Kembali ke Jelajah Madura

Oleh-Oleh · Sumenep

Kerupuk pattola, ikan tenggiri yang dibentuk seperti mi

Dibuat di satu desa di jalan antara kota Sumenep dan Kalianget. Bentuknya gulungan mi kecil, dan bahan utamanya ikan.

Kerupuk pattola berbentuk gulungan mi kecil berwarna putih gading, ditumpuk di atas potongan kayu
Foto Alfiyah Rizzy Afdiquni (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.

Yang ada di tangan kamu terlihat seperti segenggam mi yang lupa dimasak, lalu mengeras jadi satu keping bulat. Bukan mi, dan bukan tepung saja: bahan utamanya ikan.

Ikan tenggiri lebih dulu

Daging ikan tenggiri dipisahkan dari durinya, lalu digiling. Hasil gilingan itu dicampur tepung terigu dan bumbu sampai jadi adonan yang bisa dipanjangkan.

Adonannya lalu dibentuk menyerupai pattola basah, dikukus sekitar dua puluh menit, dan dijemur dua sampai tiga hari sampai cukup kering untuk disimpan.

Jemuran itu yang jadi hambatan terbesar pembuatnya. Tidak ada oven pengganti matahari di sana, jadi musim hujan langsung memotong produksinya, dan pemerintah desa sendiri yang menyebut itu sebagai tantangan utamanya.

Namanya dipinjam dari makanan lain

Pattola di Sumenep sebenarnya nama makanan yang berbeda: adonan tepung beras berbentuk seperti mi, disiram santan dan gula merah, dan paling sering muncul di bulan Ramadan. Kerupuk ini memakai namanya karena bentuknya meniru bentuk itu.

Kami tidak menemukan sumber yang menjelaskan mana yang lebih dulu ada, jadi kami berhenti di hubungan bentuknya saja. Keduanya sama-sama paling dikenal dari kawasan Marengan.

Satu desa di jalan ke Kalianget

Marengan Daya duduk di jalur penghubung kota Sumenep dan Kalianget, dan itu bukan kebetulan: desa dagang yang lewat jalannya orang yang menuju pelabuhan. Pemerintah desa menyebut kerupuk pattola sudah jadi identitas ekonomi warganya secara turun-temurun.

Buat pembaca yang lewat, artinya satu hal praktis: kamu tidak perlu mengambil jalan memutar. Desanya persis di jalan yang kamu pakai kalau menyeberang ke Talango atau ke Kalianget.

Bedanya dengan dua kerupuk Madura yang lain

Kerupuk kepang dibentuk tangan lalu dibiarkan mekar bebas. Kerupuk pe-tampe dijepit di tengah supaya tidak mekar seluruhnya. Pattola tidak mekar sama sekali; yang dicari justru kerangka mi yang tetap terbaca sesudah digoreng.

Satu lagi yang membedakan: dua yang di atas adonan tepung, yang ini ikan. Rasa gurihnya datang dari bahannya sendiri, bukan dari bumbu yang ditaburkan belakangan.

Sebelum kamu beli

  • Ambil yang mentah kalau perjalananmu masih jauh. Bentuknya yang berongga membuatnya gampang remuk sesudah digoreng, dan remukannya tidak bisa dikumpulkan lagi jadi keping.
  • Lihat rongga di antara untaiannya. Yang bagus jelas berongga dan ringan. Yang padat berarti terlalu banyak tepung.
  • Simpan jauh dari uap dapur. Ia menyerap lembap lebih cepat daripada kerupuk lembaran karena permukaannya jauh lebih luas.

Di mana belinya

3 tempat yang menyediakannya.

  1. Desa Marengan Daya

    Kecamatan Kota Sumenep, di jalan Sumenep-Kalianget

    Sentra pembuatannya. Pengolahan sampai pengemasan dikerjakan di rumah-rumah warga, dan bisa dilihat dari jalan.

  2. Toko Oleh-Oleh Sumenep

    Jl. Dr. Wahidin No. 9, Lingkungan Delama, Pajagalan, Kota Sumenep

    Buka sampai pukul sembilan malam, jadi ia yang paling masuk akal kalau kamu baru selesai jalan-jalan.

  3. Mall UMKM Sumenep

    Jl. Dr. Soetomo, Lingkungan Delama, Kota Sumenep

    Pusat oleh-oleh resmi kabupaten, buka 08.00 sampai 16.00. Isinya diambil langsung dari perajinnya.

Jam buka dan harga berubah tanpa pemberitahuan, dan warung kecil kadang tutup tanpa mengumumkan apa pun.

0811-147-797