Kembali ke Jelajah Madura

Tokoh · Bangkalan

Trunojoyo, orang Madura yang sempat merebut keraton Mataram

Pemberontakannya membuat raja Jawa lari dari istananya sendiri. Empat tahun kemudian ia dibunuh oleh anak raja itu, dengan keris, di depan orang banyak.

Monumen Trunojoyo di Sampang, tugu tinggi berujung lancip berdiri di tengah taman
Monumen Trunojoyo di Sampang. Ia lahir di Arosbaya, Bangkalan, tapi yang mendirikan tugunya Sampang. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.
Gerbang bertuliskan Alun-Alun Trunojoyo di Sampang, dua tugu putih mengapit jalan masuk
Alun-alun Sampang memakai namanya, begitu juga jalan-jalan di banyak kota Jawa Timur. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.
Gedung terminal Bandar Udara Trunojoyo Sumenep dengan papan nama di atas pintu masuknya
Bandar Udara Trunojoyo di Sumenep. Namanya juga dipakai universitas negeri di Bangkalan. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.

Kalau kamu pernah lewat Sampang, kamu pernah lewat alun-alun yang memakai namanya. Kalau kamu naik pesawat ke Sumenep, kamu mendarat di bandara yang memakai namanya. Kalau kamu kuliah di Bangkalan, kemungkinan besar di universitas yang memakai namanya.

Yang jarang ikut disebut: apa yang sebenarnya ia kerjakan.

Cucu seorang raja yang kehilangan tempat

Raden Trunojoyo lahir sekitar 1649 di Arosbaya, yang sekarang masuk Bangkalan. Ia keturunan garis Cakraningrat, penguasa Madura barat, dan Cakraningrat II disebut pamannya.

Yang penting dari silsilah itu satu hal: ia semestinya mewarisi sesuatu, dan tidak mendapatkannya. Keluarganya sudah berada di bawah Mataram sejak kakeknya menyerah, dan tempat yang tersisa untuknya kecil.

Perang yang hampir berhasil

Pemberontakannya mulai 1674, melawan Amangkurat I dari Mataram. Ia tidak sendirian. Yang bergabung antara lain orang-orang Makassar di bawah Karaeng Galesong, dan yang mereka lawan sebenarnya bukan cuma satu raja melainkan susunan kekuasaan yang menopangnya, termasuk VOC yang berdiri di belakangnya.

Pada pertengahan 1677 pasukannya masuk dan merebut Keraton Plered, ibu kota Mataram. Rajanya melarikan diri dan mati dalam pelarian itu.

Itu titik tertinggi, dan itu juga sebabnya nama Trunojoyo tidak bisa dihapus dari sejarah Jawa. Seorang laki-laki dari pulau kecil di seberang berhasil mendudukinya.

Kenapa ia kalah

Karena yang ia hadapi berikutnya bukan lagi Mataram saja. Amangkurat II, penerusnya, membayar VOC untuk merebut kembali apa yang hilang, dan yang datang pasukan dengan meriam, kapal, dan pasokan yang tidak bisa ia tandingi.

Kediri jatuh November 1678. Ia bertahan setahun lagi di pedalaman, lalu tertangkap pada akhir 1679 di dekat Ngantang, sebelah barat Malang.

Yang terjadi pada 2 Januari 1680

Ia dibawa menghadap Amangkurat II di Payak. Di sana, di depan orang banyak, sang raja sendiri yang menikamnya dengan keris.

Peristiwa itu dilukis orang Jawa sekitar dua abad kemudian, dan lukisannya masih tersimpan di koleksi perpustakaan Universitas Leiden. Kami tidak memasangnya di sini. Yang tergambar di situ pembunuhan, dan kartu-kartu di halaman ini bukan tempatnya.

Pahlawan siapa

Ia bukan Pahlawan Nasional. Usulan ke arah itu sudah beberapa kali diajukan dan sampai sekarang belum ditetapkan, dan kami menulisnya terang-terangan karena banyak sumber daring menyebutnya seolah-olah sudah.

Alasannya bisa ditebak dan tidak sederhana: yang ia lawan sesama kerajaan Nusantara, bukan penjajah asing, meski VOC yang akhirnya mengalahkannya. Dalam sejarah yang ditulis dari Jawa ia pemberontak. Dalam ingatan orang Madura ia orang yang berani, dan dua penilaian itu tidak pernah benar-benar berdamai.

Yang pasti: namanya melekat di alun-alun, bandara, universitas, dan puluhan nama jalan, jauh lebih banyak daripada tokoh mana pun di halaman ini.

0811-147-797