Tempat · Bangkalan
Mercusuar Sembilangan, menara besi yang sudah menyala sejak 1879
Menara besi setinggi 78 meter di ujung barat Madura, dibangun Belanda untuk memandu kapal masuk ke Surabaya. Sampai sekarang belum digantikan.
Hampir semua yang dibangun Belanda di Madura sekarang jadi bangunan tua yang dilihat orang. Yang satu ini masih bekerja.
Angkanya
Menaranya didirikan pada 1879, tinggi 78 meter, lingkar 5,3 meter. Bentuknya menara besi bercat putih dengan lentera dan galeri di puncaknya. Di sebagian peta pelayaran ia disebut Mercusuar Ujung Slempit, bukan Sembilangan, dan keduanya menunjuk menara yang sama.
Tinggi 78 meter itu bukan angka yang biasa untuk mercusuar. Sebagai perbandingan, ia lebih tinggi daripada kebanyakan gedung dua puluh lantai.
Kenapa ia berdiri di situ
Letaknya di ujung paling barat Madura, menghadap selat yang memisahkan pulau ini dari Jawa. Selat itu jalan masuk ke Surabaya, dan pada akhir abad kesembilan belas Surabaya pelabuhan tersibuk di Hindia Belanda.
Jadi menara ini bukan dibangun untuk Madura. Ia dibangun untuk kapal yang lewat Madura — penerangan pendaratan sekaligus penunjuk arah supaya kapal tidak salah masuk selat di malam hari. Madura kebetulan tempat berdirinya.
Itu juga sebabnya ia tidak pernah pensiun. Selat itu masih dilewati, dan lampunya masih dibutuhkan.
Sebelum kamu datang
Ini bukan tempat wisata yang dikelola, melainkan fasilitas navigasi yang ada penjaganya. Ada rumah dinas di kaki menara, dan yang tinggal di sana orang yang bekerja di situ.
Kami bilang terus terang: kami tidak bisa menjanjikan kamu boleh naik. Banyak orang bercerita pernah diizinkan sesudah minta baik-baik, tapi itu kemurahan hati penjaganya, bukan aturan yang tertulis di mana pun. Datanglah dengan anggapan kamu cuma melihat dari bawah, dan anggap sisanya bonus.
Yang pasti bisa dilihat tanpa izin siapa pun: menaranya sendiri, dari jarak yang cukup untuk memuat seluruh tingginya dalam satu gambar.
Kalau kamu dari Sumenep
Sembilangan ada di ujung barat laut Bangkalan, sekitar 165 kilometer dari kota Sumenep, kira-kira empat jam lewat jalan pantai utara.
Sama seperti Bukit Jaddih, ini paling masuk akal digabung dengan perjalanan menyeberang ke Surabaya, bukan dijadikan tujuan sehari pulang pergi. Keduanya ada di kabupaten yang sama dan searah.
Lanjut