Kembali ke Jelajah Madura

Tokoh · Pamekasan

Panembahan Ronggosukowati, raja yang memberi Pamekasan namanya

Sebelum dia kota itu bernama Pamelingan. Tanggal ia naik takhta sampai sekarang dipakai sebagai hari jadi Pamekasan.

Makam Panembahan Ronggosukowati berupa cungkup batu putih bertingkat dengan papan nama di dindingnya
Pesarean Panembahan Ronggosukowati di Pamekasan. Papan di dindingnya menyebut namanya dan gelarnya sebagai raja Pamekasan. Foto Meays (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Masjid Agung Asy-Syuhada Pamekasan berkubah besar dengan menara di sisinya
Masjid Agung Asy-Syuhada. Cikal bakalnya Masjid Rato yang didirikan pada masanya. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.
Museum Mandhilaras Pamekasan, bangunan kolonial putih beratap merah dengan taman di depannya
Museum Mandhilaras. Namanya mengambil nama tempat keraton Ronggosukowati dipindahkan. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.

Pamekasan merayakan hari jadinya tiap 3 November, dan tahun yang dipakai 1530. Yang terjadi hari itu satu orang naik takhta, dan kota ini berganti nama.

Dari Pamelingan jadi Pamekasan

Sebelum dia, wilayah ini dikenal sebagai Pamelingan. Panembahan Ronggosukowati naik takhta pada 1530 dan memerintah sampai 1616, dan nama Pamekasan mulai dipakai pada masanya.

Gelar panembahan sendiri gelar penguasa keraton Islam, dan ia memang tercatat sebagai raja Islam pertama di Pamekasan. Pergantian nama itu, kalau dibaca begitu, bukan sekadar penggantian label. Ia penanda bahwa kekuasaan di sini sudah berpindah bentuk.

Yang ia pindahkan dan yang ia bangun

Keratonnya ia pindahkan dari Lawangan Daya ke Mandilaras, yang sekarang masuk Kelurahan Gladak Anyar. Nama itu masih dipakai sampai sekarang, antara lain oleh museum daerah Pamekasan.

Di masanya juga berdiri Masjid Rato, masjid kerajaan, yang kemudian tumbuh jadi Masjid Agung Asy-Syuhada di alun-alun Pamekasan hari ini. Sumber-sumber lokal juga menyebut ia membangun pasar dan menata penjara supaya lebih manusiawi, dua hal yang jarang disebut bersamaan dan justru karena itu menarik.

Delapan puluh enam tahun, dan itu janggal

Angka 1530 sampai 1616 berarti ia memerintah delapan puluh enam tahun. Itu mungkin, tapi tidak biasa, dan kami menyebutkannya karena angka sepanjang itu biasanya tanda bahwa dua orang atau dua periode tergabung jadi satu dalam ingatan.

Sejarah Madura abad keenam belas tersimpan terutama di babad, bukan di arsip. Yang kami tulis di sini yang paling banyak disepakati, bukan yang paling bisa dibuktikan, dan selisih di antara keduanya nyata.

Sesudah dia

Pamekasan tidak tinggal tenang lama. Seabad sesudah Ronggosukowati wafat, seluruh Madura sudah berada di bawah tarik-menarik antara Mataram dan Belanda, dan dari tarikan itu lahir nama-nama seperti Cakraningrat dan Trunojoyo.

Kalau kamu sedang di Pamekasan, dua hal yang sudah ada sejak zamannya masih bisa kamu datangi: alun-alun dengan masjid agungnya, dan api yang tidak pernah padam di Larangan Tokol, sekitar empat kilometer dari kota.

0811-147-797