Tokoh · Bangkalan
Cakraningrat XII, bupati yang pernah memimpin Negara Madura
Tiga puluh tahun ia jadi Bupati Bangkalan. Lalu selama dua tahun Madura jadi negara bagian buatan Belanda dengan dia di kursi teratasnya, sampai demonstrasi rakyat Madura membubarkannya.
Nama Cakraningrat sudah kamu temui di halaman lain, dan orang yang kami tulis di sini bukan salah satu dari mereka. Cakraningrat I dan Cakraningrat IV hidup di abad ketujuh belas dan kedelapan belas. Yang ini lahir 1886, sempat difoto, dan pernah memimpin satu hal yang jarang diceritakan: Negara Madura.
Dari juru tulis ke bupati
Namanya waktu lahir Raden Ario Soerjowinoto, di Bangkalan, 9 November 1886. Ia keturunan keluarga penguasa Madura barat, dan lulusan OSVIA di Probolinggo.
Ia mulai dari bawah, sebagai juru tulis kecamatan di Jaddih pada 1906. Pada 1913, di umur dua puluh tujuh, ia jadi Bupati Sampang. Pada 1918 ia pindah jadi Bupati Bangkalan, dan pada 1920 mendapat gelar adipati dan nama Tjakraningrat. Kursi itu ia pegang sampai 1948. Ia juga duduk di Volksraad, dewan rakyat Hindia Belanda, mewakili Madura, 1931 sampai 1934.
Madura sesudah 1945
Sesudah proklamasi, Madura bagian dari Republik dan ia tetap di pulaunya. Pada 1947 Belanda menduduki Madura. Bulan pendaratannya disebut berbeda antar sumber.
Pada Januari 1948 sebuah komite yang dibentuk di bawah pendudukan menetapkan dia sebagai Wali Negara Madura, dan pemungutan suara pada 23 Januari mencatat sembilan puluh persen lebih setuju. Angka itu perlu dibaca bersama keterangan yang menyertainya di hampir semua sumber: pemungutan suaranya digelar di bawah tekanan Belanda, dan orang yang menentang ditangkap. Pemerintah Hindia Belanda mengakui negara itu pada 20 Februari 1948, dan dewan perwakilannya dilantik di Pamekasan.
Dalam sejarah yang ditulis dari sisi Republik, Negara Madura disebut negara boneka. Dari dia sendiri tercatat alasan bahwa Republik tidak menjalankan aturan demokratis. Kami menuliskan keduanya.
Dibubarkan dari bawah
Penolakan datang sejak awal, dari Pamekasan sampai orang Madura di Surakarta, Madiun, dan Kediri. Awal 1950 demonstrasi besar mendatangi gedung dewan. Wali Negara mundur, dewannya bubar pada 15 Februari 1950, dan Madura kembali jadi karesidenan Republik Indonesia. Tanggal penggabungannya ditulis 9 Maret di satu sumber dan 19 Maret di sumber lain.
Negara itu umurnya dua tahun. Yang membubarkannya bukan perang, melainkan orang Madura sendiri yang turun ke jalan.
Sesudahnya
Ia wafat pada 1953, bulan Juni atau Juli menurut sumber yang berbeda, dan dimakamkan di kompleks makam keluarga penguasa Bangkalan di Arosbaya, tempat yang ceritanya kami tulis di Aeng Mata Ebhu.
Anaknya, Ruslan Tjakraningrat, sempat jadi Sekretaris Umum Negara Madura. Belakangan ia jadi Bupati Sumenep, lalu Bupati Bangkalan, lalu gubernur pertama Nusa Tenggara Barat.
Yang perlu kamu tahu sebelum percaya penuh
Riwayat hidupnya di luar Negara Madura sebagian besar bersandar pada satu sumber, artikel koran Belanda tahun 1936. Riwayat Negara Madura sebagian besar ditulis dari sisi yang menentangnya. Dua-duanya bukan alasan untuk tidak menulisnya, tapi alasan untuk menyebutkannya.
Lanjut