Budaya · Sumenep
Aeng Tong-Tong, desa dengan empu keris terbanyak di dunia
Satu desa di Kecamatan Saronggi, ratusan empu, dan keahlian yang diwariskan sejak zaman Kerajaan Sumenep.
Ada satu desa di Kecamatan Saronggi tempat membuat keris bukan pekerjaan segelintir orang, tapi pekerjaan sekampung.
Angkanya yang bikin orang berhenti
Aeng Tong-Tong tercatat punya sekitar 446 empu, dan enam di antaranya perempuan. Buat satu desa, itu jumlah yang tidak ada bandingannya, dan sejak 2014 desa ini dikenal luas sebagai desa dengan empu keris terbanyak di dunia.
Sebagai konteks, keris sendiri sudah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya takbenda pada 2005.
Bukan kerajinan yang baru dihidupkan lagi
Keahlian ini turun-temurun sejak masa Kerajaan Sumenep, dan itu sebabnya dia tidak terasa seperti sanggar yang dibuka buat wisatawan. Bengkelnya bengkel rumah. Yang menempa orang yang tinggal di situ.
Prosesnya panjang dan hampir semuanya manual: menempa bilah, melipat logam berulang kali sampai muncul pamor, lalu mengukir dan menyepuh. Satu bilah bisa makan waktu berminggu-minggu.
Pengakuan yang datang belakangan
Pada 2022, keris dari desa ini dipilih jadi cendera mata untuk kepala negara yang hadir di KTT G20 di Bali. Di tahun yang sama, Aeng Tong-Tong menang di Anugerah Desa Wisata Indonesia untuk kategori daya tarik pengunjung.
Kalau mau datang
Saronggi ada di selatan Sumenep, di jalur menuju pesisir selatan. Desanya bisa dikunjungi, dan sebagian empu menerima tamu yang mau lihat proses menempanya.
Satu hal yang pantas diingat sebelum berangkat: yang kamu datangi rumah orang, bukan galeri. Kabari dulu, jangan datang berombongan tanpa pemberitahuan, dan mulailah dengan ta' langkong. Itu kata permisi dalam bahasa Madura, dan di sini kata itu membuka banyak pintu.
Perlu tumpangan ke arah sana? Layanan Mobil kami melayani rute ke selatan tiap hari.
Lanjut