Makanan · Sumenep
Kaldu Kokot, kuah kacang hijau yang dulu disuguhkan di keraton
Kikil sapi direbus bareng kacang hijau berbumbu. Namanya kaldu, tapi kaldunya justru bukan dari daging.
Kalau kamu baru pertama kali ke Sumenep dan cuma sempat makan satu hal, orang sini biasanya menyebut ini duluan.
Namanya cuma menjelaskan separuh isinya
Kokot itu kata Madura untuk bagian paling bawah kaki sapi. Di dapur lain orang menyebutnya kikil. Bagian ini direbus lama sekali sampai empuk dan bening.
Nah, kaldu-nya justru bukan dari daging. Yang jadi kuah adalah rebusan kacang hijau yang sudah dibumbui. Itu yang bikin semangkuk kaldu kokot tidak mirip hidangan kikil mana pun di Jawa. Kuahnya kental, warnanya keruh kecoklatan, dan di dasar mangkuk ada butiran kacang hijau yang ikut termakan.
Bumbunya rempah dapur biasa saja, direbus sampai meresap: bawang merah, bawang putih, jahe, pala. Tidak pakai santan.
Kenapa rasanya berat untuk ukuran sarapan
Ya karena memang bukan sarapan. Kaldu kokot lebih sering muncul menjelang siang atau malam, dimakan pakai lontong, dan hampir selalu ditemani singkong goreng atau perkedel singkong.
Singkongnya jangan dilewat. Teksturnya yang kering itu yang mengimbangi kuah kental dan kikil yang licin. Tanpa dia, semangkuknya terasa berat sebelah.
Dulu naik ke meja tamu keraton
Cerita yang beredar di Sumenep, kaldu kokot pernah jadi suguhan untuk tamu penting yang datang ke Keraton Sumenep. Yang menarik justru pilihan bahannya. Kaki itu potongan paling bawah dari seekor sapi, dan menyuguhkannya ke tamu terhormat dibaca sebagai isyarat merendah, bukan sebaliknya.
Kami bilang terus terang: ini tradisi lisan, dan versinya beda-beda tergantung siapa yang cerita.
Mencarinya di sini
Kaldu kokot bukan makanan restoran. Dia hidup di warung, dan warung yang paling sering disebut orang biasanya buka menjelang siang lalu tutup begitu habis, bukan begitu jam tutup tiba.
Kalau kamu lagi tidak di dekat sana, kirim saja nama warungnya ke admin kami. Kurir Os1ap lewat jalur itu tiap hari.
Di mana makannya
3 tempat yang menyediakannya.
-
Warung Kaldu Kokot Bu Adnan
Jl. Dr. Wahidin No. 5, Pajagalan, Kota Sumenep
Persis di belakang Museum Keraton Sumenep. Buka pagi sampai sore, dan tutup sebulan penuh selama Ramadan.
-
Kaldu Kokot Bunda Ma'ani
Desa Juluk, Kecamatan Saronggi, Sumenep
Sekitar 12 kilometer selatan kota, di jalur ke Saronggi.
-
Warung Kaldu Mak Sun
Jl. Raya Ganding, Desa Ketawang Larangan, Kecamatan Ganding, Sumenep
Menyediakan tiga macam kaldu sekaligus: kaldu biasa, kaldu kikil, dan kaldu kokot.
Jam buka dan harga berubah tanpa pemberitahuan, dan warung kecil kadang tutup tanpa mengumumkan apa pun.
Lapar
Mau ini diantar?
Sebut saja nama warungnya ke admin, biar kami yang cari. Kurir kami jalan tiap hari, pukul 06.00 sampai 21.00.
Pesan lewat WhatsAppLanjut