Kembali ke Jelajah Madura

Budaya · Sumenep

Aeng Tong-Tong, desa dengan empu keris terbanyak di dunia

Satu desa di Kecamatan Saronggi, ratusan empu, dan keahlian yang diwariskan sejak zaman Kerajaan Sumenep.

Deretan bilah keris berpamor dipajang mendatar di dalam lemari kaca museum
Keris Madura koleksi Museum Keris Nusantara, bukan karya empu Aeng Tong-Tong. Foto Meays (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Koleksi bilah keris dengan kartu keterangan di dalam vitrin museum
Koleksi keris di Museum Mandilaras, Pamekasan. Foto Meays (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Tugu berbentuk keris raksasa berdiri di tengah taman kota bertuliskan Sumenep
Tugu Keris di kota Sumenep. Kabupaten ini memakai keris sebagai penanda dirinya sendiri. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.

Ada satu desa di Kecamatan Saronggi tempat membuat keris bukan pekerjaan segelintir orang, tapi pekerjaan sekampung.

Angkanya yang bikin orang berhenti

Aeng Tong-Tong tercatat punya sekitar 446 empu, dan enam di antaranya perempuan. Buat satu desa, itu jumlah yang tidak ada bandingannya, dan sejak 2014 desa ini dikenal luas sebagai desa dengan empu keris terbanyak di dunia.

Sebagai konteks, keris sendiri sudah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya takbenda pada 2005.

Bukan kerajinan yang baru dihidupkan lagi

Keahlian ini turun-temurun sejak masa Kerajaan Sumenep, dan itu sebabnya dia tidak terasa seperti sanggar yang dibuka buat wisatawan. Bengkelnya bengkel rumah. Yang menempa orang yang tinggal di situ.

Prosesnya panjang dan hampir semuanya manual: menempa bilah, melipat logam berulang kali sampai muncul pamor, lalu mengukir dan menyepuh. Satu bilah bisa makan waktu berminggu-minggu.

Pengakuan yang datang belakangan

Pada 2022, keris dari desa ini dipilih jadi cendera mata untuk kepala negara yang hadir di KTT G20 di Bali. Di tahun yang sama, Aeng Tong-Tong menang di Anugerah Desa Wisata Indonesia untuk kategori daya tarik pengunjung.

Kalau mau datang

Saronggi ada di selatan Sumenep, di jalur menuju pesisir selatan. Desanya bisa dikunjungi, dan sebagian empu menerima tamu yang mau lihat proses menempanya.

Satu hal yang pantas diingat sebelum berangkat: yang kamu datangi rumah orang, bukan galeri. Kabari dulu, jangan datang berombongan tanpa pemberitahuan, dan mulailah dengan ta' langkong. Itu kata permisi dalam bahasa Madura, dan di sini kata itu membuka banyak pintu.

Perlu tumpangan ke arah sana? Layanan Mobil kami melayani rute ke selatan tiap hari.

0811-147-797