Kembali ke Jelajah Madura

Budaya · Sumenep

Tari Gambu, tarian keris yang dibawakan laki-laki

Empat penari, keris, dan perisai kecil berhias cermin. Umurnya dilacak sampai zaman Arya Wiraraja, dan namanya berarti terulang kembali.

Penari Gambu berkostum merah hitam membawa keris dan selendang di atas panggung
Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.
Tugu berbentuk keris raksasa di tengah taman kota Sumenep
Tugu Keris di kota Sumenep. Keris yang dipegang penari Gambu memang ditempa di kabupaten ini. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.
Sekelompok laki-laki berbaju putih dan berkopiah menari sambil membawa alat musik
Ini bukan Gambu, melainkan Sintung, kesenian Sumenep lain yang juga dibawakan laki-laki. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.

Kalau Muang Sangkal tarian penyambutan yang lembut dan dibawakan perempuan, ini kebalikannya. Gambu keras, dibawakan laki-laki, dan yang dipegang keris.

Yang digambarkan

Prajurit yang sedang berlatih perang. Senjatanya keris, dan di punggung tangannya ada perisai kecil berhias cermin yang memantulkan cahaya tiap kali tangannya berputar.

Biasanya empat penari, berdiri di empat sudut. Busananya celana selutut, baju lengan panjang berompi, sampur, dan ikat kepala model Sumenep.

Umurnya, dan kenapa namanya begitu

Riwayat yang beredar melacaknya sampai Adipati Arya Wiraraja, yang memerintah Sumenep pada 1269 sampai 1293, dan mengaitkannya dengan latihan para pengiring Raden Wijaya waktu mengungsi ke Sumenep. Nama Arya Wiraraja masih dipakai sampai sekarang untuk terminal bus kabupaten ini.

Tariannya lalu lama tidak dimainkan, dan dihidupkan lagi sekitar 1630 oleh Pangeran Ario Anggadipa. Waktu itu namanya Kambuh, kata Jawa yang berarti terulang kembali, dan dalam logat Sumenep berubah jadi Gambu.

Jadi namanya sendiri mencatat bahwa dia pernah hampir hilang.

Apa yang bikin berbeda dari tari keris lain

Yang dipegang bukan properti. Keris punya tempat khusus di Sumenep, dan kabupaten ini punya desa dengan empu keris terbanyak di dunia. Tarian yang mengangkat keris di sini bicara tentang benda yang memang dibuat di kampung sebelah.

Di mana melihatnya

Di acara resmi kabupaten dan penyambutan tamu, sering satu rangkaian dengan Muang Sangkal. Sanggar-sanggar tari di kota juga melatihnya, dan sebagian menerima pengunjung yang mau melihat latihan.

0811-147-797