Kembali ke Jelajah Madura

Makanan · Sumenep

Kaldu Kokot, kuah kacang hijau yang dulu disuguhkan di keraton

Kikil sapi direbus bareng kacang hijau berbumbu. Namanya kaldu, tapi kaldunya justru bukan dari daging.

Semangkuk kaldu kokot berisi kikil sapi, kacang hijau, dan irisan singkong
Foto Alfiyah Rizzy Afdiquni (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.

Kalau kamu baru pertama kali ke Sumenep dan cuma sempat makan satu hal, orang sini biasanya menyebut ini duluan.

Namanya cuma menjelaskan separuh isinya

Kokot itu kata Madura untuk bagian paling bawah kaki sapi. Di dapur lain orang menyebutnya kikil. Bagian ini direbus lama sekali sampai empuk dan bening.

Nah, kaldu-nya justru bukan dari daging. Yang jadi kuah adalah rebusan kacang hijau yang sudah dibumbui. Itu yang bikin semangkuk kaldu kokot tidak mirip hidangan kikil mana pun di Jawa. Kuahnya kental, warnanya keruh kecoklatan, dan di dasar mangkuk ada butiran kacang hijau yang ikut termakan.

Bumbunya rempah dapur biasa saja, direbus sampai meresap: bawang merah, bawang putih, jahe, pala. Tidak pakai santan.

Kenapa rasanya berat untuk ukuran sarapan

Ya karena memang bukan sarapan. Kaldu kokot lebih sering muncul menjelang siang atau malam, dimakan pakai lontong, dan hampir selalu ditemani singkong goreng atau perkedel singkong.

Singkongnya jangan dilewat. Teksturnya yang kering itu yang mengimbangi kuah kental dan kikil yang licin. Tanpa dia, semangkuknya terasa berat sebelah.

Dulu naik ke meja tamu keraton

Cerita yang beredar di Sumenep, kaldu kokot pernah jadi suguhan untuk tamu penting yang datang ke Keraton Sumenep. Yang menarik justru pilihan bahannya. Kaki itu potongan paling bawah dari seekor sapi, dan menyuguhkannya ke tamu terhormat dibaca sebagai isyarat merendah, bukan sebaliknya.

Kami bilang terus terang: ini tradisi lisan, dan versinya beda-beda tergantung siapa yang cerita.

Mencarinya di sini

Kaldu kokot bukan makanan restoran. Dia hidup di warung, dan warung yang paling sering disebut orang biasanya buka menjelang siang lalu tutup begitu habis, bukan begitu jam tutup tiba.

Kalau kamu lagi tidak di dekat sana, kirim saja nama warungnya ke admin kami. Kurir Os1ap lewat jalur itu tiap hari.

Di mana makannya

3 tempat yang menyediakannya.

  1. Warung Kaldu Kokot Bu Adnan

    Jl. Dr. Wahidin No. 5, Pajagalan, Kota Sumenep

    Persis di belakang Museum Keraton Sumenep. Buka pagi sampai sore, dan tutup sebulan penuh selama Ramadan.

  2. Kaldu Kokot Bunda Ma'ani

    Desa Juluk, Kecamatan Saronggi, Sumenep

    Sekitar 12 kilometer selatan kota, di jalur ke Saronggi.

  3. Warung Kaldu Mak Sun

    Jl. Raya Ganding, Desa Ketawang Larangan, Kecamatan Ganding, Sumenep

    Menyediakan tiga macam kaldu sekaligus: kaldu biasa, kaldu kikil, dan kaldu kokot.

Jam buka dan harga berubah tanpa pemberitahuan, dan warung kecil kadang tutup tanpa mengumumkan apa pun.

Lapar

Mau ini diantar?

Sebut saja nama warungnya ke admin, biar kami yang cari. Kurir kami jalan tiap hari, pukul 06.00 sampai 21.00.

Pesan lewat WhatsApp
0811-147-797