Kembali ke Jelajah Madura

Budaya · Madura

Perahu Madura, warna di lambungnya yang sebenarnya alat ukur

Pita warna-warni di lambung perahu Madura disebut andangan, dari kata andang — pelangi. Ia hiasan, sekaligus penanda batas muatan.

Perahu nelayan berhaluan tinggi bercat hijau, kuning, dan merah dengan sulur putih, terapung di air tenang saat senja
Perahu kayu jati sekitar 4 meter panjang, 2 meter lebar, 1,5 meter tinggi, dipakai nelayan Madura. Foto Ivu Fajar Samsumar (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Foto sepia lama memperlihatkan perahu Madura berumah geladak anyaman bersandar di alur sungai berumah panggung
Perahu Madura di pelabuhan Jepara, foto arsip Museum Dunia Nasional Belanda. Lambung dan haluannya sudah berbentuk begitu sejak dulu. Foto Nationaal Museum van Wereldculturen (Domain publik) lewat Wikimedia Commons.
Cetakan berwarna lama bergambar dua perahu Madura berlayar bergaris-garis di laut dengan gunung di kejauhan
Cetakan berwarna, bukan foto. Layar bergaris dan lambung bercat itu yang membuat perahu Madura dikenali dari jauh. Foto KITLV, penulis tidak diketahui (CC BY 4.0) lewat Wikimedia Commons.

Perahu Madura gampang dikenali dari jauh: haluannya menjulang, dan lambungnya bergaris-garis warna terang. Yang jarang diketahui, garis-garis itu ada kerjanya.

Andangan, dari kata pelangi

Pita warna di lambung perahu itu disebut andangan, dari kata andang yang berarti pelangi.

Orang menganggapnya membawa tuah, dan itu bagian yang tidak bisa kami buktikan. Yang bisa dijelaskan bagian keduanya: andangan dipakai sebagai penanda batas muatan. Semakin berat isi perahu, semakin turun lambungnya, dan pita warna itu yang memberi tahu sudah sampai mana.

Artinya cat di lambung perahu Madura bekerja seperti garis muat pada kapal besar. Ia harus dirawat dan dicat ulang berkala, bukan karena kusam, melainkan karena kalau batasnya tidak lagi terbaca, yang hilang bukan cuma bagusnya.

Susunan garisnya dulu dianggap aturan yang pantang diubah. Sekarang kamu tahu kenapa: mengubah urutannya sama dengan mengubah penggarisnya.

Urutan warnanya berbeda di utara dan selatan

Warna yang dipakai hitam, merah, putih, kuning, cokelat, hijau, dan biru, disusun menurut kebiasaan setempat.

  • Pesisir utara: hitam, putih, merah, kuning, hijau, merah.
  • Pesisir selatan: hitam, kuning, hijau, merah.

Jadi dari urutan catnya saja, orang pesisir bisa menebak perahu itu pulangnya ke mana. Ini penanda daerah yang dibawa ke mana-mana, sama seperti corak batik menandai asal pembuatnya.

Sudah dicatat sejak 1925

Pelukis Belanda Jan Poortenaar menulis pada 1925 bahwa orang Madura gemar menghias perahunya dengan ukiran dan cat aneka warna — hitam dipadukan dengan putih dan merah menyala, di atas nada biru dan hijau.

Foto arsip dan cetakan lama di atas memperlihatkan hal yang sama. Bentuk haluannya, rumah geladaknya, dan cara melukis lambungnya sudah begitu jauh sebelum ada yang menyebutnya warisan budaya.

Bukan cuma perahu nelayan

Madura juga punya perahu dagang, yang paling dikenal golekan lete. Ia tidak dipakai menangkap ikan melainkan mengangkut barang dan orang, dan dulu berlayar sampai Singapura — di sana ia disebut perahu dagang Madura.

Bagian tegak berujung runcing di haluan dan buritan, yang disebut lenggi, biasanya yang paling penuh diukir dan dicat.

Kalau kamu menyusuri pesisir Sumenep pagi hari, perahu-perahu yang tertambat di pasir itu keturunan langsung dari bentuk tersebut — lebih kecil, mesinnya menggantikan layar, tapi haluan dan pita warnanya tetap.

0811-147-797