Kembali ke Jelajah Madura

Tempat · Sumenep

Kalianget, kota tua yang dibangun karena garam

Pelabuhan utama Sumenep, bekas kota industri Belanda, dan gedung-gedungnya masih berdiri meski tidak lagi dipakai.

Bangunan kolonial tua di Kota Tua Kalianget dengan dinding mengelupas dan jendela lengkung
Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.
Gerbang lengkung benteng VOC Kalianget dari batu yang sudah menghitam
Sisa benteng VOC di Kalianget, satu lagi peninggalan masa pelabuhannya. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.
Gedung kantor PT Garam bercat putih dengan logo perusahaan di dindingnya
Garam yang dulu membangun kota ini sampai sekarang masih jadi urusan perusahaan negara. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.

Sekitar 10 kilometer di tenggara kota. Sebagian orang lewat sini cuma untuk naik kapal, dan tidak menyadari sedang melewati kota yang dulu paling sibuk di Sumenep.

Kenapa ada kota di sini

Satu alasan: garam. Pesisir Kalianget punya kombinasi yang jarang, yaitu lahan datar luas, air laut berkadar garam tinggi, dan musim kering panjang. Itu bahan baku tambak garam yang bagus.

Belanda membangun industri garam di sini, dan bersamanya datang semua yang dibutuhkan kota industri: pabrik, gudang, perumahan pegawai, rumah sakit, gedung pertemuan, sampai bioskop.

Yang tersisa

Bangunannya masih ada. Sebagian dipakai, sebagian kosong, dan sebagian seperti di foto atas: berdiri utuh tapi dindingnya sudah mengelupas dan jendelanya tinggal bingkai.

Ada juga sisa benteng VOC di dekat pelabuhan. Kawasan ini biasa disebut Kota Tua Kalianget, dan menyusurinya bisa jalan kaki.

Satu hal yang jujur perlu dibilang: ini bukan kawasan wisata yang ditata. Tidak ada papan keterangan di tiap gedung, dan sebagian bangunan itu masih rumah orang. Datang seperlunya, dan kalau mau memotret rumah yang berpenghuni, tanya dulu. Cukup bilang ta' langkong.

Pelabuhannya

Dari Kalianget kapal berangkat ke pulau-pulau timur Sumenep: Poteran, Sapudi, Ra'as, Kangean, dan Masalembu. Ini juga salah satu titik berangkat ke Gili Labak.

Jadwalnya mengikuti cuaca dan pasang, bukan jam dinding. Tanya langsung di pelabuhan, dan jangan mengandalkan jadwal yang beredar di internet.

Garamnya masih ada

Tambak garam di sekitarnya masih bekerja sampai sekarang, dan petaninya masih menjalankan tradisi Nyadar tiap tahun. Kalau kamu lewat di musim kemarau, hamparan petak berair dangkal di kiri kanan jalan itu tambaknya.

Perlu diantar sampai pelabuhan? Layanan Mobil kami jalan tiap hari.

0811-147-797