Budaya · Madura
Perahu Madura, warna di lambungnya yang sebenarnya alat ukur
Pita warna-warni di lambung perahu Madura disebut andangan, dari kata andang — pelangi. Ia hiasan, sekaligus penanda batas muatan.
Perahu Madura gampang dikenali dari jauh: haluannya menjulang, dan lambungnya bergaris-garis warna terang. Yang jarang diketahui, garis-garis itu ada kerjanya.
Andangan, dari kata pelangi
Pita warna di lambung perahu itu disebut andangan, dari kata andang yang berarti pelangi.
Orang menganggapnya membawa tuah, dan itu bagian yang tidak bisa kami buktikan. Yang bisa dijelaskan bagian keduanya: andangan dipakai sebagai penanda batas muatan. Semakin berat isi perahu, semakin turun lambungnya, dan pita warna itu yang memberi tahu sudah sampai mana.
Artinya cat di lambung perahu Madura bekerja seperti garis muat pada kapal besar. Ia harus dirawat dan dicat ulang berkala, bukan karena kusam, melainkan karena kalau batasnya tidak lagi terbaca, yang hilang bukan cuma bagusnya.
Susunan garisnya dulu dianggap aturan yang pantang diubah. Sekarang kamu tahu kenapa: mengubah urutannya sama dengan mengubah penggarisnya.
Urutan warnanya berbeda di utara dan selatan
Warna yang dipakai hitam, merah, putih, kuning, cokelat, hijau, dan biru, disusun menurut kebiasaan setempat.
- Pesisir utara: hitam, putih, merah, kuning, hijau, merah.
- Pesisir selatan: hitam, kuning, hijau, merah.
Jadi dari urutan catnya saja, orang pesisir bisa menebak perahu itu pulangnya ke mana. Ini penanda daerah yang dibawa ke mana-mana, sama seperti corak batik menandai asal pembuatnya.
Sudah dicatat sejak 1925
Pelukis Belanda Jan Poortenaar menulis pada 1925 bahwa orang Madura gemar menghias perahunya dengan ukiran dan cat aneka warna — hitam dipadukan dengan putih dan merah menyala, di atas nada biru dan hijau.
Foto arsip dan cetakan lama di atas memperlihatkan hal yang sama. Bentuk haluannya, rumah geladaknya, dan cara melukis lambungnya sudah begitu jauh sebelum ada yang menyebutnya warisan budaya.
Bukan cuma perahu nelayan
Madura juga punya perahu dagang, yang paling dikenal golekan lete. Ia tidak dipakai menangkap ikan melainkan mengangkut barang dan orang, dan dulu berlayar sampai Singapura — di sana ia disebut perahu dagang Madura.
Bagian tegak berujung runcing di haluan dan buritan, yang disebut lenggi, biasanya yang paling penuh diukir dan dicat.
Kalau kamu menyusuri pesisir Sumenep pagi hari, perahu-perahu yang tertambat di pasir itu keturunan langsung dari bentuk tersebut — lebih kecil, mesinnya menggantikan layar, tapi haluan dan pita warnanya tetap.
Lanjut