Tempat · Sumenep
Masjid Jamik, gapura yang dibangun arsitek Tionghoa
Masjid raya Sumenep yang umurnya lebih dari dua abad, dan gapuranya menggabungkan empat budaya sekaligus.
Berdiri di sisi barat alun-alun, dan gapuranya yang kuning putih itu mungkin bangunan paling sering difoto di seluruh Sumenep.
Dibangun oleh orang yang sama
Masjid ini mulai dibangun 1779 pada masa Panembahan Sumolo, dan selesai delapan tahun kemudian di 1787. Arsiteknya Lauw Piango, orang yang juga merancang Keraton Sumenep.
Jadi kalau kamu merasa gerbang keraton dan gapura masjid ini punya logika yang mirip, perasaanmu benar. Keduanya dari tangan dan selera yang sama.
Empat budaya di satu gapura
Yang bertemu di sini Jawa, Tionghoa, Arab, dan Eropa, dan tidak ada satu pun yang disamarkan. Lengkung besarnya Eropa. Susunan bertingkat dan ornamennya Tionghoa. Atap tajug di badan masjidnya Jawa. Kaligrafinya Arab.
Kata gapura sendiri diserap dari bahasa Arab ghafura, yang artinya tempat memohon ampun. Jadi pintunya bukan cuma pintu masuk.
Kenapa ini penting buat Sumenep
Kabupaten ini pelabuhan tua, dan pelabuhan berarti orang datang dan tinggal. Pedagang Tionghoa, ulama dari Arab, pegawai kolonial Belanda, semuanya lewat sini. Masjid ini catatan pemukiman itu, ditulis pakai batu.
Kalau kamu sudah lihat Asta Tinggi, campuran yang sama akan terasa lagi. Tiga bangunan besar Sumenep dibangun dengan cara berpikir yang sama soal siapa saja yang boleh ikut membentuknya.
Kalau berkunjung
Ini masjid yang dipakai salat lima waktu, bukan monumen. Datang di luar waktu salat, berpakaian sopan, dan lepas alas kaki di batas yang ditandai.
Bagi perempuan yang tidak membawa penutup kepala, biasanya ada pinjaman di dekat pintu. Kalau ragu, cukup bilang ta' langkong dan tanya ke penjaganya. Itu kata permisi dalam bahasa Madura, dan di sini kata itu selalu dijawab baik.
Letaknya di pusat kota, jalan kaki dari keraton. Ojek Os1ap sampai sana dalam beberapa menit.
Lanjut