Oleh-Oleh · Sumenep
Cabe jamu, rempah yang dijemur sampai patah
Buah merambat dari kebun kering Bluto yang jadi bahan jamu, kopi, dan bumbu. Sesudah dijemur ia bisa disimpan sampai dua tahun.
Ini satu-satunya di daftar ini yang tidak dibeli untuk dimakan sebagai camilan. Orang membawanya pulang untuk direbus, diseduh, atau dicampur ke kopi.
Kerabat lada, bukan kerabat cabai
Namanya cabe, tapi ia lebih dekat ke lada daripada ke cabai rawit. Nama lainnya cabe jawa, dan nama Latinnya Piper retrofractum. Pedasnya mirip lada dan jahe: hangat, bukan membakar.
Tanamannya merambat. Di Madura ia dirambatkan ke pohon kelor, randu, jaranan, dan sebagian petani memakai pohon siwalan. Kalau dibiarkan, rambatannya bisa lebih tinggi dari orang yang memanennya.
Kenapa Bluto
Menurut penelitian Universitas Trunojoyo Madura, Sumenep menyumbang sekitar separuh cabe jamu Madura, dan di dalam Sumenep yang paling banyak Kecamatan Bluto. Tanahnya kering dan berbatu, dan justru itu yang menguntungkan: buah dari tanah kering kandungan airnya lebih sedikit, jadi susutnya lebih kecil waktu dijemur.
Angka produksinya berbeda-beda antar sumber dan antar tahun, jadi kami tidak mengutip satu angka pun sebagai yang pasti. Yang konsisten di semua sumber: Bluto pusatnya, dan sebagian besar hasilnya dijual ke luar negeri dalam bentuk cabe kering.
Dari merah ke hitam
Buahnya dipetik saat mulai semburat merah, belum matang penuh. Sesudah itu direbus sebentar, dua sampai tiga menit, lalu dijemur sekitar tiga hari. Rebusan itu yang membuat warnanya seragam kehitaman sesudah kering.
Petani dan pedagang punya ujian sendiri untuk tahu ia sudah cukup kering: cabe dipegang di dua ujungnya lalu ditekuk. Kalau langsung patah seperti batang korek api, ia siap disimpan. Mereka menyebutnya kering "patah korek".
Jadi apa di rumah
Bentuk paling sederhana cabe kering utuh, untuk direbus atau ditumbuk sendiri. Ia dipakai di racikan jamu Madura, yang memang terkenal, dan juga sebagai bumbu masak untuk kari, soto, atau gulai.
Bentuk yang lebih praktis kopi cabe jamu: kopi bubuk yang dicampur rempah dan cabe jamu, biasanya sekitar sepersepuluh sampai seperempat isinya. Ini yang paling gampang dijadikan buah tangan untuk orang yang tidak mau repot merebus.
Sebelum kamu beli
- Coba tekuk satu. Kalau tidak patah, ia belum kering benar dan akan berjamur di jalan.
- Pilih yang hitam rata dan tanpa bintik putih. Bintik putih atau serbuk halus di permukaannya tanda jamur.
- Tangkainya sebaiknya sudah dibuang. Itu tanda cabe sudah disortir.
- Simpan rapat dan kering. Dalam toples atau plastik tertutup di tempat yang tidak lembap, cabe kering bisa bertahan sekitar dua tahun. Ia tidak hancur di tas dan tidak meleleh di bagasi.
- Kalau untuk jamu, tanyakan dosisnya ke yang paham. Kami menulis tentang rempahnya, bukan resep obatnya.
Di mana belinya
3 tempat yang menyediakannya.
-
Desa Pakandangan Sangra
Kecamatan Bluto, Sumenep
Desa yang petaninya menjadikan cabe jamu sumber pendapatan utama. Di sini juga ada usaha rumahan kopi cabe jamu yang sudah berjalan sejak 1998.
-
Desa Bluto
Kecamatan Bluto, Sumenep
Tempat cabe kering dari kebun-kebun sekitar dikumpulkan pengepul sebelum dikirim ke Surabaya. Belinya biasanya kiloan.
-
Desa Pakandangan Barat
Kecamatan Bluto, Sumenep
Desa tetangga dengan banyak petani cabe jamu. Di sini ia masih sering ditanam sebagai tanaman sampingan di pekarangan dan tegal.
Jam buka dan harga berubah tanpa pemberitahuan, dan warung kecil kadang tutup tanpa mengumumkan apa pun.
Lanjut