Kembali ke Jelajah Madura

Tokoh · Sumenep

Panembahan Sumolo, raja yang membangun dua bangunan paling terkenal di Sumenep

Keraton dan Masjid Jamik dikerjakan pada masanya, oleh arsitek yang sama, dan keduanya masih berdiri.

Masjid Jamik Sumenep dengan atap tumpang bersusun dan pohon cemara tua di halamannya
Masjid Jamik Sumenep, dikerjakan 1779 sampai 1787 atas perintahnya. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.
Bangunan Keraton Sumenep beratap genteng merah dengan dinding kuning pucat, kini jadi museum
Bangunan keratonnya, sekarang Museum Keraton Sumenep. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.
Labang Mesem dilihat dari dalam kompleks keraton, gerbang kuning dengan menara pengawas di atasnya
Labang Mesem dari sisi dalam. Yang biasa difoto orang sisi satunya. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.

Dua bangunan yang paling sering difoto orang di Sumenep dikerjakan pada masa satu orang yang sama. Namanya Asirudin, gelarnya Panembahan Sumolo, dan ia juga dikenal sebagai Pangeran Natakusuma I.

Ayahnya seorang ulama, bukan raja

Ceritanya mulai satu generasi sebelum dia. Sumenep waktu itu dipimpin seorang ratu, Ratu Ayu Rasmana Tirtonegoro. Yang ia pilih sebagai suami bukan bangsawan melainkan seorang ulama dari kampung, Bindara Saod, yang ayahnya dari Batu Ampar di Pamekasan.

Pasangan itu tidak punya anak. Atas permintaan sang ratu sendiri, dua anak Bindara Saod dari istri sebelumnya dibawa ke keraton, dan yang bungsu, Asirudin, ditetapkan sebagai penerus lewat wasiat resmi. Jadi Sumolo naik takhta bukan karena lahir di keraton, melainkan karena dipilih di sana.

Ia memerintah mulai 1762. Dari dialah dinasti terakhir Sumenep berjalan sampai zaman Belanda.

Masjid Jamik, delapan tahun

Masjidnya dikerjakan 1779 sampai 1787. Perancangnya Lauw Piango, arsitek keturunan Tionghoa yang kakeknya termasuk rombongan pertama orang Tionghoa yang menetap di Sumenep.

Yang ia kerjakan bukan bangunan bergaya tunggal. Di Masjid Jamik bertemu unsur Jawa, Tionghoa, Persia, Arab, dan India dalam satu bangunan, dan itu paling terbaca di gerbangnya.

Keraton, dan pintu yang tersenyum

Keratonnya dikerjakan orang yang sama, satu paket dengan masjidnya. Gerbang utamanya Labang Mesem, pintu tersenyum dalam bahasa Madura.

Sekarang sebagian kompleksnya jadi museum, dan di dalamnya tersimpan naskah, perabot, dan koleksi keris yang mengingatkan bahwa Sumenep punya kampung empu sendiri.

Yang juga dinisbatkan ke dia

Sebagian penutur di Sumenep menempatkan awal karapan sapi pada masanya, sebagai cara menghidupkan pertanian di musim kemarau. Versi lain menariknya jauh lebih ke belakang, ke Pangeran Katandur. Kami tidak bisa memutuskan yang mana, dan kedua versi itu tetap hidup berdampingan di kabupaten yang sama.

Yang bisa kamu lihat sendiri

Masjid Jamik, keraton, dan Pasar Anom Baru berdiri berdekatan di pusat kota, dan ketiganya bisa dijalan kaki. Artinya dalam satu sore kamu bisa berdiri di dua bangunan yang diperintahkan satu orang dan dirancang satu orang lain, dua ratus empat puluh tahun yang lalu.

0811-147-797