Tokoh · Bangkalan
Syaichona Kholil, kiai Bangkalan yang jadi guru para pendiri NU
Ia wafat setahun sebelum Nahdlatul Ulama berdiri, tapi hampir semua yang mendirikannya pernah jadi santrinya. Ditetapkan Pahlawan Nasional pada 2025.
Kalau kamu menyeberang lewat Suramadu dan belok ke arah Martajasah, kamu akan menemukan satu-satunya tempat di Madura yang ramai peziarah tiap hari sepanjang tahun. Yang dimakamkan di sana Muhammad Kholil bin Abdul Lathif, yang orang Madura panggil Syaichona Kholil.
Lahir 1820, wafat 1925
Ia lahir 27 Januari 1820 dan wafat pada 1925, di usia seratus lima tahun menurut penanggalan Hijriah yang dipakai keluarganya.
Pendidikannya panjang dan berpindah-pindah: dari kampungnya sendiri ke pesantren-pesantren di Madura, lalu menyeberang ke Jawa, lalu ke Mekah. Waktu itu menuntut ilmu ke Mekah berarti berlayar berminggu-minggu dan tinggal bertahun-tahun, dan yang kembali membawa jaringan yang tidak dimiliki orang lain di kampungnya.
Sekembalinya ia mendirikan pesantren di Bangkalan, dan santri datang dari seluruh Jawa dan Madura.
Yang membuat namanya besar bukan tulisannya
Melainkan muridnya. Di antara yang pernah belajar kepadanya:
- KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan pendiri Pesantren Tebuireng.
- KH Abdul Wahab Hasbullah, salah satu penggerak utama berdirinya NU.
- KH As'ad Syamsul Arifin, yang membawa pesan-pesannya antar kiai.
- KH Raden Asnawi dari Kudus.
NU berdiri pada 1926, setahun sesudah ia wafat. Ia tidak sempat melihatnya. Tapi hampir semua yang duduk di ruangan itu pernah jadi santrinya, dan restunya disebut di hampir semua riwayat berdirinya organisasi itu.
Ada beberapa kisah tentang bagaimana restu itu disampaikan, lewat tongkat dan tasbih yang dititipkan kepada As'ad Syamsul Arifin untuk diantarkan ke Jombang. Kisah-kisah itu hidup di kalangan pesantren dan diceritakan dengan berbagai versi. Kami sebutkan bahwa ia ada, tanpa memilih versinya.
Guru, dan juga bukan cuma guru
Yang ia ajarkan bukan cuma fikih dan tasawuf. Ia hidup sepanjang masa ketika Belanda menguasai seluruh pulau, dan ia menanamkan ke santrinya bahwa membela tanah air bagian dari beragama.
Garis itu yang kemudian sampai ke Resolusi Jihad 1945, yang dikeluarkan muridnya, dan yang jadi salah satu alasan orang mau maju di Surabaya bulan November tahun itu.
Pahlawan Nasional, 2025
Gelar Pahlawan Nasional untuknya ditetapkan pada 10 November 2025, seratus tahun sesudah ia wafat.
Untuk ukuran Madura itu peristiwa besar. Dari empat kabupaten di pulau ini, jumlah orang yang menyandang gelar itu bisa dihitung dengan jari, dan yang paling dikenal sebelum dia seorang penerbang dari Sampang yang kami tulis di halaman Halim Perdanakusuma.
Kalau kamu mau ke sana
Kompleksnya di Martajasah, sekitar empat kilometer dari pusat kota Bangkalan. Paling ramai pada malam Jumat dan pada bulan-bulan haul.
Kalau kamu datang dari arah Surabaya lewat jembatan, ini biasanya perhentian pertama sebelum orang lanjut ke timur.
Lanjut