Budaya · Sumenep
Sapi sonok, kontes kecantikan yang dinilai dari langkah
Kebalikan dari karapan. Di sini sepasang sapi betina dinilai bukan karena cepat, tapi karena serasi.
Orang luar Madura hampir selalu mengira ini karapan yang lebih pelan. Bukan. Sapi sonok tradisi yang berbeda, aturannya berbeda, dan sapinya pun beda jenis kelamin.
Apa yang dinilai
Yang diadu sepasang sapi betina, jalan beriringan menyusuri lintasan menuju sebuah gerbang. Juri tidak mengukur waktu. Yang dinilai keserasian langkah keduanya, tegaknya kepala, keluwesan gerak, dan kerapian dandanannya.
Sapi yang jalan sedikit lebih cepat daripada pasangannya kehilangan nilai. Sapi yang menunduk kehilangan nilai. Yang dicari bukan kekuatan, tapi kesamaan.
Pangonong
Keduanya disatukan oleh pangonong, kayu penyangga di bagian leher yang biasanya diukir dan dicat. Pangonong inilah yang memaksa dua ekor sapi bergerak sebagai satu kesatuan, dan yang bikin ketidakserasian langsung kelihatan.
Selebihnya hiasan: kalung, mahkota kain, selendang, dan hiasan punggung yang warnanya cerah. Semuanya dijahit khusus, dan sebagian keluarga mewariskannya.
Dari mana asalnya
Riwayat yang beredar menyebut tradisi ini tumbuh sekitar tahun 1960-an di daerah Batu Kerbui, Pamekasan, lalu menyebar ke seluruh Madura termasuk Sumenep. Umurnya jauh lebih muda daripada karapan sapi.
Kenapa ini serius
Sapi sonok bukan sekadar hiburan. Sapi betina yang menang punya nilai jual dan nilai bibit yang naik tajam, dan pemiliknya merawatnya jauh berbeda dari sapi ternak biasa. Mandi rutin, pakan pilihan, dan latihan berjalan tiap hari.
Iringannya saronen, dan di sini fungsinya bukan cuma meramaikan. Ketukannya yang jadi patokan langkah, jadi sapinya sebenarnya berjalan mengikuti musik.
Lanjut