Kembali ke Jelajah Madura

Tokoh · Pamekasan

Mohammad Tabrani, wartawan Pamekasan yang menamai bahasa Indonesia

Pada 1926 ia menolak nama bahasa Melayu untuk bahasa persatuan. Dua tahun kemudian Sumpah Pemuda memakai nama yang ia usulkan, dan ia tidak hadir di sana.

Nisan hitam bertulisan emas M. Tabrani, Perintis Kemerdekaan, lahir 10-10-1904, wafat 12-1-1984, diapit dua pot tanaman di pemakaman yang rindang
Nisannya di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Ia dimakamkan di Jakarta, bukan di Pamekasan. Fotonya dipotong sedikit di bagian bawah. Foto Makamindo (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Potret hitam putih Mohammad Tabrani berkacamata, wajah menghadap ke depan
Potretnya dari buku tentang sejarah pers terbitan 1958. Fotonya kecil dan dipotong jadi mendatar dari aslinya yang tegak, dengan potongan di bagian kepala. Foto Sudarjo Tjokrosisworo (Domain publik) lewat Wikimedia Commons.
Foto lama gedung loji De Ster in het Oosten di Batavia, bangunan putih bertiang enam dengan bintang di puncak atapnya
Loji De Ster in het Oosten di Weltevreden, Batavia, dalam foto zaman Belanda yang tahunnya tidak tercatat. Kongres Pemuda Pertama digelar di loji ini pada 1926. Foto KITLV, penulis tidak diketahui (CC BY 4.0) lewat Wikimedia Commons.

Tiap kali kamu menyebut kata "bahasa Indonesia", kamu sedang memakai nama yang diperjuangkan seorang wartawan dari Pamekasan. Namanya Mohammad Tabrani, dan ia memperjuangkannya justru di hari ketika hampir semua orang di ruangan itu setuju dengan nama lain.

Pamekasan, 10 Oktober 1904

Mohammad Tabrani Soerjowitjitro lahir di Pamekasan. Ia sekolah di HIS Pamekasan, lalu MULO di Surabaya, lalu OSVIA di Bandung, sekolah untuk calon pegawai pribumi.

Ia tidak jadi pegawai. Selepas OSVIA ia masuk koran, dan pada 1925 ia sudah memimpin harian Hindia Baroe di Batavia.

Dua tulisan di awal 1926

Pada 10 Januari 1926 ia menulis tajuk di Hindia Baroe yang memakai istilah "bahasa Indonesia" untuk bahasa bersama di Hindia. Sebulan kemudian, 11 Februari, ia menulis lagi dengan judul Bahasa Indonesia, dan kali ini nadanya terang-terangan: kalau bangsa dan bahasa Indonesia belum ada, terbitkanlah.

Judul tulisan Januari itu disebut berbeda antar sumber. Yang tidak berselisih tanggalnya dan isinya.

Kongres Pemuda Pertama

Tabrani jadi ketua Kongres Pemuda Pertama, 30 April sampai 2 Mei 1926, di loji De Ster in het Oosten di Batavia. Di hari terakhir Mohammad Yamin mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, dan sebagian besar yang hadir setuju.

Tabrani menolak. Jalan pikirannya sederhana: kalau tanah airnya Indonesia dan bangsanya Indonesia, bahasanya juga harus bernama bahasa Indonesia. Dalam kenangannya sendiri, Yamin marah dan menjawab bahwa yang ada bahasa Melayu, sedangkan bahasa Indonesia tidak ada. Keputusannya ditunda ke kongres berikutnya.

Kongres itu datang pada 28 Oktober 1928, dan rumusan Sumpah Pemuda menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Tabrani tidak hadir. Ia sedang belajar jurnalistik di Eropa, di Berlin dan Köln.

Gedung lojinya sendiri sekarang jadi apa, sumber tidak sepakat. Ada yang menyebut gedung di Jalan Budi Utomo, ada yang menyebut Gedung Bappenas. Kami tidak memilih.

Koran, partai, dan penjara

Pulang dari Eropa ia mendirikan Partai Rakyat Indonesia pada 1930 dan memimpin majalah Revue Politik. Pada 1932 sampai 1936 ia pulang ke kampungnya dan memimpin surat kabar Sekolah Kita di Pamekasan.

Sesudah itu ia memimpin harian Pemandangan di Batavia, dan lewat koran itu ia mendukung Petisi Soetardjo yang meminta Hindia punya parlemen sendiri. Di masa Jepang ia dipenjara dan disiksa sampai kakinya cacat.

Pahlawan Nasional, 2023

Ia wafat di Jakarta pada 12 Januari 1984 dan dimakamkan di Tanah Kusir. Gelar Pahlawan Nasional untuknya ditetapkan lewat Keputusan Presiden Nomor 115/TK/Tahun 2023 dan diserahkan pada 10 November 2023, hampir empat puluh tahun sesudah ia wafat.

Pamekasan menyusulnya dengan nama. Sejak 2023 Jalan Swatantra jadi Jalan M. Tabrani, dan perpustakaan daerah, gelanggang olahraga di Jalan Teja, serta taman Gladak Anyar ikut memakai namanya.

Pamekasan, dua nama

Sebelum dia, tokoh Pamekasan yang kami tulis cuma satu, raja yang memberi kota ini namanya, Ronggosukowati. Empat abad kemudian orang dari kota yang sama memberi nama untuk bahasa yang sekarang kamu baca.

Ia juga bukan satu-satunya orang Madura yang namanya baru dikenal luas jauh sesudah ia tiada. Kalau penasaran, baca juga Halim Perdanakusuma dari Sampang.

0811-147-797