukan untuk Madura, dan itu bukan detail kecil dalam cerita ini.

Istrinya, dan doa yang jadi mata air

Istrinya Syarifah Ambami, yang lebih dikenal sebagai Ratu Ibu. Doanya agar keturunannya memerintah Madura, dan tangisnya sesudah merasa telah meminta terlalu sedikit, jadi asal-usul nama sebuah tempat di Arosbaya. Ceritanya kami tulis tersendiri di Aeng Mata Ebhu.

Yang menarik dari cerita itu justru karena kita tahu apa yang terjadi sesudahnya. Keturunannya memang memerintah, dan memang berhenti.

Yang lahir dari garis ini

Dari keturunannya datang Trunojoyo, yang memberontak melawan Mataram yang justru mengangkat kakeknya, dan Cakraningrat IV, yang gelarnya sama dan berakhir diasingkan ke ujung selatan Afrika.

Satu keluarga, satu abad, dan tiga cara berbeda berurusan dengan kekuasaan dari seberang: menerimanya, melawannya, dan menawarnya.

0811-147-797