Makanan · Sumenep
Nasi jagung, yang benar-benar dimakan tiap hari
Bukan menu turis dan bukan makanan perayaan. Ini yang paling sering ada di piring orang Sumenep.
Kalau ada satu makanan yang paling sering masuk perut orang Sumenep, ini jawabannya. Anehnya justru ini yang paling jarang masuk daftar kuliner, soalnya memang tidak dijual di tempat yang mencolok.
Kenapa jagung, bukan beras
Tanah di sini kering dan berkapur, dan airnya susah. Padi butuh sawah yang tergenang, dan itu hal yang tidak bisa dijanjikan Madura tiap tahun. Jagung tidak minta sebanyak itu. Dia tumbuh di tegal, tahan panas, dan panennya tetap ada waktu musim hujan meleset.
Jadi nasi jagung bukan pilihan gaya hidup. Dia yang tersedia, dan sudah begitu sejak lama sekali.
Cara membuatnya
Yang dipakai jagung tua, bukan jagung manis. Butirannya ditumbuk sampai jadi butiran kecil, direndam semalaman, lalu dikukus sampai matang. Sebagian orang mencampurnya dengan sedikit beras supaya lebih pulen.
Hasilnya kuning, butirannya terpisah-pisah, dan rasanya agak manis samar. Teksturnya jelas beda dari nasi putih. Lebih kasar, dan itu memang wajarnya.
Dimakan sama apa
Biasanya sederhana saja: ikan asin, sambal terasi, urap, tahu atau tempe goreng. Kadang ditemani kuah dari lauk apa pun yang ada hari itu.
Yang perlu kamu tahu kalau baru coba: nasi jagung mengenyangkan lebih lama daripada nasi putih. Ini makanan orang yang habis itu bekerja di ladang, bukan makanan yang habis itu duduk.
Mencarinya di sini
Nasi jagung susah dicari di rumah makan besar. Dia adanya di warung kecil, di pasar pagi, dan paling banyak justru di dapur rumah orang.
Kalau kamu mau coba yang benar, tanya ke orang sini dulu mana warung yang masih menanak sendiri. Sesudah dapat namanya, kirim ke admin kami, biar kurir yang jalan.
Di mana makannya
3 tempat yang menyediakannya.
-
Pasar Anom Baru
Kota Sumenep
Bagian basahnya paling hidup sebelum pukul tujuh, dan di situlah nasi jagung dijual. Lewat pukul sepuluh biasanya sudah habis.
-
Warung nasi jagung Pajagalan
Kelurahan Pajagalan, Kota Sumenep
Warung tradisional tanpa papan nama, buka 08.00 sampai 15.00. Nasi jagungnya keluar lengkap dengan peyek udang.
-
Desa Lobuk
Kecamatan Bluto, Sumenep
Bukan warung melainkan kampungnya: nasi jagung di sini warisan turun-temurun, dan yang memasaknya ibu-ibu di rumah masing-masing.
Jam buka dan harga berubah tanpa pemberitahuan, dan warung kecil kadang tutup tanpa mengumumkan apa pun.
Lapar
Mau ini diantar?
Sebut saja nama warungnya ke admin, biar kami yang cari. Kurir kami jalan tiap hari, pukul 06.00 sampai 21.00.
Pesan lewat WhatsAppLanjut