Kembali ke Jelajah Madura

Tokoh · Sumenep

Tumenggung Kanduruan, putra raja Demak yang memulai garis raja Sumenep

Ia cuma memerintah tiga tahun, tapi lima belas keturunan sesudahnya yang memegang Sumenep sampai zaman Belanda.

Gerbang bata tua Pasarean Asta Karang Sabu dengan pagar hijau dan cat merah yang mengelupas
Asta Karang Sabu di Karangduak, sekitar setengah kilometer dari pusat kota Sumenep. Di sinilah ia dimakamkan. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.
Masjid Agung Demak dengan atap tumpang tiga dan halaman luas di depannya
Masjid Agung Demak, di kota tempat ayahnya memerintah. Kanduruan datang ke Sumenep dari sini. Foto Hastosuprayogo (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.

Di Karangduak, tidak jauh dari pusat kota Sumenep, ada kompleks makam bernama Asta Karang Sabu. Asta itu bahasa Madura untuk makam yang dihormati. Yang dimakamkan di sana bukan orang Madura.

Anak Raden Fatah yang dikirim ke timur

Raden Tumenggung Kanduruan disebut sebagai putra Raden Fatah, sultan pertama Demak. Ia datang ke Sumenep dan memerintah di sana sekitar 1559 sampai 1562, dengan keraton di Karangduak.

Tiga tahun itu pendek, dan kalau diukur dari lamanya memerintah, ia tokoh kecil. Yang membuatnya besar apa yang terjadi sesudahnya.

Lima belas keturunan

Dua anaknya, Pangeran Lor dan Pangeran Wetan, sama-sama jadi penguasa Sumenep sesudah dia. Lor artinya utara dan wetan artinya timur, dan nama itu memang menunjuk letak kediaman masing-masing.

Dari garis laki-lakinya, menurut silsilah yang dipegang di Sumenep, turun lima belas generasi adipati dan bupati. Artinya hampir seluruh nama yang kamu temui di Asta Tinggi punya jalur kembali ke orang ini.

Kenapa Demak mengirim anaknya ke sini

Abad keenam belas masa Demak mendorong Islam ke timur, dan cara yang dipakai bukan cuma dakwah. Menempatkan orang sendiri di kursi penguasa daerah adalah cara yang jauh lebih awet daripada mengirim pasukan, dan Sumenep waktu itu pelabuhan yang menghadap langsung ke jalur rempah di timur.

Jadi kedatangan Kanduruan bukan peristiwa keagamaan semata. Ia juga penempatan politik, dan berhasil dalam ukuran yang jarang dicapai penempatan politik mana pun: keturunannya masih memerintah tiga abad kemudian.

Yang perlu kamu tahu sebelum percaya penuh

Silsilah raja-raja Madura tersimpan terutama dalam babad dan catatan keluarga, bukan dalam arsip yang bisa diperiksa satu per satu. Nama, tahun, dan urutannya berbeda-beda antar sumber, dan selisih satu dekade itu biasa.

Yang tidak berselisih: ada makamnya, ada tempatnya, dan orang masih datang ke sana. Itu yang bisa kami tunjukkan.

0811-147-797