Budaya · Sumenep
Saronen, musik yang dulunya cara berdakwah di pasar
Terompet kayu yang bunyinya melengking, lahir di sebuah desa di Sumenep, dan sampai sekarang jadi suara tiap perayaan Madura.
Kalau ada satu bunyi yang langsung bikin orang Madura menoleh, ini bunyinya. Melengking, agak sengau, dan kedengaran dari jauh. Begitu saronen main, ada sesuatu yang sedang terjadi.
Lahirnya di Sumenep
Saronen berasal dari Desa Sendang, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep. Jadi ini bukan musik Madura secara umum yang kebetulan ada di sini. Dia memang lahir di sini.
Yang menciptakannya Kyai Khatib Sendang, yang disebut sebagai cicit Sunan Kudus, dan usianya diperkirakan sudah sekitar lima ratus tahun.
Namanya dari hari pasar
Saronen diyakini berasal dari kata sennenan, yang artinya hari Senin. Itu hari pasar, dan pasar itu tempat kerjanya.
Cara kerjanya begini. Kyai Khatib Sendang dan rombongannya main musik di pasar, lengkap dengan pelawak yang menari. Orang berkerumun karena hiburannya. Begitu kerumunannya cukup, barulah dia mulai berdakwah dan menyampaikan kritik sosial.
Jadi musik ini alat mengumpulkan orang sebelum jadi alat menghibur orang.
Alatnya
Yang disebut saronen sebenarnya satu alat tiup berbentuk kerucut, dari kayu, dengan enam lubang berderet di atas dan satu di bawah. Bagian pangkalnya dipasang kelopak dari daun siwalan yang bikin pipi pemainnya menggembung waktu meniup.
Satu rombongan lengkap berisi sembilan alat: saronen, gong, kempul, tiga kenong beda ukuran, korca, dan dua gendang beda ukuran. Angka sembilan itu dipercaya merujuk ke jumlah huruf pada bismillah, mengikat asal-usulnya sebagai musik dakwah.
Di mana kamu akan mendengarnya
Hampir di semua tempat orang berkumpul. Mengiringi karapan sapi, mengiringi sapi sonok sebagai patokan langkah, mengarak pengantin, dan membuka acara kabupaten.
Kalau kamu dengar bunyinya di jalan dan penasaran, ikuti saja. Di Sumenep, saronen jarang berbunyi tanpa alasan.
Lanjut