Kembali ke Jelajah Madura

Budaya · Madura

Tanean Lanjang, halaman panjang yang diwariskan lewat anak perempuan

Deretan rumah menghadap satu halaman, disusun barat ke timur menurut umur. Yang menempatinya keturunan perempuan, dan rumahnya dibangunkan orang tuanya.

Rumah kayu bercat hijau beratap genteng dengan bubungan melengkung dan serambi berpagar kayu di depannya
Rumah yang masih ditinggali di Sumenep, bukan replika. Serambi terbuka di depan itu amper. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.
Rumah kayu gelap beratap genteng dengan papan lisplang berukir emas dan serambi berpagar ukiran
Replika rumah Sumenep di TMII, Jakarta. Dipakai di sini karena ukiran lisplang dan bentuk atapnya terlihat jelas. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.
Rumah adat beratap genteng bertingkat dengan dinding kayu dan tangga batu di depannya
Replika rumah Pamekasan, juga di TMII. Bentuk atapnya berbeda dari yang Sumenep, dan itu memang bukan satu bentuk tunggal. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.

Taneyan itu halaman, lanjhang itu panjang. Namanya menyebutkan yang paling penting: bukan rumahnya, melainkan tanah kosong di depannya.

Susunannya punya arah, dan arah itu umur

Rumah-rumahnya berderet dari barat ke timur, dan urutannya bukan selera.

Di ujung paling barat berdiri langgar, surau keluarga, menghadap kiblat. Ia juga dipakai menyimpan barang.

Sesudahnya rumah induk, ditempati anggota keluarga tertua — kepala somah. Ke arah timur menyusul rumah anak, cucu, lalu cicit. Jadi kamu bisa membaca umur satu keluarga dengan berjalan lurus dari barat ke timur.

Dapurnya dipakai bersama, biasanya di belakang rumah induk. Kandang sapi — kandheng — ada di sisi luar. Sumber kami tidak seragam soal letak pastinya: ada yang menyebut sisi selatan, ada yang menyebut timur berdampingan dengan dapur. Yang tetap cuma langgarnya di barat.

Rumahnya dibangunkan untuk anak perempuan

Ini bagian yang paling sering membuat orang luar berhenti sebentar.

Di Madura, anak perempuan yang sudah berkeluarga tetap tinggal bersama orang tuanya. Yang pindah suaminya. Dan orang tua wajib membangunkan rumah untuknya — diberikan sebagai sangkolan — didirikan di sebelah timur rumah keluarga.

Jadi deretan rumah di satu tanean itu garis keturunan perempuan: ibu, anak perempuan, cucu perempuan, seterusnya ke timur. Halaman panjang itu sebetulnya silsilah yang dibangun dari batu bata.

Ukuran dan atapnya

Rumah induknya sekitar 6,6 meter kali 11 meter. Dapurnya sekitar 3,8 kali 6,6 meter, dan ukuran itu masuk akal karena ia melayani beberapa rumah tangga sekaligus, bukan satu.

Bagian depan rumah disebut amper, bagian dalam delem. Amper itu serambi teduh tempat orang duduk dan tamu diterima, dan ia menghadap ke halaman — bukan ke jalan.

Atapnya punya empat bentuk yang dikenali namanya: trompesan, bangsal, pegun, dan pacenan. Semuanya berkerabat dengan atap Jawa, tapi tritisannya jauh lebih lebar. Hiasan bubungannya sering disebut jengger ayam.

Kenapa bentuknya masuk akal

Satu halaman yang dikelilingi rumah berarti anak-anak main di tempat yang terlihat dari semua pintu. Dapur satu untuk beberapa keluarga berarti kayu bakar dan tenaga tidak dipakai berulang. Kandang di sisi luar menjaga baunya tidak masuk ke halaman, sekaligus menaruh sapi — modal paling mahal keluarga Madura — di tempat yang gampang diawasi.

Dan langgar di ujung barat berarti tidak ada yang perlu keluar tanean untuk salat berjamaah.

Semua itu bukan hiasan adat. Itu tata ruang yang menyelesaikan persoalan sehari-hari, dan kebetulan juga menjelaskan siapa keluarga yang tinggal di dalamnya.

0811-147-797