Oleh-Oleh · Madura
Gula siwalan, nira yang dimasak lima jam di dapur rumah
Gula cokelat tua dari pohon lontar, bahan di balik jubada dan tegetteh. Di pasar Sumenep ia dijual dalam cetakan besek tanpa kemasan.
Kalau kamu sudah membaca tulisan kami tentang jubada dan tegetteh, kamu sudah memakan benda ini tanpa melihatnya sendiri. Ini gulanya, sebelum jadi apa-apa.
Dari bunga, bukan dari buah
Siwalan itu pohon lontar. Ia tumbuh di tanah kering dan pesisir, dan Madura punya keduanya. Yang disadap bunganya. Cairan yang menetes dari situ nira, yang diminum segar sebagai legen atau dimasak jadi gula.
Di Desa Jadung, Dungkek, nira yang diterima disaring dulu, lalu dimasak sekitar empat sampai lima jam sampai mengental. Pembuatnya menaruh penahan fermentasi dari kulit jambu mete yang ditumbuk, supaya niranya tidak keburu asam sebelum dimasak. Sesudah kental, gula dituang ke cetakan dan didiamkan sampai dingin.
Di pasar ia tidak berkemasan
Penelitian Universitas Wiraraja di Pasar Anom dan Pasar Bangkal mencatat dua bentuk yang paling umum: cetakan besek seberat 100 sampai 150 gram, dan bongkahan cetakan baskom setengah sampai satu kilo. Warnanya cokelat tua, manisnya kuat, dan ada aroma nira yang tidak dimiliki gula tebu.
Dua-duanya dijual tanpa kemasan. Penjualnya yang membungkus di tempat.
Cetakan untuk saudara yang jauh
Ada satu kalimat dari pembuat gula di Jadung yang menjelaskan kenapa benda ini masuk daftar oleh-oleh. Sehari-hari gula dicetak di ember. Tapi kalau mau dibawa atau diberikan ke saudara yang jauh, ia dicetak di anyaman daun siwalan yang dibuat khusus.
Artinya gula ini sudah lama punya kemasan perjalanan sendiri, dari pohon yang sama dengan isinya.
Bukan cuma Sumenep
Di Desa Maneron, Bangkalan, pohon siwalan lebih banyak disadap untuk legen. Legen yang tidak habis terjual dimasak jadi gula merah, dan warga di sana menyebutnya gula neron, dari nama desanya sendiri. Bentuknya sama, jalannya yang berbeda: dari minuman yang tidak laku, bukan dari dapur gula.
Sebelum kamu beli
- Cium dulu. Gula siwalan punya aroma nira yang tidak dimiliki gula tebu. Kalau aromanya tidak ada, tanyakan asalnya.
- Pilih yang padat dan kering di permukaan. Yang lengket atau berkeringat sudah menyerap uap air dan akan meleleh di tas.
- Minta dibungkus rapat. Ia dijual telanjang, jadi plastik atau daun pembungkusnya dari penjual. Bungkus dua lapis kalau perjalananmu panjang.
- Jauhkan dari panas. Bagasi mobil yang kena matahari membuatnya lunak dan menyatu dengan apa pun di sebelahnya.
Di mana belinya
3 tempat yang menyediakannya.
-
Desa Jadung
Kecamatan Dungkek, Sumenep
Di sini gula siwalan dikerjakan perempuan dari awal sampai akhir, dari menyaring nira sampai menjualnya. Kecamatan Dungkek juga punya kebun siwalan paling luas di Sumenep.
-
Pasar Anom Baru dan Pasar Bangkal
Kota Sumenep
Dua pasar dengan banyak pedagang gula siwalan. Yang dijual cetakan besek 100 sampai 150 gram atau bongkahan setengah sampai satu kilo.
-
Desa Maneron
Kecamatan Sepulu, Bangkalan
Desa pembuat legen di pantai utara Bangkalan. Legen yang tidak habis terjual dimasak jadi gula, dan warga menyebutnya gula neron.
Jam buka dan harga berubah tanpa pemberitahuan, dan warung kecil kadang tutup tanpa mengumumkan apa pun.
Lanjut