Kembali ke Jelajah Madura

Budaya · Sumenep

Karapan sapi, yang asalnya justru dari cara membajak sawah

Balapan sapi paling terkenal di Indonesia bermula dari alat bajak Madura, bukan dari arena lomba.

Sepasang sapi berlari menarik kaleles kayu dengan joki berdiri di atasnya
Foto Ivuvisual (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Sepasang sapi karapan berlari menarik kaleles dengan joki berdiri di atasnya
Sepasang sapi, satu joki, dan kaleles yang dia pijak. Lombanya di Pamekasan. Foto LonNyoe (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Petani membajak tanah dengan sepasang sapi di ladang
Alat yang ditarik sepasang sapi inilah asal-usul karapan, dan di Madura ia masih dipakai. Foto Ayie7791 (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.

Yang orang lihat: sepasang sapi lari sekencang mungkin di lintasan tanah, seorang joki berdiri di atas kereta kayu di belakangnya. Yang tidak kelihatan: seluruh bentuk ini datang dari pekerjaan bertani.

Bermula dari alat bajak

Riwayat yang beredar di Sumenep menyebut Pangeran Katandur, nama lain Syekh Ahmad Baidawi, sebagai orang yang mengajarkan bercocok tanam pakai sepasang bambu yang ditarik dua ekor sapi. Alat itu dikenal sebagai nanggala atau salaga.

Tanah Madura berkapur dan tidak subur. Membajaknya berat, dan sapi yang kuat menarik jadi harta yang benar-benar bernilai. Dari sana kebiasaan mengadu kecepatan sepasang sapi tumbuh. Awalnya cara petani menunjukkan sapinya yang terbaik, lama-lama jadi tontonan tersendiri.

Kami bilang terus terang: ini riwayat lisan yang hidup di Madura, bukan catatan sejarah dengan satu sumber tunggal.

Namanya

Ada dua penjelasan yang sama-sama beredar. Pertama, kerap atau kirap dalam bahasa Madura berarti berangkat dan dilepas bersama-sama. Kedua, kerapan diserap dari bahasa Arab kirabah yang berarti persahabatan.

Kapan digelar

Karapan mengikuti kalender pertanian, bukan kalender wisata. Musimnya mulai sesudah panen, sekitar Agustus, dan berlanjut sampai Oktober. Puncaknya final memperebutkan Piala Bergilir Presiden di Pamekasan.

Di Sumenep sendiri lomba tingkat kecamatan jalan sepanjang musim itu, dan ini yang justru lebih gampang ditonton. Lebih dekat, tanpa tiket, dan penontonnya orang sekampung.

Suara yang mengiringinya hampir selalu sama: saronen, musik tiup yang bunyinya melengking dan bikin lapangan terasa penuh sebelum sapinya lari.

Yang perlu diketahui sebelum menonton

Karapan sapi pernah, dan masih, jadi bahan perdebatan soal perlakuan terhadap hewan, terutama menyangkut cara memacu sapi di lintasan. Beberapa tahun terakhir ada karapan yang tegas melarangnya, dan di Sumenep versi tanpa kekerasan ini yang didorong.

Kalau kamu datang, tanya dulu jenis karapan yang digelar. Itu pertanyaan yang wajar, dan penyelenggaranya tidak akan tersinggung.

Perlu tumpangan ke lapangan karapan di kecamatan? Ojek Os1ap tahu jalannya.

0811-147-797