Kembali ke Jelajah Madura

Budaya · Bangkalan

Batik gentongan Tanjung Bumi, kain yang direndam sampai setahun

Batik tulis Bangkalan yang diwarnai di dalam gentong tanah liat. Prosesnya dihitung bulan, dan harganya mengikuti.

Perempuan pembatik di Tanjungbumi menggoreskan canting ke kain yang direntang di pangkuannya
Fotonya dipotong jadi mendatar dari aslinya yang tegak. Foto Anggoro (CC BY-SA 3.0) lewat Wikimedia Commons.
Tangan menorehkan malam panas dari canting ke kain putih yang sudah bermotif
Malam panas ditorehkan satu garis sekali jalan. Fotonya bukan dari Tanjungbumi, tapi tahapannya sama. Foto Ivuvisual (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Canting berisi malam cair didekatkan ke kain yang sedang dibatik
Cantingnya sendiri: tembaga untuk wadah dan corongnya, bambu untuk pegangannya. Foto Ivuvisual (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.

Nama teknik ini datang dari wadahnya. Gentong itu tempayan tanah liat, dan batik gentongan adalah batik yang diwarnai dengan cara direndam di dalamnya, bukan dicelup sebentar lalu diangkat.

Sentranya Kecamatan Tanjungbumi, di pesisir utara Bangkalan.

Kenapa perlu berbulan-bulan

Pewarnanya alami, dan pewarna alami tidak mau menempel dalam sekali celup. Kainnya direndam semalam, diangin-anginkan pagi harinya, direndam lagi malam berikutnya, dan begitu terus sampai warnanya benar-benar duduk di serat.

Keterangan yang beredar dari pembatiknya menyebut satu kain bisa direndam sekitar enam bulan, lalu sesudah dicanting ulang direndam lagi tiga sampai empat bulan. Digabung dengan tahap menggambar dan melorod, satu lembar bisa memakan waktu setahun.

Warnanya dari tumbuhan:

  • Merah dari akar mengkudu
  • Kuning dari buah mengkudu
  • Biru tua dari daun tarum

Bagian yang tidak akan kamu temukan di label

Pembuatannya di Tanjungbumi masih dijalankan dengan aturan yang tidak ada hubungannya dengan kimia. Pembatiknya disyaratkan dalam keadaan suci, dan gentongnya diasapi kemenyan pada malam-malam tertentu.

Kami menuliskannya karena itu yang diceritakan pembatiknya sendiri, dan karena membuang bagian ini membuat gambarannya tidak utuh. Kami tidak sedang menjelaskan apakah aturan itu memengaruhi hasilnya.

Kenapa harganya seperti itu

Selembar batik gentongan bisa menyentuh jutaan rupiah, dan kain lama yang warnanya sudah matang bisa jauh di atas itu. Angkanya sering bikin orang mengira dirinya sedang ditipu.

Hitung saja waktunya. Satu kain memakan meja, gentong, dan tenaga satu orang selama berbulan-bulan, dan dalam rentang itu tidak ada kain kedua yang bisa dikerjakan di gentong yang sama.

Ceritanya datang dari laut

Riwayat yang beredar di Tanjungbumi menyebut kebiasaan ini tumbuh dari istri nelayan. Suaminya melaut berbulan-bulan, dan membatik jadi pekerjaan yang mengisi waktu tunggu sekaligus menghasilkan.

Kami bilang terus terang: ini cerita turun-temurun, bukan catatan tertulis. Tapi kalau kamu tahu prosesnya butuh kesabaran bulanan, penjelasan itu masuk akal dengan sendirinya.

Bedanya dengan batik Sumenep

Batik tulis Sumenep di ujung timur pulau juga memakai pewarna alami, tapi motifnya berangkat dari daratan: daun, sulur, dan ayam. Tanjungbumi di ujung barat lebih dikenal lewat warna merahnya yang pekat dan lewat cara merendamnya.

Satu pulau, dua ujung, dan dua kebiasaan yang tumbuh sendiri-sendiri. Itu sebabnya menyebut semuanya "batik Madura" saja terasa kurang.

Kalau kamu dari Sumenep

Tanjungbumi ada di pesisir utara Bangkalan, sekitar 150 kilometer dari kota Sumenep. Jalur utara lewat depan pintunya, jadi ini yang paling gampang disisipkan kalau kamu memang sedang menyusuri pantai utara.

0811-147-797