Kembali ke Jelajah Madura

Tokoh · Sumenep

Sultan Abdurrahman, raja Sumenep yang jadi rujukan Raffles

Ia membantu membaca prasasti yang tidak bisa dibaca orang Inggris, dan namanya masuk ke dalam History of Java.

Bangunan makam berkubah dengan dinding kuning dan ukiran hijau di kompleks Asta Tinggi, dikelilingi nisan-nisan
Kompleks Asta Tinggi di Kebonagung. Di kompleks inilah ia dimakamkan, dekat makam ayahnya. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.
Kereta kencana tua berwarna merah tua dengan ukiran emas dan lambang kerajaan di pintunya
Kereta kencana koleksi Museum Keraton Sumenep. Menurut riwayat keraton, ia hadiah dari pihak Inggris pada masa Sultan Abdurrahman. Foto LonNyoe (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Gapura batu Asta Tinggi dengan anak tangga naik ke kompleks makam raja-raja Sumenep
Gapura Asta Tinggi. Yang dimakamkan di dalamnya raja-raja Sumenep beserta keluarganya. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.

Tahun 1817 terbit di London sebuah buku setebal dua jilid berjudul The History of Java, ditulis Thomas Stamford Raffles. Di dalamnya ada nama Sultan Sumenep, disebut sebagai salah satu orang yang membantu penyusunannya.

Orang itu Sultan Abdurrahman Pakunataningrat, anak Panembahan Sumolo, yang memerintah Sumenep dari 1811 sampai 1854.

Kenapa seorang raja kecil bisa masuk buku itu

Raffles berkuasa di Jawa cuma lima tahun, dan sepanjang itu ia mengumpulkan naskah, prasasti, dan keterangan dari orang-orang yang bisa membacanya. Masalah yang ia hadapi sederhana dan besar sekaligus: sebagian tulisan yang ia kumpulkan memakai aksara dan bahasa yang tidak ada orang Eropa bisa baca.

Abdurrahman bisa. Ia menguasai Jawa Kuno dan Sanskerta, di samping Belanda dan Inggris, dan ia yang membantu membuka isi beberapa prasasti yang bertahun-tahun tidak tertembus.

Itu hubungan yang perlu dibaca dengan jujur ke dua arah. Raffles pejabat kolonial yang sedang menyusun pengetahuan tentang wilayah yang ia kuasai, dan Abdurrahman raja yang bekerja sama dengannya. Tapi yang terjadi di antara keduanya tetap pertukaran keilmuan, dan dalam pertukaran itu yang punya pengetahuan orang Sumenep.

Yang dilebih-lebihkan, dan kami sebut apa adanya

Riwayat keluarga menyebut ia menguasai sekitar empat puluh bahasa, hafal Al-Qur'an, ahli ilmu bintang dan ilmu tumbuhan, dan menerima gelar doktor kehormatan dari pihak Inggris.

Sebagian klaim itu tidak bisa kami periksa, dan kami tidak menuliskannya sebagai fakta. Yang bisa diperiksa: namanya memang ada di karya Raffles, dan ia memang raja Sumenep pertama yang bergelar Sultan.

Angka empat puluh itu jenis angka yang tumbuh tiap kali cerita dipindahkan. Yang tidak berubah dari semua versi: ia dikenal karena membaca, di zaman ketika raja lebih sering dikenal karena berperang.

Masanya

Empat puluh tiga tahun ia memerintah, dan itu masa paling panjang dan paling tenang dalam sejarah Sumenep modern. Keraton yang dibangun ayahnya diteruskan, naskah dikumpulkan, dan kota ditata.

Zamannya juga zaman ketika kekuasaan Belanda mengeras di seluruh Jawa dan Madura. Bahwa Sumenep lewat dari periode itu tanpa dihancurkan bukan kebetulan, dan itu bagian dari penilaian yang tidak seluruhnya nyaman tentang dia.

Di mana dia sekarang

Di Asta Tinggi, Kebonagung, di kompleks makam raja-raja Sumenep, dekat makam ayahnya. Kalau kamu ke sana, kubah-kubah kuning dan hijau di foto atas itu yang akan kamu lihat lebih dulu.

0811-147-797