Kembali ke Jelajah Madura

Oleh-Oleh · Pamekasan

Ikan asin Pamekasan, laut yang dijemur di atas bambu

Teri dan ikan laut yang dijemur perempuan pesisir di Pegagan dan Branta. Satu-satunya oleh-oleh di daftar ini yang datang langsung dari perahu.

Lapak pasar berisi tumpukan teri nasi putih, teri kering, dan ikan belah yang sudah dikeringkan di atas koran
Foto ini dari pasar tradisional di Jakarta Utara, bukan dari Madura. Kami tidak menemukan foto berlisensi bebas dari Pegagan atau Branta. Teri nasi di tengah dan ikan belahnya bentuk yang sama dengan yang dijual di sana. Foto Sakurai Midori (CC BY-SA 3.0) lewat Wikimedia Commons.

Kebanyakan oleh-oleh di daftar ini dibuat di dapur. Yang satu ini dibuat di halaman, di bawah matahari, dan bahannya baru turun dari perahu pagi itu.

Pesisir selatan Pamekasan menghadap Selat Madura, dan di dua desanya, Pegagan di Kecamatan Pademawu dan Branta Pesisir di Kecamatan Tlanakan, menjemur ikan adalah pekerjaan sehari-hari.

Dijemur di atas bedek

Ikannya dijemur di atas bedek, alas anyaman bambu kira-kira satu setengah kali satu meter, yang dijajarkan di halaman gudang. Yang mengurusnya banyak perempuan, istri dan tetangga nelayan.

Mereka bekerja dari pagi sampai pukul empat sore, mengecek mana yang sudah kering, lalu mengangkatnya ke gudang. Tidak ada sekolahnya. Yang baru belajar dengan melihat yang lebih dulu bekerja.

Pekerjaan ini bergantung penuh pada cuaca. Di musim kemarau mereka bisa bekerja enam hari seminggu. Di musim hujan cuma tiga atau empat hari, karena hujan datang tanpa bisa ditebak dan ikan yang basah lagi tidak bisa diselamatkan.

Dua teri, dua sisi

Di Pegagan, teri dibedakan jadi dua. Kèndui potè, teri putih, yang di tempat lain disebut teri nasi. Dan kèndui parot, yang di pasar Jawa disebut teri jengki. Keduanya dijemur di sisi yang berbeda, teri nasi di selatan dan teri jengki di utara, supaya tidak tercampur.

Di foto atas keduanya ada: tumpukan putih di tengah itu teri nasi, dan yang lebih gelap di kanan teri jengki.

Harganya ikut laut

Ikan asin tidak punya harga tetap, karena bahannya tidak bisa dipesan. Pada 2013, harga ikan kering di Branta Pesisir pernah naik sampai tiga puluh lima persen dalam seminggu. Sebabnya bukan permintaan, melainkan solar yang langka: perahu tidak berangkat, tangkapan sedikit, dan yang dijemur ikut sedikit.

Jadi kalau harga yang kamu temui berbeda dari yang diceritakan orang, itu bukan berarti kamu ditipu. Lautnya memang sedang begitu.

Sebelum kamu beli

Cium dulu. Ikan asin yang baik baunya laut dan asin, bukan busuk atau apak. Pegang juga: yang benar-benar kering terasa kaku dan tidak lengket, dan yang masih lembap tidak akan bertahan lama di perjalanan.

Untuk dibawa pulang, ia termasuk oleh-oleh yang paling awet di daftar ini. Garam dan matahari sudah mengerjakan pengawetannya. Yang jadi masalah cuma baunya, jadi bungkus rapat dua lapis plastik dan jauhkan dari pakaian.

Kalau kamu ingin oleh-oleh laut yang sudah siap dimakan, ada kerupuk udang Kwanyar dan petis. Ikan asin untuk yang masih mau memasak sendiri.

Di mana belinya

2 tempat yang menyediakannya.

  1. Desa Pegagan

    Dusun Soro', Kecamatan Pademawu, Pamekasan

    Di sini teri dijemur di gudang-gudang usaha rumahan, dan musim kemarau musim terbaiknya. Datang pagi kalau mau melihat bedeknya masih penuh.

  2. Desa Branta Pesisir

    Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, dekat pelabuhan Branta

    Nelayannya menjemur hasil tangkapan sendiri, dan desa ini punya tempat pelelangan ikan dan pasar tradisional. Harganya ikut naik turun dengan hasil melaut minggu itu.

Jam buka dan harga berubah tanpa pemberitahuan, dan warung kecil kadang tutup tanpa mengumumkan apa pun.

0811-147-797