Kembali ke Jelajah Madura

Tempat · Pamekasan

Api Tak Kunjung Padam, nyala yang keluar dari tanah kosong

Di Larangan Tokol, Pamekasan, api menyala di permukaan tanah dan tidak pernah benar-benar habis. Hujan deras cuma memadamkannya sebentar.

Lidah api menyala di antara bongkahan batu di permukaan tanah, dengan pagar besi kuning mengelilinginya
Foto Meays (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Api menyala di beberapa titik tanah di dalam area berpagar, dengan deretan warung di belakangnya
Apinya keluar dari beberapa titik sekaligus, bukan dari satu lubang. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.
Area api abadi pada siang hari, dikelilingi warung dan payung pedagang
Siang hari apinya nyaris tidak terlihat, dan yang ramai justru warung di sekelilingnya. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.

Tidak ada tungku, tidak ada kayu, tidak ada yang menyalakannya tiap pagi. Api di Larangan Tokol keluar dari sela batu di permukaan tanah dan sudah begitu sejauh ingatan orang di sana.

Apa yang sebenarnya kamu lihat

Sepetak tanah berbatu, dipagari besi, dengan beberapa titik api yang menyala tenang. Besar nyalanya berubah-ubah, kadang setinggi lutut, kadang cuma jilatan pendek di sela batu.

Di sekelilingnya warung, penjual oleh-oleh, dan orang yang duduk. Ini bukan kawasan sunyi; api itu berada di tengah kampung yang hidup dari keberadaannya.

Kebiasaan yang paling sering dilakukan pengunjung: membakar jagung di situ. Jagungnya dijual di tempat.

Kenapa ia menyala

Penjelasan yang masuk akal: ada gas dari dalam tanah yang merembes ke permukaan dan terbakar begitu bertemu udara. Selama rembesannya berlanjut, apinya berlanjut.

Kami bilang terus terang: keterangan yang beredar soal gas apa persisnya tidak seragam. Sebagian tulisan menyebut belerang, sebagian menyebut gas alam. Kami tidak menemukan hasil pengukuran yang bisa kami rujuk, jadi kami tidak memilih salah satunya di sini.

Yang bisa dipastikan dari pengamatan sehari-hari cuma ini: hujan deras bisa mematikannya sesaat, dan begitu hujan berhenti apinya kembali.

Cerita yang diceritakan warga

Riwayat lisan di sana menyebut Ki Moko, nama lain Raden Wignyo Kenongo, seorang nelayan yang juga menyebarkan ajaran Islam. Ia disebut menancapkan tongkatnya ke tanah untuk menerangi sebuah hajatan, dan yang muncul api, istana, serta sumber air. Sesudah hajatan usai, istana dan airnya hilang, dan apinya memilih tinggal.

Ini cerita, bukan catatan sejarah, dan versinya berbeda-beda tergantung siapa yang bertutur. Kami menuliskannya karena ia bagian dari tempat itu, bukan karena kami bisa membuktikannya.

Kalau kamu dari Sumenep

Tlanakan ada di selatan Pamekasan, sekitar 60 kilometer dari kota Sumenep, kira-kira satu setengah jam. Bersama sate lalat, ini dua tujuan yang muat dalam satu hari tanpa terburu-buru.

Datang sesudah gelap kalau kamu ingin melihat apinya benar-benar terlihat. Siang hari nyalanya nyaris hilang tertelan cahaya matahari.

0811-147-797