Kembali ke Jelajah Madura

Budaya · Madura

Rokat Tase', perahu yang didandani untuk dilepas ke laut

Selamatan nelayan pesisir Madura. Sesaji dinaikkan ke perahu, dilarung ke tengah, dan sebelum itu ada tahlil dan khataman.

Perahu nelayan berhias bendera merah putih, umbul-umbul, dan balon berlayar di laut dangkal saat Rokat Tase'
Fotonya dipotong jadi mendatar dari aslinya yang tegak. Foto Revaiasha (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Dua perahu nelayan kayu di laut lepas, satu mengibarkan bendera di tiangnya
Perahu nelayan Madura di hari biasa, tanpa hiasan. Foto Ivuvisual (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Perahu kayu tradisional Madura berhaluan tinggi di air dangkal menjelang senja
Perahu kayu jati khas Madura, panjangnya sekitar empat meter. Foto Ivu Fajar Samsumar (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.

Rokat dalam bahasa Madura artinya selamatan, dan tase' artinya laut. Digabung, namanya menjelaskan dirinya sendiri: selamatan untuk laut, dikerjakan orang yang hidupnya bergantung padanya.

Kamu akan menemuinya di kampung nelayan di keempat kabupaten Madura, dari Bangkalan sampai Sumenep, dengan susunan acara yang mirip dan perincian yang berbeda-beda.

Yang dibaca sebelum apa pun diturunkan ke air

Bagian ini sering terlewat waktu Rokat Tase' diceritakan sebagai ritual sesaji, padahal justru bagian terpanjangnya. Acara dibuka dengan doa bersama, tahlil, zikir, dan di banyak tempat khataman Al-Qur'an.

Barulah sesudah itu sesaji disiapkan. Isinya hasil bumi dan hasil laut: ketupat dan lepet, buah-buahan, kepala hewan pada sebagian tradisi, kadang kembang. Semuanya dinaikkan ke perahu kecil atau miniatur kapal, lalu dilarung ke tengah laut.

Perahunya dihias, dan itu bukan tambahan

Perahu yang ikut mengarak dihias bendera, umbul-umbul, dan rumbai sampai badannya nyaris tertutup. Rombongan berangkat bersama-sama, dan dari pantai yang terlihat barisan warna yang bergerak menjauh.

Sesudah pelarungan, acaranya berubah jadi hajatan kampung: makan bersama, kadang pertunjukan. Bunyi yang paling sering mengiringinya saronen, dan di beberapa tempat ul-daul ikut turun ke jalan.

Kapan digelar

Tidak ada satu tanggal yang berlaku untuk seluruh Madura. Sebagian kampung menggelarnya pada bulan Suro, sebagian mengikuti musim tangkapan, sebagian lagi menyesuaikan kesiapan warganya sendiri.

Artinya kalau kamu ingin menonton, satu-satunya cara yang bisa diandalkan bertanya di kampungnya, bukan mencari jadwal.

Yang perlu dipahami kalau kamu datang

Rokat Tase' pernah dan masih jadi bahan perbincangan soal hubungan antara adat dan agama. Yang berlaku di lapangan biasanya tidak sesederhana perdebatannya: di banyak kampung ritualnya sudah lama berjalan berdampingan dengan doa dan bacaan Al-Qur'an, dan warganya tidak merasa sedang memilih salah satu.

Yang jelas ini acara kampung, bukan pertunjukan berkarcis. Ikut berdiri di pinggir boleh, dan orang Madura umumnya senang ditanya. Mulai saja dengan ta' langkong, yang artinya permisi.

Kalau kamu sudah membaca Nyadar, susunannya akan terasa familier. Yang satu selamatan untuk garam, yang satu untuk laut, dan keduanya dikerjakan orang yang penghasilannya ditentukan cuaca.

0811-147-797