Tempat · Sumenep
Keraton Sumenep, dan gerbang yang disebut pintu tersenyum
Bekas istana raja Sumenep yang dirancang arsitek Tionghoa, dan sekarang jadi museum di tengah kota.
Berdiri di tengah kota, beberapa ratus meter saja dari Pasar Anom Baru dan Masjid Jamik. Kamu bisa jalan kaki dari satu ke lainnya.
Empat gaya dalam satu bangunan
Pembangunannya mulai sekitar 1762, pada masa Panembahan Sumolo, lalu dilanjutkan turun-temurun sesudahnya. Perancangnya arsitek Tionghoa bernama Lauw Piango, nama yang akan kamu temui lagi di Masjid Jamik.
Yang dia kerjakan bukan bangunan bergaya tunggal. Dalam satu kompleks bertemu empat bahasa bentuk sekaligus: Jawa, Tionghoa, Eropa, dan Arab. Paling gampang dibaca di gerbangnya, tempat lengkung dan atap bertingkat datang dari tradisi yang berbeda-beda.
Labang Mesem
Gerbang utamanya disebut Labang Mesem, yang dalam bahasa Madura berarti pintu tersenyum. Ini yang paling sering difoto orang, dan ini juga yang jadi gambar di atas tulisan ini.
Yang ada di dalamnya
Sejak 9 Maret 1965, sebagian kompleksnya resmi jadi Museum Keraton Sumenep. Di dalamnya ada naskah, senjata, perabot, dan koleksi keris yang mengingatkan bahwa kabupaten ini punya kampung empu keris sendiri.
Satu bagian yang biasanya dicari pengunjung adalah Taman Sare, pemandian putri di dalam kompleks keraton.
Kalau waktumu sempit
Keraton, Masjid Jamik, dan Pasar Anom Baru berdiri berdekatan di pusat kota. Ketiganya bisa dijalani dalam setengah hari.
Dan kalau kamu lagi di kota tapi malas berdesakan cari parkir, layanan Ojek kami mangkal tidak jauh dari situ.
Lanjut