Budaya · Sumenep
Ukir Karduluk, satu desa yang hampir semua rumahnya memahat
Desa di Kecamatan Pragaan yang sudah mengukir sejak zaman Kerajaan Sumenep. Keahliannya masih ada; yang mulai habis penerusnya.
Di Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, hampir tiap rumah punya usaha ukir. Bukan satu dua bengkel di ujung desa, melainkan profesi yang diturunkan dari orang tua ke anak di sepanjang jalan.
Yang dikerjakan
Bukan patung dan bukan pajangan. Yang keluar dari Karduluk mebel: pintu, lemari, ranjang, kursi, dan hiasan bangunan. Ukirannya menempel pada benda yang dipakai.
Satu benda bisa memakan beberapa hari sampai sebulan, tergantung serumit apa pahatannya. Itu angka yang penting untuk diingat waktu kamu melihat harganya nanti.
Soal motif, sumbernya tidak sepakat
Sebagian tulisan menyebut ukiran Madura sengaja menghindari bentuk hewan dan manusia, dan yang mendominasi daun, sulur, bunga, serta buah.
Sebagian lain menyebut motif yang paling dikenal dari Karduluk justru karapan sapi.
Dan foto di atas memperlihatkan makhluk bersisik yang saling berhadapan. Jadi kalau aturan itu pernah ada, ia jelas tidak dipegang seragam. Kami tidak memaksakan salah satunya benar — yang bisa dipastikan cuma bahwa sulur dan bunga memang mengisi sebagian besar bidang, dan figur muncul di sela-selanya, bukan sebagai pusat.
Ia setua keratonnya
Kerajinan ini sudah dikenal sejak masa Kerajaan Sumenep, dan hasilnya ada di dalam keratonnya: tempat tidur raja-raja Sumenep, kursi, dan meja.
Artinya Karduluk bukan desa yang belakangan belajar mengukir untuk pasar oleh-oleh. Ia sudah memasok istana sebelum ada yang namanya wisata.
Maskawi, dan hitungan yang tidak lagi masuk
Maskawi mengukir sejak tahun 1980-an, dan sampai sekarang masih duduk di emperan rumahnya berhadapan dengan balok kayu.
Yang ia keluhkan bukan tangannya, melainkan angkanya. Harga di pasar tidak naik-naik sementara pekerjaannya tetap sepanjang itu, dan pesanan berkurang beberapa tahun terakhir. Ia menambal penghasilannya dengan memelihara ternak.
Anak-anak muda Karduluk banyak yang memilih merantau ke Jakarta karena hasilnya lebih besar. Maskawi bersedia mengajari siapa pun yang mau, dan yang datang sedikit.
Bukan berarti tidak ada sama sekali. Sahril Hidayat, pengukir muda dari desa yang sama, memilih bertahan — dengan alasan yang ia sebut bukan uang.
Kalau kamu mau lihat
Datang ke desanya, bukan ke toko. Bengkelnya di rumah-rumah, dan yang paling menarik justru pekerjaan yang sedang setengah jadi.
Kalau kamu memang berniat membeli, tanyakan berapa lama benda itu dikerjakan sebelum menawar. Jawabannya biasanya mengubah cara orang menawar.
Lanjut