Kembali ke Jelajah Madura

Budaya · Sumenep

Saronen, musik yang dulunya cara berdakwah di pasar

Terompet kayu yang bunyinya melengking, lahir di sebuah desa di Sumenep, dan sampai sekarang jadi suara tiap perayaan Madura.

Rombongan pemusik saronen berkostum merah dan biru bermain di tepi pantai
Foto Ivuvisual (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Rombongan pemain saronen berkostum kuning memukul gendang dan gong di jalan
Satu rombongan lengkap dengan gendang dan gongnya, di Pamekasan. Foto Ayie7791 (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Seorang laki-laki meniup terompet kayu saronen
Terompet kayunya sendiri. Bunyi melengking inilah yang menamai seluruh rombongan. Foto Ayie7791 (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.

Kalau ada satu bunyi yang langsung bikin orang Madura menoleh, ini bunyinya. Melengking, agak sengau, dan kedengaran dari jauh. Begitu saronen main, ada sesuatu yang sedang terjadi.

Lahirnya di Sumenep

Saronen berasal dari Desa Sendang, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep. Jadi ini bukan musik Madura secara umum yang kebetulan ada di sini. Dia memang lahir di sini.

Yang menciptakannya Kyai Khatib Sendang, yang disebut sebagai cicit Sunan Kudus, dan usianya diperkirakan sudah sekitar lima ratus tahun.

Namanya dari hari pasar

Saronen diyakini berasal dari kata sennenan, yang artinya hari Senin. Itu hari pasar, dan pasar itu tempat kerjanya.

Cara kerjanya begini. Kyai Khatib Sendang dan rombongannya main musik di pasar, lengkap dengan pelawak yang menari. Orang berkerumun karena hiburannya. Begitu kerumunannya cukup, barulah dia mulai berdakwah dan menyampaikan kritik sosial.

Jadi musik ini alat mengumpulkan orang sebelum jadi alat menghibur orang.

Alatnya

Yang disebut saronen sebenarnya satu alat tiup berbentuk kerucut, dari kayu, dengan enam lubang berderet di atas dan satu di bawah. Bagian pangkalnya dipasang kelopak dari daun siwalan yang bikin pipi pemainnya menggembung waktu meniup.

Satu rombongan lengkap berisi sembilan alat: saronen, gong, kempul, tiga kenong beda ukuran, korca, dan dua gendang beda ukuran. Angka sembilan itu dipercaya merujuk ke jumlah huruf pada bismillah, mengikat asal-usulnya sebagai musik dakwah.

Di mana kamu akan mendengarnya

Hampir di semua tempat orang berkumpul. Mengiringi karapan sapi, mengiringi sapi sonok sebagai patokan langkah, mengarak pengantin, dan membuka acara kabupaten.

Kalau kamu dengar bunyinya di jalan dan penasaran, ikuti saja. Di Sumenep, saronen jarang berbunyi tanpa alasan.

0811-147-797