Tempat · Sumenep
Sapeken, bagian Sumenep yang tidak berbahasa Madura
Kecamatan paling timur Sumenep, 53 pulau di antara Laut Jawa dan Laut Bali. Orangnya berbahasa Bajo, Mandar, dan Bugis.
Kalau kamu naik perahu cukup jauh ke timur dari Kalianget, akan tiba saatnya orang di dermaga menyapamu dan kamu tidak mengerti satu kata pun. Kamu masih di Kabupaten Sumenep.
Bahasanya dari Sulawesi, bukan dari Madura
Penduduk Kepulauan Sapeken berbahasa Bajo, Mandar, dan sebagian kecil Bugis. Ketiganya bahasa Sulawesi. Sukunya pun begitu.
Sebabnya sejarah pelayaran, bukan perpindahan administrasi: orang Sulawesi yang lebih dulu sampai dan menetap di gugusan pulau ini. Garis kabupaten datang belakangan, dan garis itu memasukkan mereka ke Sumenep tanpa mengubah apa yang mereka ucapkan di rumah.
Jadi kalau ada yang bilang "orang Madura", kecamatan ini pengecualian yang tinggal di dalam perbatasannya sendiri.
Angkanya
Luas Kecamatan Sapeken 201,88 kilometer persegi — sekitar 9,64 persen dari seluruh Kabupaten Sumenep. Isinya 9 desa dan 53 pulau, dan dari 53 itu 21 berpenghuni, 32 tidak.
Batasnya laut di keempat sisi: Laut Jawa di utara dan barat, Laut Bali di selatan, Laut Flores di timur. Tiga nama laut untuk satu kecamatan.
Jalan daratnya, digabung dari seluruh pulaunya, cuma sekitar 39 kilometer — lebih pendek daripada jalan dari kota Sumenep ke kota Pamekasan, dan itu untuk wilayah sembilan desa.
Jumlah penduduknya 37.765 jiwa menurut pendataan Bappeda Kabupaten Sumenep. Angka itu dari 2003, dan kami tidak menemukan pembaruan yang bisa kami rujuk, jadi perlakukan sebagai gambaran besarnya saja.
Bali lebih dekat daripada Kalianget
Ini yang paling menjelaskan tempat itu. Dari Sapeken, Singaraja di Bali ditempuh kira-kira enam jam laut, dan ke sanalah orang pergi saat persediaan menipis. Bukan ke Kalianget, pelabuhan kabupatennya sendiri, yang letaknya lebih jauh ke barat.
Artinya pasar terdekat bagi sebagian warga Sumenep ada di provinsi lain. Sebagian besar hidup dari melaut dan berdagang, dan laut yang sama yang membuat mereka jauh dari kabupatennya juga yang membuat mereka tidak terisolasi.
Rumahnya kebanyakan rumah panggung. Alasannya bukan gaya: air pasang dulu naik sampai ke dalam rumah.
Kalau kamu berniat ke sana
Ini bukan tujuan akhir pekan, dan kami tidak akan berpura-pura sebaliknya.
- Kapalnya tidak tiap jam. Ada dermaga di Desa Sapeken dan di beberapa pulau lain — Pagerungan Besar, Pagerungan Kecil, Sabunten, Paliat, Sasiil, Sepanjang, Sakala — tapi jadwalnya mengikuti cuaca dan musim, bukan jam dinding. Tanyakan langsung di Pelabuhan Kalianget beberapa hari sebelumnya.
- Air bersihnya dari sumur, seluruh desa. Jangan berharap air ledeng.
- Listriknya tidak seragam. Sebagian desa sudah PLN, sebagian belum.
- Bawa uang tunai secukupnya. Ini bukan tempat untuk mengandalkan kartu.
Kalau kamu ingin pulau yang bisa dicapai dan dipulangi dalam satu hari, Gili Labak atau Gili Iyang jawabannya, dan keduanya juga Sumenep. Sapeken perjalanan yang direncanakan, bukan yang diputuskan pagi itu juga.
Menuju Kalianget, layanan Mobil kami jalan tiap hari.
Lanjut