Budaya · Sumenep
Ul-daul, musik sahur yang tumbuh jadi karnaval
Berawal dari anak muda memukul kentongan bambu untuk membangunkan orang sahur. Sekarang keretanya setinggi rumah.
Dari semua tradisi di halaman ini, ini yang paling muda dan paling cepat berubah. Umurnya belum setengah abad, dan bentuknya sekarang nyaris tidak mirip asalnya.
Awalnya cuma bambu
Pada 1970-an dan 1980-an, anak muda di Sumenep dan Pamekasan keliling kampung di bulan Ramadan sambil memukul tong-tong, kentongan bambu. Tugasnya sederhana: membangunkan orang supaya tidak telat menyiapkan sahur.
Tidak ada panggung, tidak ada lomba. Yang ada bunyi berirama yang lewat depan rumah orang di jam dua pagi.
Bagaimana dia membesar
Sejak 1990-an alatnya mulai dicampur. Kendang masuk, jidor masuk, saron masuk, lalu gong, lalu terompet. Sekarang ada yang memakai rebana dan angklung juga.
Begitu alatnya bertambah, beratnya juga bertambah, dan tidak mungkin lagi dipikul keliling kampung. Maka alatnya dinaikkan ke kereta. Keretanya lalu dihias, dan hiasannya makin lama makin besar, sampai jadi seperti di foto atas.
Namanya sendiri diperkirakan datang dari ul-gaul, plesetan dari kata gaul, yang menandai bahwa ini versi tong-tong yang lebih modern.
Hubungannya dengan saronen
Keduanya musik jalanan Madura dan sering dianggap sama, padahal berbeda umur dan berbeda asal. Saronen berumur sekitar lima ratus tahun dan lahir sebagai alat dakwah di pasar. Ul-daul lahir dari ronda sahur empat puluhan tahun lalu.
Yang sering terjadi sekarang, keduanya tampil di acara yang sama, dan terompet saronen ikut naik ke kereta ul-daul.
Kapan bisa dilihat
Paling ramai di bulan Ramadan dan menjelang Lebaran, karena di situ akarnya. Di luar itu, ul-daul muncul di karnaval kabupaten dan festival, dan biasanya diadu: kereta mana yang paling besar, paling terang, dan paling nyaring.
Satu peringatan yang wajar: ini keras sekali. Kalau kamu bawa anak kecil, berdirilah agak jauh dari keretanya.
Lanjut