Kembali ke Jelajah Madura

Cerita · Bangkalan

Ke' Lesap, pemberontak yang namanya jadi nama kota

Ia hampir menguasai seluruh Madura, dan jatuh bukan karena kalah bertempur melainkan karena satu bendera putih.

Mural bergaya wayang beber yang menceritakan Ke' Lesap dari kiri ke kanan: anak lelaki berdiri di luar pagar keraton tanpa ada yang menoleh, ia dewasa dikelilingi pengikut bersenjata, barisannya bergerak melewati kampung demi kampung, peta pulau yang seluruhnya sudah di tangannya kecuali Bangkalan, seorang penari perempuan membawa bendera putih, tombak pusaka bercahaya di tangan Cakraningrat, dan orang-orang menyaksikan dari bukit sambil berseru
Seruan di papan terakhir dilukis menyatu sebagai "Bangkala'an"; dalam tulisan ini ia dua kata, bangka la'an, dan justru peluruhannya jadi satu kata itu yang melahirkan nama Bangkalan.

Sebagian besar cerita rakyat Madura berakhir dengan tokohnya dimuliakan. Yang ini tidak. Yang ini berakhir dengan satu seruan pendek dari kejauhan, dan seruan itu masih kamu ucapkan setiap kali menyebut nama kotanya.

Anak yang tidak diakui

Cerita yang beredar menyebut Ke' Lesap anak Cakraningrat, penguasa Bangkalan, dari perempuan yang bukan permaisuri. Ia tumbuh tanpa pengakuan dari ayahnya.

Peristiwanya diletakkan orang di sekitar pertengahan abad kedelapan belas, dan di sini cerita rakyat bersinggungan dengan sejarah: masa itu memang masa Madura berada di bawah pengaruh kekuasaan dari seberang laut.

Menggulung pulau dari timur

Ke' Lesap dikenal sakti dan berani, dan ia mengumpulkan pengikut. Yang ia lawan bukan orang asing, melainkan keluarga penguasa Madura sendiri.

Ia bergerak dan menaklukkan wilayah satu demi satu sampai hampir seluruh pulau ada di tangannya. Yang tersisa Bangkalan.

Yang mengalahkannya bukan pasukan

Di sinilah ceritanya berbelok jadi cerita tentang tipu daya, bukan tentang kesaktian.

Pihak Bangkalan mengirim seorang perempuan penari membawa bendera putih, berpakaian keraton. Bendera putih artinya menyerah, dan Ke' Lesap menerimanya sebagai menyerah.

Yang datang sesudahnya bukan penyerahan. Tombak pusaka Ki Nenggolo disebut bergetar dan mengeluarkan cahaya, dan Cakraningrat mengambilnya lalu bergerak menemui Ke' Lesap. Tombak itu menancap di dadanya.

Kalau nama Nenggolo terasa pernah kamu baca, memang pernah. Ia salah satu dari dua tombak yang, menurut cerita Raden Segara, dulunya sepasang ular raksasa. Cerita rakyat Madura suka menyambung dirinya sendiri seperti ini.

Seruan yang jadi nama

Orang yang menyaksikan dari kejauhan berseru dalam bahasa Madura: bangka la'an, yang artinya mati sudah.

Seruan itu menyebar dari mulut ke mulut, menempel ke tempat kejadiannya, dan pelafalannya luruh jadi Bangkalan.

Kami bilang terus terang: ini penjelasan asal-usul nama yang beredar di tradisi lisan, bukan yang bisa dirujuk ke satu dokumen. Penjelasan asal nama yang berbunyi terlalu rapi biasanya memang tumbuh belakangan, sesudah namanya lebih dulu ada.

Pahlawan atau perusuh

Tergantung siapa yang kamu tanya, dan itu bukan basa-basi.

Dari sudut keraton, ia pemberontak yang menyerang keluarganya sendiri. Dari sudut orang kampung, ia orang yang melawan kekuasaan yang bersandar pada kekuatan dari seberang laut, dan yang kalah bukan karena lemah melainkan karena percaya pada bendera putih.

Yang bertahan sampai sekarang versi kedua. Di Madura, tokoh yang dikenang bukan selalu yang menang.

0811-147-797