Kembali ke Jelajah Madura

Tokoh · Sumenep

Pangeran Katandur, cucu Sunan Kudus yang berdakwah lewat bajak sawah

Namanya datang dari kata menanam, dan alat bajak yang ia ajarkan dituding sebagai asal-usul karapan sapi.

Petani membajak tanah dengan sepasang sapi merah yang menarik bajak kayu
Sepasang sapi menarik satu bajak. Bentuk inilah yang menurut riwayat Sumenep diajarkan Pangeran Katandur, dan di Madura masih dipakai. Foto Ayah bagas (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Foto hitam putih sepasang sapi karapan berhias payung dan kain, dikelilingi kerumunan orang
Karapan sapi di Madura, difoto 1932. Sapi pemenang dihias, bukan sapi yang berlari. Foto M.J. van Benthem Jutting (CC BY-SA 3.0) lewat Wikimedia Commons.
Hamparan sawah hijau di Madura dengan pematang dan pohon di kejauhan
Sawah di Madura. Tanahnya kering dan berkapur, dan itu yang membuat cara menanam di sini jadi soal. Foto Muufii (CC BY 4.0) lewat Wikimedia Commons.

Nama aslinya Syekh Ahmad Baidhawi. Yang dipakai orang Pangeran Katandur, dan katandur datang dari nandur, menanam. Orang diberi julukan menurut apa yang paling sering mereka kerjakan, dan yang ini menghabiskan hidupnya di ladang.

Dari Kudus ke Sumenep

Ia disebut cucu Sunan Kudus, lewat ayahnya Panembahan Pakaos. Datang ke Sumenep sekitar abad keenam belas, pada masa penyebaran Islam di pesisir timur.

Yang membedakannya dari juru dakwah lain caranya. Ia tidak memulai dari masjid, melainkan dari tanah. Ia ikut turun ke ladang bersama orang kampung, mengajarkan cara mengolahnya, dan agama dibicarakan sambil bekerja.

Alat yang ia ajarkan

Alatnya disebut nanggala atau salaga: kayu yang ditarik sepasang sapi untuk memecah tanah. Untuk Madura, itu bukan detail kecil. Tanah di sini sebagian besar kering dan berkapur, bukan sawah berair seperti di Jawa, dan cara menggarapnya memang harus berbeda.

Sebagian riwayat juga menyebut dia sebagai orang yang mengenalkan tembakau di Madura. Kalau benar, itu menjelaskan banyak hal tentang Pamekasan dan Sumenep hari ini.

Dan dari situ, katanya, karapan sapi

Riwayat yang paling banyak beredar di Sumenep menarik garis dari alat bajak itu ke karapan sapi: sepasang sapi, satu alat kayu, satu orang berdiri, dan lintasan tanah. Yang tadinya kerja, lalu jadi adu cepat, lalu jadi tontonan.

Tapi ini bukan satu-satunya versi, dan kami tidak ingin menutupinya. Ada budayawan Sumenep yang menempatkan awal karapan jauh lebih belakangan, pada masa Panembahan Sumolo di abad kedelapan belas, sebagai cara menggairahkan pertanian di musim kemarau. Yang menarik, kedua versi ini tidak benar-benar bertengkar: Sumolo sendiri keturunan Katandur.

Kalau kamu mau ke makamnya

Asta Katandur ada di Desa Bangkal, Kecamatan Kota Sumenep, dan masih diziarahi. Dari pusat kota tidak jauh, dan biasanya dijadikan satu rangkaian dengan Asta Tinggi oleh peziarah yang datang dari luar.

0811-147-797