Tokoh · Bangkalan
Cakraningrat IV, raja Bangkalan yang dibuang ke ujung selatan Afrika
Ia merebut kembali keraton Mataram untuk VOC, lalu menagih upahnya, lalu ditolak. Yang ia dapat akhirnya kapal ke Tanjung Harapan.
Di Sembilangan, Bangkalan, ada pemandian batu bata tua yang masih berair. Itu peninggalan seorang raja yang tidak dimakamkan di Madura, dan yang hampir setengah hidupnya dihabiskan menawar dengan orang yang akhirnya membuangnya.
Raden Djoerit
Nama lahirnya Raden Djoerit. Ia memerintah Madura barat dari 1718, dan sejak awal ia bukan bawahan yang nurut. Ia menolak menghadap ke keraton Mataram, dengan alasan yang tidak ia sembunyikan: ia takut diracun.
Yang ia inginkan hubungan dagang langsung dengan VOC, tanpa lewat Mataram. Itu permintaan yang masuk akal secara ekonomi dan berbahaya secara politik, karena artinya ia minta diperlakukan sebagai penguasa, bukan sebagai bawahan bawahan.
Kesempatan yang datang pada 1741
Kartasura, ibu kota Mataram waktu itu, jatuh ke tangan pemberontak. Pakubuwana II kehilangan keratonnya, dan VOC kehilangan sekutunya.
Cakraningrat IV datang dengan pasukan Madura, dan pada November 1742 ia merebut kembali keraton itu. Lalu ia menyerahkannya kepada Pakubuwana II.
Sesudah itu ia menagih. Yang ia minta wilayah, sesuai jasanya. Pada Juli 1744 VOC menolak.
Yang ia lakukan sesudah ditolak
Ia memberontak, Februari 1745. Kali ini melawan dua pihak sekaligus, Mataram dan VOC, dan tidak ada pihak ketiga yang bisa ia pakai.
Ia terdesak sampai harus lari ke Banjarmasin, dan di sana ia mencoba meminta perlindungan Inggris. Ia tertangkap pada akhir 1745.
Pada 1746 ia diasingkan ke Tanjung Harapan, di ujung selatan Afrika, delapan ribu kilometer dari Bangkalan. Ia tidak pernah pulang hidup-hidup. Madura barat diserahkan ke VOC sebagai ganti rugi perang, dan anaknya diangkat menggantikannya sebagai bawahan Kompeni.
Kenapa ceritanya penting, bukan cuma sedih
Karena ia bukan pahlawan yang bertempur melawan penjajah dari awal sampai akhir. Ia bersekutu dengan VOC ketika itu menguntungkan, dan melawan ketika perjanjiannya tidak dipenuhi.
Itu justru yang membuat ceritanya berguna dibaca sekarang. Yang dihadapi penguasa-penguasa kecil di abad kedelapan belas bukan pilihan antara terhormat dan tidak, melainkan perhitungan yang tiap tahun berubah, dengan pihak yang selalu punya kapal lebih banyak.
Sesudahnya
Menurut catatan yang beredar di Madura, jasadnya belakangan dibawa pulang dan dimakamkan di Aermata, kompleks pemakaman keluarga Cakraningrat di Arosbaya, tempat yang ceritanya kami tulis di Aeng Mata Ebhu. Bagian ini tidak bisa kami periksa, dan kami menuliskannya sebagai riwayat yang beredar, bukan sebagai catatan yang sudah pasti.
Doa Ratu Ibu, nenek moyangnya, meminta tujuh keturunan memerintah Madura. Kalau kamu menghitung dari Cakraningrat I, Cakraningrat IV bukan yang ketujuh. Tapi dialah yang kehilangan wilayahnya, dan sesudah dia yang memerintah Madura barat sudah bukan raja lagi.
Lanjut