Kembali ke Jelajah Madura

Tempat · Bangkalan

Bukit Jaddih, tempat wisata yang masih jadi tambang

Bukit kapur di Socah, Bangkalan. Tebing putih dan kolam hijaunya bukan bentuk alami, melainkan sisa puluhan tahun pemotongan batu.

Dasar tambang kapur Bukit Jaddih dengan tebing batu putih yang terpotong tegak lurus di bawah langit mendung
Foto Rickyp 21 (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Tebing kapur putih berlapis dengan kolam berair hijau pucat di kakinya
Kolam di kaki tebingnya bekas galian yang terisi air, bukan danau alami. Foto Cynthia.veronica (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Dinding kapur putih bekas pemotongan batu dengan langit biru di atasnya
Dinding selurus ini bukan bentuk alami. Itu bekas potongan gergaji batu. Foto Cocakolam (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.

Hampir semua foto Bukit Jaddih terlihat seperti lanskap. Tebing putih tegak lurus, kolam hijau kebiruan di dasarnya, langit terbuka lebar. Yang tidak terlihat di foto: bentuk itu bukan buatan alam.

Yang memahatnya truk, bukan angin

Jaddih adalah tambang kapur yang masih bekerja. Tebing yang lurus itu bekas gergaji, dan gua-gua kecil di dindingnya bekas potongan yang diambil. Puluhan tahun pengambilan batu meninggalkan bentuk yang kebetulan bagus difoto, lalu orang datang untuk memotretnya.

Urutannya penting, dan sering terbalik waktu tempat ini diceritakan. Wisata di sini datang belakangan, menempel pada pekerjaan yang sudah ada lebih dulu dan belum berhenti.

Kolamnya

Di tengah kawasan ada kolam yang airnya berwarna hijau kebiruan, dikenal warga sebagai Aeng Goweh Pote. Airnya sumber yang mengisi bekas galian.

Kolamnya dangkal. Angka yang beredar sekitar setengah meter di sebagian bagiannya, tapi kedalaman bekas galian tidak pernah rata, jadi jangan memperlakukan angka itu sebagai jaminan. Warga sekitar menyewakan sampan untuk berkeliling, dan itu cara paling aman melihatnya.

Yang perlu kamu tahu sebelum berangkat

Ini bukan taman. Beberapa hal yang wajar di tempat wisata lain tidak berlaku di sini:

  • Truk pengangkut batu masih lewat. Jalannya dipakai bersama, dan mereka yang bekerja, bukan kamu.
  • Tidak ada peneduh. Kapur putih memantulkan cahaya, dan siang hari di sini panas sekaligus menyilaukan. Pagi atau sore jauh lebih masuk akal.
  • Debunya nyata. Kalau kamu gampang terganggu debu, bawa masker.
  • Jangan memanjat tebing potongnya. Batu kapur gampang gugur, dan tidak ada yang menjaga.

Cerita yang beredar

Warga menyebut lubang-lubang di bukit ini pernah dipakai bersembunyi pada masa pendudukan Jepang. Kami bilang terus terang: ini riwayat lisan, dan kami tidak menemukan catatan yang bisa kami rujuk.

Kalau kamu dari Sumenep

Socah berada tidak jauh dari kota Bangkalan, sekitar 160 kilometer dari kota Sumenep, tiga sampai empat jam. Paling masuk akal digabung dengan perjalanan menyeberang ke Surabaya, bukan sebagai tujuan sehari pulang pergi.

0811-147-797