Makanan · Sumenep
Cake, sup merah yang sama sekali bukan kue
Sup merah bertabur keripik kentang yang wajib memakai lidah sapi, disajikan sebelum nasi di hajatan Sumenep. Pembuat pertamanya diketahui namanya.
Kalau ada orang Sumenep mengajakmu makan cake, jangan bayangkan yang manis. Yang datang semangkuk sup merah panas, dan di atasnya keripik kentang.
Yang bikin dia cake, bukan capcay
Sekilas ia mirip capcay atau sup merah biasa: ada wortel, kubis, kembang kol, kentang, dan kuah bertomat. Tiga hal yang membedakannya.
Lidah sapi wajib ada. Tanpa irisan lidah, orang di sini tidak akan menyebutnya cake. Yang lain boleh berubah — ayam, hati, udang goreng — tapi yang satu ini tidak.
Kuahnya lebih kental dan lebih pekat warnanya daripada sup merah pada umumnya, dan kaldunya dari rebusan tulang ayam kampung.
Keripik kentang ditaburkan di atas, sesaat sebelum disajikan. Ini bukan hiasan: teksturnya yang membuat sendok pertama berbunyi. Versi sup merah yang mirip memang ada di Surabaya dan sekitarnya, dan yang hilang di sana justru keripik kentangnya.
Dibuat tahun 1972, dan kita tahu siapa yang membuatnya
Ini jarang terjadi pada makanan daerah: cake punya tanggal dan punya nama.
Ia pertama kali dibuat pada 1972 oleh Ibu Amaningsih, waktu itu berumur 25 tahun, istri Bapak Imam yang bekerja di Kantor Bimas Sumenep. Resepnya ia dapat dari kursus memasak yang diadakan IDHATA, Ikatan Dharma Wanita Kabupaten Sumenep, dengan guru Ibu Sadiq dari SKP — Sekolah Kepandaian Putri — Sumenep.
Suaminya sering berpindah tugas ke berbagai kecamatan, dan di tiap tempat Amaningsih mengajarkan yang ia bisa kepada ibu-ibu sekitarnya. Dari situ resepnya menyebar. Ia kemudian sering diminta memasak untuk hajatan, dan sering dibayar bukan dengan uang melainkan dengan kain atau bahan makanan.
Jadi kalau ada yang bilang cake itu warisan zaman Belanda, ceritanya lebih muda dan lebih sederhana daripada itu: seorang ibu, satu kursus memasak, dan lima puluh tahun penyebaran dari mulut ke mulut.
Ia resmi jadi warisan budaya
Sejak 2021 cake tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, dengan nomor registrasi 202101493.
Sebagian tulisan menyebut tahun 2020. Yang kami pakai catatan yang menyertakan nomor registrasinya, karena itu yang bisa dicek.
Urutannya di hajatan tidak bisa ditukar
Di pesta pernikahan Sumenep, cake bukan makanan utama melainkan pembuka, dan urutannya baku: minuman, kue, cake, nasi goreng, lalu pencuci mulut.
Itu sebabnya porsinya semangkuk kecil. Ia dimaksudkan untuk dihabiskan sebelum yang berat datang, bukan untuk mengenyangkan.
Yang sering disajikan berdampingan dengannya masak pae, dan keduanya memang biasa muncul di meja yang sama.
Mencarinya di sini
Di luar musim hajatan, cake ada di beberapa rumah makan kota, dan itu yang kami daftarkan di atas.
Sebut saja nama tempatnya ke admin kalau kamu tidak sempat keluar. Kurir kami jalan tiap hari, pukul 06.00 sampai 21.00.
Di mana makannya
3 tempat yang menyediakannya.
-
AmanisH Resto
Jl. KH. Wahid Hasyim No. 51, Pekalongan, Bangselok, Kota Sumenep
Buka 10.00 sampai 21.00. Salah satu yang menyajikannya di luar musim hajatan.
-
Waroeng Djati
Jl. Kartini No. 116, Keputran, Pangarangan, Kota Sumenep
Buka 12.00 sampai 22.00, jadi ia yang paling masuk akal kalau kamu baru sampai sore.
-
Pusat Kuliner Malam Sumenep
Labangseng, Kolor, Kota Sumenep
Buka 16.00 sampai tengah malam, dan penjualnya berganti-ganti. Tanyakan dulu sebelum duduk.
Jam buka dan harga berubah tanpa pemberitahuan, dan warung kecil kadang tutup tanpa mengumumkan apa pun.
Lapar
Mau ini diantar?
Sebut saja nama warungnya ke admin, biar kami yang cari. Kurir kami jalan tiap hari, pukul 06.00 sampai 21.00.
Pesan lewat WhatsAppLanjut