Kembali ke Jelajah Madura

Budaya · Sumenep

Ul-daul, musik sahur yang tumbuh jadi karnaval

Berawal dari anak muda memukul kentongan bambu untuk membangunkan orang sahur. Sekarang keretanya setinggi rumah.

Kereta hias ul-daul berukuran besar berwarna emas diarak di jalan kampung
Foto LonNyoe (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Kereta hias bercahaya diarak di jalan pada malam hari, dikelilingi penonton
Keretanya diarak malam hari di Pamekasan. Foto Ayie7791 (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Ornamen kereta ul-daul yang menyala warna-warni di kegelapan
Ornamen keretanya dari dekat. Bunyinya masih dari kentongan bambu; yang tumbuh besar justru keretanya. Foto Ivuvisual (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.

Dari semua tradisi di halaman ini, ini yang paling muda dan paling cepat berubah. Umurnya belum setengah abad, dan bentuknya sekarang nyaris tidak mirip asalnya.

Awalnya cuma bambu

Pada 1970-an dan 1980-an, anak muda di Sumenep dan Pamekasan keliling kampung di bulan Ramadan sambil memukul tong-tong, kentongan bambu. Tugasnya sederhana: membangunkan orang supaya tidak telat menyiapkan sahur.

Tidak ada panggung, tidak ada lomba. Yang ada bunyi berirama yang lewat depan rumah orang di jam dua pagi.

Bagaimana dia membesar

Sejak 1990-an alatnya mulai dicampur. Kendang masuk, jidor masuk, saron masuk, lalu gong, lalu terompet. Sekarang ada yang memakai rebana dan angklung juga.

Begitu alatnya bertambah, beratnya juga bertambah, dan tidak mungkin lagi dipikul keliling kampung. Maka alatnya dinaikkan ke kereta. Keretanya lalu dihias, dan hiasannya makin lama makin besar, sampai jadi seperti di foto atas.

Namanya sendiri diperkirakan datang dari ul-gaul, plesetan dari kata gaul, yang menandai bahwa ini versi tong-tong yang lebih modern.

Hubungannya dengan saronen

Keduanya musik jalanan Madura dan sering dianggap sama, padahal berbeda umur dan berbeda asal. Saronen berumur sekitar lima ratus tahun dan lahir sebagai alat dakwah di pasar. Ul-daul lahir dari ronda sahur empat puluhan tahun lalu.

Yang sering terjadi sekarang, keduanya tampil di acara yang sama, dan terompet saronen ikut naik ke kereta ul-daul.

Kapan bisa dilihat

Paling ramai di bulan Ramadan dan menjelang Lebaran, karena di situ akarnya. Di luar itu, ul-daul muncul di karnaval kabupaten dan festival, dan biasanya diadu: kereta mana yang paling besar, paling terang, dan paling nyaring.

Satu peringatan yang wajar: ini keras sekali. Kalau kamu bawa anak kecil, berdirilah agak jauh dari keretanya.

0811-147-797