Oleh-Oleh · Bangkalan
Salak Bangkalan, buah kering yang tumbuh di tanah paling kering
Rasanya manis tanpa sepat, dan kulitnya tahan dibawa berhari-hari tanpa perlakuan apa pun.
Madura berkapur dan kering, dan sebagian besar buah tidak mau tumbuh di situ. Salak justru suka.
Kenapa ia cocok di sini
Salak tidak menuntut tanah subur dan tidak suka tergenang. Tanah Bangkalan yang berpasir dan cepat meloloskan air justru mendekati yang ia butuhkan, dan itu sebabnya kebun salak di sana bisa bertahan tanpa irigasi yang rumit.
Yang paling sering disebut orang varietas dari Kecamatan Kramat dan sekitarnya, dan sebagian orang menyebutnya salak nangka karena aromanya.
Rasanya
Manis, agak berair, dan yang paling penting: sepatnya tipis. Salak yang sepat itu salak yang dipetik terlalu muda, dan di Bangkalan panen biasanya ditunggu sampai benar-benar tua karena buahnya tidak dikirim jauh.
Dagingnya lebih tebal daripada salak kebanyakan, dan bijinya relatif kecil.
Kenapa ia masuk daftar ini
Kulitnya bersisik keras, dan itu kemasan alami yang bagus sekali. Tanpa didinginkan, tanpa dibungkus apa pun, salak bertahan sekitar seminggu di suhu ruang.
Artinya ia satu-satunya di daftar ini yang berupa buah segar dan tetap masuk akal dibawa pulang naik bus atau kapal.
Sebelum kamu beli
- Pilih yang ujungnya tidak lembek. Itu tanda pertama ia mulai lewat.
- Jangan cuci sebelum berangkat. Kulit yang basah mempercepat busuknya.
- Beli satu tandan utuh kalau ada. Yang masih menempel di tandannya bertahan lebih lama daripada yang sudah dilepas satu-satu.
Di mana belinya
2 tempat yang menyediakannya.
-
Kampung Salak
Dusun Mor Kolak, Desa Kramat, Kecamatan Bangkalan
Kelompok olahan salak yang dipimpin Saniah. Selain buahnya ada dodol, kurma, dan kismis salak.
-
Desa Bilaporah
Kecamatan Socah, Bangkalan
Desa penghasil salak terbanyak kedua di Bangkalan, dan ikut disiapkan jadi kebun petik sendiri.
Jam buka dan harga berubah tanpa pemberitahuan, dan warung kecil kadang tutup tanpa mengumumkan apa pun.
Lanjut