Tempat · Sumenep
Kalianget, kota tua yang dibangun karena garam
Pelabuhan utama Sumenep, bekas kota industri Belanda, dan gedung-gedungnya masih berdiri meski tidak lagi dipakai.
Sekitar 10 kilometer di tenggara kota. Sebagian orang lewat sini cuma untuk naik kapal, dan tidak menyadari sedang melewati kota yang dulu paling sibuk di Sumenep.
Kenapa ada kota di sini
Satu alasan: garam. Pesisir Kalianget punya kombinasi yang jarang, yaitu lahan datar luas, air laut berkadar garam tinggi, dan musim kering panjang. Itu bahan baku tambak garam yang bagus.
Belanda membangun industri garam di sini, dan bersamanya datang semua yang dibutuhkan kota industri: pabrik, gudang, perumahan pegawai, rumah sakit, gedung pertemuan, sampai bioskop.
Yang tersisa
Bangunannya masih ada. Sebagian dipakai, sebagian kosong, dan sebagian seperti di foto atas: berdiri utuh tapi dindingnya sudah mengelupas dan jendelanya tinggal bingkai.
Ada juga sisa benteng VOC di dekat pelabuhan. Kawasan ini biasa disebut Kota Tua Kalianget, dan menyusurinya bisa jalan kaki.
Satu hal yang jujur perlu dibilang: ini bukan kawasan wisata yang ditata. Tidak ada papan keterangan di tiap gedung, dan sebagian bangunan itu masih rumah orang. Datang seperlunya, dan kalau mau memotret rumah yang berpenghuni, tanya dulu. Cukup bilang ta' langkong.
Pelabuhannya
Dari Kalianget kapal berangkat ke pulau-pulau timur Sumenep: Poteran, Sapudi, Ra'as, Kangean, dan Masalembu. Ini juga salah satu titik berangkat ke Gili Labak.
Jadwalnya mengikuti cuaca dan pasang, bukan jam dinding. Tanya langsung di pelabuhan, dan jangan mengandalkan jadwal yang beredar di internet.
Garamnya masih ada
Tambak garam di sekitarnya masih bekerja sampai sekarang, dan petaninya masih menjalankan tradisi Nyadar tiap tahun. Kalau kamu lewat di musim kemarau, hamparan petak berair dangkal di kiri kanan jalan itu tambaknya.
Perlu diantar sampai pelabuhan? Layanan Mobil kami jalan tiap hari.
Lanjut