Kembali ke Jelajah Madura

Cerita · Madura

Raden Segara, bayi yang dihanyutkan lalu jadi asal pulau ini

Cerita tentang bagaimana Madura ada. Dimulai dari seorang putri yang dituduh, dan sebuah rakit yang didorong ke laut utara.

Mural bergaya wayang beber yang menceritakan Raden Segara dari kiri ke kanan: sang putri tidur di balai keraton di bawah bulan sabit, raja menunjuk marah dari singgasana, patih menuntunnya ke tepi laut, rakit bambu didorong ke laut, bayi lahir di atas rakit, dan seorang anak lelaki membanting dua ular yang jatuh sebagai dua tombak

Tanya orang Madura dari mana pulau ini berasal, dan kamu tidak akan dapat satu jawaban. Kamu akan dapat beberapa. Yang menarik, semuanya dimulai dari perempuan yang sama.

Seorang putri yang mengandung tanpa disentuh siapa pun

Namanya berbeda-beda tergantung siapa yang bercerita: Dyah Cendrawati, Raden Ayu Ratna Doro Gung, atau yang paling sering disebut, Bendoro Gung. Ia putri Kerajaan Medang Kamulan. Pada satu versi ia bermimpi menelan bulan, lalu bangun dan mendapati dirinya mengandung.

Istana tidak menerima penjelasan itu. Ayahnya memerintahkan putrinya dibunuh.

Patih yang membangkang

Yang ditugaskan Patih Pranggulang. Ia membawa sang putri ke hutan, lalu ke tepi laut, dan di sanalah ceritanya berbelok: kerisnya tidak mau menembus.

Patih itu membaca kejadian tadi sebagai jawaban, dan ia memilih tidak menjalankan perintah rajanya. Ia merakit bambu, mendudukkan putri itu di atasnya, dan mendorongnya ke laut utara. Sebelum berpisah ia meninggalkan satu pesan: kalau suatu saat ia dibutuhkan, injakkan kaki ke tanah tiga kali.

Sejak hari itu ia meninggalkan namanya sendiri dan dikenal sebagai Ke Poleng, dari kain poleng hitam putih yang dipakainya.

Bayi yang lahir di atas air

Di tengah laut, di atas rakit itu, putri tadi melahirkan anak laki-laki. Ia menamainya Raden Segara, dan segara dalam bahasa Madura artinya laut.

Rakitnya akhirnya berhenti. Di sinilah versinya paling banyak berselisih. Ada yang menyebut sepetak tanah yang muncul dari laut di bawah sebatang pohon, yang kelak jadi Gunung Geger di Bangkalan. Ada yang menyebut pantai berpohon nipah yang sekarang jadi Desa Nepa di Banyuates, Sampang.

Kami tidak memilih di antara keduanya. Dua-duanya masih diceritakan orang di kampungnya masing-masing, dan tidak ada yang berhak menghapus salah satunya.

Dua ular yang jadi dua tombak

Waktu Raden Segara masih kecil, dua ular raksasa datang ke tempat mereka tinggal. Ibunya menginjak tanah tiga kali.

Ke Poleng datang, dan yang ia ucapkan bukan perintah lari. Ia menyuruh anak itu menangkapnya. Raden Segara menangkap keduanya lalu membantingnya ke tanah, dan yang jatuh bukan lagi ular melainkan dua tombak: Alugoro dan Nenggolo.

Ingat nama yang kedua. Ia akan muncul lagi ratusan tahun kemudian, di cerita Ke' Lesap, di tangan orang yang sama sekali berbeda dan untuk urusan yang sama sekali lain.

Nama pulaunya

Ada beberapa penjelasan yang beredar, dan tidak satu pun bisa dibuktikan:

  • Dari madu oro, arah menuju hamparan yang luas, yaitu ke mana rakit itu didorong.
  • Dari lemah Doro, tanahnya Doro Gung, yang lama-lama luruh jadi Madura.
  • Dari tindakan Ke Poleng yang membangkang, dan kata itu menempel jadi nama tempat sang putri berlabuh.

Yang bisa kami katakan cuma satu: semua penjelasannya kembali ke perempuan yang sama dan ke satu rakit yang sama.

Kenapa cerita ini masih dipegang orang

Gunung Geger bukan tempat khayalan. Ia ada di Kecamatan Geger, Bangkalan, dan orang masih naik ke sana. Begitu juga Nepa di Sampang, yang hutannya masih dihuni kera sampai hari ini.

Cerita seperti ini biasanya dibaca sebagai dongeng asal-usul, dan memang begitu. Tapi ada yang lain di dalamnya kalau kamu perhatikan: seluruh pulau ini diceritakan bermula dari orang yang dibuang, dan dari orang kedua yang menolak menjalankan perintah membunuh.

Bagi pulau yang penduduknya terkenal keras kepala soal harga diri, itu bukan asal-usul yang dipilih sembarangan.

0811-147-797