Kembali ke Jelajah Madura

Budaya · Sumenep

Topeng dalang, teater yang penarinya tidak bersuara sama sekali

Semua tokoh dibicarakan satu orang yang duduk di tengah panggung. Penarinya bertopeng, dan topengnya sengaja tidak menutup dagu.

Dua penari topeng dalang bertopeng hijau dan putih berhadapan dengan tangan terangkat di atas panggung gelap
Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.
Patung penari topeng ghettak berkostum merah dan kuning di ruang pamer museum
Patung penari topeng ghettak di Museum Mandilaras, Pamekasan. Foto Meays (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Rombongan penari berkostum cerah bergerak di atas pasir pantai
Saronen. Pada bagian tertentu pertunjukan topeng dalang, bunyi ini ikut masuk. Foto Ivuvisual (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.

Yang paling sering membingungkan penonton pertama: mulut yang bergerak dan suara yang terdengar berasal dari dua orang berbeda, dan itu memang rancangannya.

Satu orang membicarakan semua tokoh

Penarinya bertopeng dan diam sepanjang pertunjukan. Yang berbicara dalang yang duduk di tengah panggung, dan dia menyuarakan seluruh tokoh sekaligus memberi aba-aba ke penabuh gamelan.

Jadi dalang di sini bukan penggerak boneka seperti di wayang kulit. Dia narator, pengisi suara, dan pengatur irama, sementara tubuh tokohnya diperankan manusia.

Jumlah penarinya banyak untuk ukuran panggung tradisi: lima belas sampai dua puluh lima orang dalam satu lakon.

Topengnya kecil, dan itu disengaja

Topeng topeng dalang Madura tidak menutup rahang dan dagu penarinya. Ukirannya juga relatif sederhana dibanding topeng Jawa.

Akibatnya gerak leher dan dagu penari tetap terbaca dari kursi penonton, dan topeng yang wajahnya beku jadi terasa hidup. Di pergelangan kaki ada ghungseng, giring-giring yang bunyinya ikut jadi penanda gerak.

Warna topengnya dibaca bermakna: putih untuk jiwa yang bersih, merah untuk berani atau bergejolak, hitam untuk yang bijak, kuning emas untuk wibawa. Penafsirannya tidak seragam antar sanggar, jadi anggap ini pola umum, bukan kamus.

Semalam suntuk, dibuka dengan tarian

Pertunjukan penuh berjalan dari sekitar pukul sembilan malam sampai subuh. Pembukanya Tari Gambu, baru sesudah itu masuk ke lakon dari Ramayana, Mahabarata, atau siklus Panji.

Musiknya gamelan Madura, dan pada bagian tertentu saronen ikut masuk. Kalau kamu pernah mendengar gamelan Jawa, yang di sini terasa lebih keras dan lebih cepat.

Di mana ia masih hidup

Sumenep pusatnya, dan nama yang paling sering disebut rombongan di Desa Slopeng, Kecamatan Dasuk, yang sudah berjalan turun-temurun sejak awal abad lalu. Desa itu sama dengan desa di balik Pantai Slopeng.

Riwayatnya sendiri lebih tua dan tidak cuma milik Sumenep: sebagian penelusuran menariknya sampai ke lingkungan keraton Pamekasan pada abad kelima belas, sebagai lanjutan tradisi topeng dari Singasari dan Majapahit. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2021.

Jadwalnya tidak ada. Topeng dalang dipentaskan karena ada yang punya hajat, bukan karena ada yang membeli tiket. Kalau kamu ingin menontonnya, tanya di Dasuk atau ke dinas kebudayaan, dan siapkan diri untuk tidak tidur.

0811-147-797