Budaya · Sumenep
Batik tulis Sumenep, warna yang diambil dari daun
Sentranya di Pakandangan, sekitar 16 kilometer selatan kota. Motifnya bukan laut, dan pewarnanya bukan dari pabrik.
Sumenep dikelilingi laut di tiga sisi, jadi orang menyangka batiknya penuh ikan, ombak, dan karang. Justru kebalikannya.
Motifnya dari darat
Motif batik Sumenep kebanyakan mengambil bentuk dari daratan: dedaunan, sulur, bunga, dan ayam. Motif ayam ini yang paling dikenal, dan dia muncul berulang dalam berbagai penataan.
Penjelasannya masuk akal. Pembatiknya perempuan di kampung agraris di pedalaman selatan, bukan di kampung nelayan. Yang mereka gambar yang mereka lihat tiap hari, dan yang mereka lihat tiap hari itu halaman rumah.
Warna dari daun dan kulit kayu
Yang membedakan batik tulis Sumenep dari batik cap dan batik cetak: pewarnanya sebagian masih alami. Cokelat dan merah kekuningan didapat dari kulit dan daun pohon seperti akasia dan jati, direbus lama sampai warnanya keluar.
Warna alami tidak sekuat pewarna sintetis, dan itu justru cirinya. Dia lebih teredam, agak tidak rata, dan berubah pelan seiring umur kainnya. Kain yang warnanya terlalu seragam dan terlalu menyala biasanya bukan tulis.
Merah itu warna yang paling lekat dengan batik Madura, dan pada batik tulis Sumenep merahnya cenderung tua, bukan menyala.
Berapa lama satu lembar
Batik tulis dikerjakan sehelai demi sehelai pakai canting. Satu kain bisa makan berminggu-minggu, dan itu belum termasuk pewarnaan yang diulang beberapa kali untuk dapat kedalaman warnanya.
Harganya mengikuti waktu itu. Kalau ada yang menawarkan batik tulis dengan harga batik cetak, yang dijual bukan batik tulis.
Ke sentranya
Pakandangan ada di Kecamatan Bluto, sekitar 16 kilometer selatan pusat kota. Di sana pembatiknya bekerja di rumah masing-masing, bukan di pabrik. Datang pagi kalau mau lihat prosesnya jalan.
Beli buat dikirim ke luar kota? Os1ap Kargo yang mengurus.
Lanjut