Kembali ke Jelajah Madura

Tokoh · Sampang

Halim Perdanakusuma, anak Sampang yang namanya jadi bandara Jakarta

Ia menerbangi empat puluh empat misi pengeboman di langit Eropa sebelum berumur dua puluh tiga, lalu mati di usia dua puluh lima dalam penerbangan menembus blokade Belanda.

Potret hitam putih Halim Perdanakusuma muda, wajah menghadap sedikit ke samping, dengan kerah seragam penerbang di bawahnya
Salah satu dari sedikit potret yang ada. Ia mati sebelum berumur dua puluh enam. Fotonya dipotong jadi mendatar dari aslinya yang tegak. Foto TNI Angkatan Udara (Domain publik) lewat Wikimedia Commons.
Gedung terminal Bandar Udara Halim Perdanakusuma di Jakarta dengan pesawat terparkir di apron
Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Namanya dipakai sejak 1952. Foto Erlyndita Setyawardani (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.

Tiap tahun ratusan ribu orang naik pesawat dari bandara yang memakai namanya di Jakarta timur. Yang tidak banyak diketahui: orang itu lahir di Sampang, Madura, dan mati sebelum berumur dua puluh enam.

Sampang, 18 November 1922

Abdul Halim Perdanakusuma lahir di Sampang, waktu itu masih Keresidenan Madura, Hindia Belanda. Ayahnya Abdulgani Wongsotaruno, seorang patih, dan ibunya Raden Ayu Aisah.

Ia sempat masuk sekolah calon pegawai pribumi di Magelang, keluar di tahun kedua, lalu masuk sekolah pelayaran di Surabaya. Lalu perang datang, dan jalannya berbelok jauh dari Madura.

Empat puluh empat misi di langit Eropa

Pada masa Perang Dunia Kedua ia dilatih di Royal Canadian Air Force dan terbang sebagai navigator, antara lain di pesawat pengebom Avro Lancaster dalam serangan ke Jerman. Empat puluh empat misi di langit Eropa.

Berhenti sebentar di angka itu. Seorang laki-laki dari Sampang, di awal dua puluhan, di dalam pesawat pengebom di atas Eropa, pada tahun-tahun ketika awak pengebom punya kemungkinan pulang yang tidak besar. Empat puluh empat kali.

Pulang untuk membangun angkatan udara yang belum ada

Sesudah 1945 ia bergabung dengan angkatan udara republik yang baru, yang waktu itu punya lebih banyak semangat daripada pesawat. Pada 1947 ia naik jadi komodor udara dan ditugasi membentuk cabang angkatan udara di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Yang dikerjakan angkatan udara waktu itu sebagian besar bukan bertempur di udara, melainkan menembus blokade: membawa keluar barang, membawa masuk obat dan senjata, dan membuktikan kepada dunia bahwa republik ini punya pesawat yang terbang membawa benderanya.

14 Desember 1947

Ia terbang bersama Iswahyudi dengan Avro Anson RI-003, pesawat bekas Perang Dunia Kedua, dalam misi ke Thailand. Dalam penerbangan pulang, pesawat itu jatuh di dekat Lumut, Perak, di Semenanjung Malaya.

Jasad Halim ditemukan dan dimakamkan di Lumut. Iswahyudi tidak pernah ditemukan.

Pada 1975 jasadnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, dan pada 9 Agustus tahun itu juga ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, lewat Keputusan Presiden Nomor 063/TK/1975.

Namanya di mana-mana

Pangkalan udara dan bandara di Jakarta timur memakai namanya sejak 1952. Begitu juga kapal perang, jalan di banyak kota, dan sekolah.

Yang jarang ditulis di papan-papan itu kata Sampang. Kalau kamu orang Madura dan sedang menunggu pesawat di sana, sekarang kamu tahu.

Orang Madura yang menyandang gelar Pahlawan Nasional bisa dihitung dengan jari, dan yang paling belakangan ditetapkan seorang kiai dari Bangkalan yang kami tulis di halaman Syaichona Kholil.

0811-147-797