Kembali ke Jelajah Madura

Makanan · Bangkalan

Tajin Sobih, bubur tiga warna yang diantar dengan berjalan kaki

Bubur manis dari Desa Sobih, Bangkalan. Disajikan di daun pisang, dan penjualnya menggendongnya keliling kampung sejak subuh.

Satu porsi tajin sobih di piring kaca berisi bubur putih, bubur merah, dan bubur cokelat yang disiram gula merah
Aslinya disajikan di atas daun pisang; yang di foto ini disajikan di piring. Foto Butterfly Beauty2003 (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.

Tajin itu bubur dalam bahasa Madura. Sobih bukan kata sifat, melainkan nama desa: Desa Sobih di Kecamatan Burneh, Bangkalan. Jadi namanya harfiah, bubur dari Sobih, dan seluruh identitasnya menempel ke satu kampung.

Tiga bubur dalam satu wadah

Yang bikin dia tidak seperti bubur manis lain: isinya bukan satu bubur, tapi beberapa yang diletakkan berdampingan tanpa diaduk.

  • Bubur putih dari tepung beras dan santan, teksturnya mirip bubur sumsum
  • Bulatan putih kecil dari tepung beras dan kanji, kenyal
  • Bubur cokelat dari tepung beras, ketan, dan gula merah
  • Bubur mutiara merah dari sagu mutiara

Di atasnya disiram santan lalu saus gula merah cair. Sebagian penjual menambah kelapa parut.

Yang dicari dari sepiring ini justru perbedaan teksturnya. Satu sendok bisa memuat yang lembut, yang kenyal, dan yang berbutir sekaligus, dan itu tidak terjadi kalau diaduk.

Wadahnya daun, sendoknya juga

Tajin sobih aslinya disajikan di atas daun pisang, dan sendoknya potongan daun yang dilipat. Bukan gaya-gayaan: penjualnya berjalan, dan daun tidak perlu dicuci atau dibawa pulang.

Itu juga yang membuat rasanya berubah kalau dipindah ke mangkuk plastik. Daun pisang memberi aroma yang ikut termakan.

Penjualnya datang, bukan didatangi

Tajin sobih tidak dijual di restoran. Yang menjual sebagian besar perempuan paruh baya yang menggendong dagangannya dan berkeliling kampung, atau menggelar di pinggir jalan dan pasar sejak sekitar pukul setengah enam pagi.

Harganya beberapa ribu rupiah sepiring. Dagangan paling cepat habis menjelang Lebaran, waktu orang pulang kampung dan mencarinya.

Kalau kamu dari Sumenep

Burneh ada tepat di sebelah kota Bangkalan, sekitar 160 kilometer dari kota Sumenep. Tiga sampai empat jam.

Itu terlalu jauh untuk sarapan, dan kami tidak akan pura-pura sebaliknya. Tapi kalau kamu menginap di Bangkalan, pasang alarm. Yang berjalan kaki tidak menunggu sampai kamu bangun.

Di mana makannya

3 tempat yang menyediakannya.

  1. Pasar Senen Bangkalan

    Jalan menuju Masjid Syaichona Cholil, Bangkalan

    Penjual tajin sobih mangkal di sini pagi hari. Mereka hampir selalu orang Desa Sobih sendiri atau masih satu keluarga dengan orang Sobih.

  2. Depan Stadion Gelora Bangkalan

    Jl. Soekarno Hatta, Bangkalan

    Titik mangkal yang paling gampang dicari kalau kamu bawa kendaraan.

  3. Lapak Jl. Trunojoyo No. 1

    Jl. Trunojoyo No. 1, Pejagan, Bangkalan, persis di depan Toko Pacific

    Satu lapak tetap, bukan pedagang keliling.

Jam buka dan harga berubah tanpa pemberitahuan, dan warung kecil kadang tutup tanpa mengumumkan apa pun.

0811-147-797