Kembali ke Jelajah Madura

Tempat · Sumenep

Asta Tinggi, makam raja yang tembok kapurnya tanpa semen

Kompleks pemakaman raja-raja Sumenep di atas bukit barat kota, dibangun bertahap lewat beberapa pemerintahan.

Gapura putih Asta Tinggi Sumenep dengan pilar dan gerbang lengkung
Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.
Cungkup makam bercat hijau dan kuning di kompleks Asta Tinggi, dikelilingi nisan batu
Satu cungkup di dalam kompleksnya. Tiap pemerintahan menambah bangunannya sendiri, jadi bentuknya tidak seragam. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.
Bangunan makam bercat kuning dengan prasasti hitam di tengah dindingnya
Bagian dalam pasarean, tempat makam raja-rajanya berada. Foto Ayie7791 (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.

Namanya berarti persis apa adanya. Asta itu makam dalam bahasa Madura, dan tempatnya memang tinggi, di perbukitan sebelah barat kota, dari mana Sumenep kelihatan menghampar ke bawah.

Dibangun bertahap, dan tanggalnya sendiri masih diperdebatkan

Sumber tidak sepakat kapan tepatnya dimulai. Ada yang menyebut sekitar 1695 pada masa Pangeran Rama, ada yang menyebut sekitar 1750 pada masa Panembahan Somala. Peta di kaki halaman ini memakai angka yang pertama.

Yang tidak diperdebatkan: pembangunannya berjalan lewat lebih dari satu pemerintahan, diteruskan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat lalu Panembahan Natakusuma, dan tidak ada satu raja pun yang sempat melihatnya selesai.

Itu kebaca dari bentuknya. Kompleksnya terbagi dua, dipisahkan satu tembok, dan kedua sisinya tidak dibangun dengan selera yang sama.

Temboknya

Areal makamnya kira-kira 112 kali 109 meter, dikelilingi tembok batu kapur yang disusun tanpa adukan semen maupun pasir. Batunya dipotong dan dipasang supaya saling mengunci, lalu berdiri begitu saja selama lebih dari dua setengah abad.

Teknik ini juga dipakai di banyak bangunan tua Sumenep, dan bahannya diambil dari perbukitan kapur di sekitarnya.

Empat pengaruh dalam satu tempat

Arsitekturnya campuran, dan campurannya tidak disamarkan. Ada kubah bergaya Jawa di sisi barat, ornamen yang mengingatkan pada Tiongkok, lengkung yang datang dari Eropa, dan kaligrafi Arab di nisan-nisannya. Di beberapa detail, motif Hindu yang lebih tua masih kelihatan.

Kalau kamu sudah ke Keraton Sumenep dan Masjid Jamik, percampuran ini akan terasa akrab. Ketiganya dibangun oleh selera yang sama.

Kalau berkunjung

Asta Tinggi tempat ziarah, bukan sekadar objek wisata, dan tiap hari ada orang yang datang untuk berdoa. Berpakaian sopan, lepas alas kaki di area yang diminta, dan jangan memotret orang yang sedang berziarah tanpa bertanya dulu.

Jaraknya sekitar 3 kilometer dari alun-alun. Ojek Os1ap sampai dalam sepuluh menit.

0811-147-797